Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 56 Siluet


__ADS_3

Di kediaman rumah baru Erika


...Erika terlihat tengah sibuk membereskan barang barangnya, Erika dan Iriana sudah tiga hari pindah di perumahan yang terletak di jalan anggrek namun karena kemarin Erika belum sempat membereskan seluruh barang barangnya jadilah ia membereskannya hari ini....


...Erika menata semua perabotan di dalam rumah sedemikian rupa, kursi dan juga hiasan dinding pun tidak luput dari perhatiannya....


...Setelah lama berkutat dengan perabotan Erika kemudian keluar berniat untuk membersihkan rumput rumput liar di halaman untuk Erika tanami bunga bunga kesukaannya....


Erika keluar dengan membawa berbagai perlengkapan untuk berkebun, ketika Erika sudah berada tepat di halaman rumahnya dan bersiap untuk mencabut rumput liar tiba tiba Erika menangkap sebuah bayangan siluet orang yang dikenalnya sedang masuk kedalam rumah tepat didepan rumah miliknya.


Deg deg deg deg


Jantung Erika berpacu sangat kencang kala siluet itu semakin terlihat jelas di matanya.


" Mas Iskandar" ucap Erika dengan terbengong.


...Erika memang tidak melihatnya secara gamblang yang Erika lihat hanya sebatas punggung saja namun meski begitu Erika tetap yakin bahwa pemilik punggung tersebut adalah Iskandar mantan suaminya....


" Tidak mungkinkan mas Iskandar ada di sini? sudahlah mungkin ini hanya halusinasi ku saja." ucap Erika meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang dilihatnya salah.


...Disaat Erika tengah bengong memikirkan siluet barusan dari dalam rumah Iriana muncul menghampiri ibunya dengan membawa segelas lemon thea kesukaan Erika....


" Ada apa ma?" ucap Iriana yang sontak langsung mengejutkan Erika.


" eh kamu sayang, tidak ada mama hanya sedang melihat rumah tetangga kita di depan itu." ucap Erika


" ohh bukannya itu kosong ya ma soalnya setahu Iriana rumah itu sudah lama tidak di tempati atau mungkin ada pemilik baru yang datang untuk melihat." ucap Iriana acuh tak acuh sambil menyerahkan gelas berisi lemon thea kepada Erika.


...Erika kemudian meneguk minuman itu hingga tidak tersisa....


" Ya mungkin itu pemilik baru " ucap Erika


" Ada apa sih sebenarnya ma, kenapa wajah mama seperti melihat hantu saja." ucap Iriana sambil terus memperhatikan Erika.


" Tidak, hanya saja mama seperti tidak asing dengan pemilik baru rumah itu." ucap Erika namun dengan wajah sendu.

__ADS_1


" Mama yakin?" tanya Iriana lagi


" Entahlah cepat atau lambat semua akan terbuka bukan" ucap Erika sambil terus menenangkan pikirannya yang kacau karena melihat bayangan Iskandar tadi.


...........................


Sementara itu di mansion milik Revan


Pagi itu Reina lagi lagi terbangun karena perasaan mual yang sudah diujung. Reina memuntahkan seluruh isi perutnya dengan di temani Revan yang selalu setia di sebelahnya.


" Apa sudah atau masih mau muntah lagi?" ucap Revan sambil terus memijat tengkuk Reina.


" Sudah cukup tapi beri aku waktu 5 menit dulu untuk istirahat van" ucap Reina dengan bersandar di dinding kamar mandi dengan kaki selonjoran.


...Revan yang melihat Reina selonjoran ikut mendudukkan pantatnya ke lantai kamar mandi dan bersandar di sebelah Reina....


" Kau tahu Reina ini adalah pertama kalinya aku merasakan sebagai suami siaga dalam menangani istrinya yang sedang hamil." ucap Revan sambil menatap lurus ke depan.


" Pertama kali? lalu Saina?" ucap Reina dengan hati hati takut menyinggung perasaan Revan.


" Lalu kenapa kamu mempertahankan Saina van jika itu membuatmu sakit" tanya Reina sambil sesekali menoleh ke arah Revan.


" Ya aku akui itu sangat sakit, awalnya aku mengambil hak asuh Saina karena aku ingin membalas perbuatan Iriana padaku namun seiring berjalannya waktu melihat pertumbuhan Saina, tawa Saina, ucapan pertama kali Saina yang menyebutku papa membuatku begitu tersentuh hingga rasa benci yang aku pupuk dari Saina bayi perlahan mulai memudar dan berganti dengan rasa sayang, aku benar benar tulus menyayanginya saat ini tidak ada lagi kata balas dendam yang dulu sering ku katakan kini yang ada hanya lah rasa sayang dan tulus yang kuberikan kepada Saina." ucap Revan dengan nada yang lirih namun mampu membuat mata Reina berkaca kaca.


" Kamu orang baik van itu sebabnya rasa balas dendam yang sedari awal mengakar perlahan memudar ketika melihat tingkah polos Saina. Kau tahu van Saina itu anugrah dari Allah jadi tidak ada hubungannya dengan perbuatan Iriana jadi ikhlaskan van jangan memendamnya terlalu lama." ucap Reina sambil menyentuh bahu Revan dan mengelusnya perlahan.


Revan yang merasakan sentuhan Reina langsung menoleh dan menatapnya dengan senyuman seperti menyimpan sesuatu.


" Btw Rein jika kamu terus melakukan ini kamu bisa membangkitkan sesuatu yang lain." ucap Revan dengan tersenyum miring.


Reina yang melihat wajah aneh Revan kemudian memundurkan kepalanya sedikit dan menatap Revan dengan penuh tanda tanya.


" Membangkitkan apa?" ucap Reina dengan wajah yang polos menatap ke arah Revan.


...Revan yang melihat wajah polos Reina seketika tertawa sedangkan Reina yang ditertawakan semakin kebingungan, melihat Reina yang semakin bingung Revan kemudian menunjuk juniornya di bawah, Reina yang mengikuti arah tunjuk Revan wajahnya langsung merah seperti kepiting rebus....

__ADS_1


" Revvvvvvannnnn kenapa kamu mesum sekali." ucap Reina dengan wajah yang sudah memerah karena malu.


" hahahahaha Reina Reina kamu yah, tentu aku tidak akan melakukannya sekarang karena usia kandungan mu masih muda aku juga sayang dengan Revan junior mana bisa aku menjenguknya sekarang" ucap Revan dengan diselingi tertawa karena melihat tingkah malu malu Reina.


" Revan hentikan, dasar mesum " ucap Reina sambil menutup telinganya.


Revan yang melihat kelakuan Reina semakin tertawa kencang baru kali ini ia melihat wanita sepolos Reina.


Setelah puas tertawa Revan kemudian menatap kembali Reina.


" Apa kamu sudah tidak mual? ayo kita sarapan dulu lalu minum obatmu " ucap Revan sambil bangkit berdiri dan membantu Reina untuk ikut bangkit.


Revan menuntun Reina secara perlahan kemudian mendudukkannya di kasur.


" Aku akan meminta mbok yem memasakkan bubur untukmu " ucap Revan kemudian melangkah pergi


" Van...." ucap Reina yang memanggil Revan ketika Revan berada tepat di pintu kamar.


Revan langsung menghentikan langkahnya dan menatap Reina.


" Iya kenapa Rein?"


" Aku mau bubur mang Odi yang di depan taman komplek rumahku yang waktu kita ketemu itu, boleh ya." ucap Reina tiba tiba yang langsung membuat Revan tersenyum.


" Kamu lagi ngidam Rein? tentu, aku akan menyuruh ojol untuk mengantarnya kesini." ucap Revan dengan tersenyum.


" No, aku ingin kamu sendiri yang membelinya." ucap Reina dengan nada lirih namun masih bisa di dengar oleh Revan.


" Ha ? kamu yakin jarak mansion ini dan taman lumayan lama loh bahkan hampir 40 menitan, kamu yakin bisa menunggu selama itu?" ucap Revan lagi.


" Yakin asal kamu yang membelinya." ucap Reina dengan penuh keyakinan.


Revan yang mendengar hal itu lantas menghela nafas panjang.


" Jadi ini rasanya ketika istri ngidam sesuatu, hem apa boleh buat demi Revan junior aku bersedia melakukannya." ucap Revan dalam hati sambil mengangguk setuju dengan permintaan Reina.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2