Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 100 Semua orang pernah terpuruk pada masanya


__ADS_3

...Revan lantas memarkirkan mobilnya ketika sampai di pantai D salah satu wisata favorit bagi famili maupun pasangan untuk menghabiskan waktu bersama baik di hari weekend maupun hari hari biasa....


...Sudah lama sekali Reina tidak pergi ke pantai sehingga membuatnya begitu excited ketika Revan berinisiatif mengajaknya ke pantai....


" Ayo van kita ke sana" ajak Reina sambil menunjuk ke arah bibir pantai.


" Oke"


...Revan dan Reina lantas berjalan mendekat ke arah bibir pantai, Reina begitu menikmati kala air datang menyapu kakinya sedangkan Revan yang melihat Reina tertawa dengan gembira lantas mengambil ponsel di sakunya dan mulai mengabadikan momen tersebut....


Reina yang sadar dirinya sedang menjadi obyek foto, lantas langsung menatap ke arah Revan.


" Revan.... apa kau hanya akan memotret ku diam diam? " ucap Reina kala mendapati suaminya tengah memotretnya secara diam diam.


" Lalu aku harus apa? aku begitu memuja istriku hingga aku ingin mengabadikan setiap momen bersamanya" ucap Revan yang lantas membuat hati Reina begitu berbunga mendengarnya.


...Reina lantas mendekat ke arah Revan kemudian mengambil ponsel di tangan Revan dan langsung merubahnya ke mode layar depan....


" Kenapa harus sendiri jika berdua lebih baik" ucap Reina sambil tersenyum kemudian mencium pipi Revan dan memencet tombol di layar ponsel Revan.


" Bagaimana? bukankah hasil jepretan ku tidak terlalu buruk?" ucap Reina sambil tersenyum ke arah Revan.


Revan lantas sedikit menunduk dan mengelus perut Reina yang mulai membuncit itu.


" Nak bukankah ibumu sedikit nakal? jangan salahkan ayah kalau ayah menjadi semakin menggilai ibumu" ucap Revan sambil tersenyum kemudian mencium perut Reina sekilas sedangkan Reina hanya tersenyum sambil terus bersyukur karena memiliki Revan di sampingnya.


...Sementara itu dari arah belakang terdengar suara asing yang menyapa keduanya....


" Pak Revan?" ucap seorang wanita yang ternyata adalah salah satu pegawai Revan di perusahaannya.


" Oh Anita, apa kamu juga sedang berlibur disini?" tanya Revan hanya untuk sekedar basa basi pada karyawannya.


" Iya pak, bapak sendiri kesini bersama...." ucap Anita namun tergantung karena bingung harus bagaimana mengatakannya.


" Oh ya kenalkan ini istri saya" ucap Revan dengan bangga sambil merangkul pundak Reina.

__ADS_1


" Hai ..." ucap Reina dengan tersenyum ramah ke arah Anita


" Bukankah istri pak Revan Iriana ya? kenapa jadi Reina? wajahnya sih mirip tapi..... ah sudahlah mungkin aku yang salah mengingatnya" ucap Anita dalam hati sambil menatap bingung ke arah Revan dan Reina.


" Nit?" ucap Reina yang bingung melihat Anita yang tiba tiba melamun sambil menatapnya dan Revan dengan bingung.


" Eh iya maaf saya jadi melamun, silahkan pak Revan lanjutkan saya ke sana dulu" ucap Anita dengan sedikit menunduk hormat kemudian melangkah pergi meninggalkan Revan dan Reina.


Reina menatap kepergian Anita dengan bingung lalu berganti menatap Revan dengan penuh tanda tanya.


" Van...." panggil Reina tiba tiba sambil menggandeng tangan Revan dan mengajaknya untuk kembali berjalan menyusuri pantai.


" Kenapa Rein" ucap Revan sambil sesekali menatap ke arahnya.


...Reina sebenarnya tidak enak menanyakan hal ini kepada Revan, Reina takut bahwa ia akan mengorek terlalu dalam luka lama Revan hanya saja melihat tatapan Anita dan tanggapannya saat Revan mengatakan Reina adalah istrinya semakin membuat Reina yakin dengan prasangkanya....


" Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Reina dengan hati hati


...Melihat Reina dengan wajah yang serius membuat Revan yakin pertanyaan Reina kali ini mungkin akan mengungkit tentang masa lalunya ditambah lagi pertemuannya dengan Anita barusan semakin membuat Revan yakin akan hal itu....


" Ada apa Rein?" ucap Revan sambil meletakkan anak rambut Reina ke belakang telinganya.


" Apa perceraian mu dengan Iriana di lakukan secara diam diam van?" tanya Reina sambil menatap lurus ke depan tanpa berani menatap manik mata Revan karena takut pikiran pikiran negatifnya menjadi kenyataan


Mendengar hal itu membuat Revan langsung menghembuskan nafasnya dengan panjang.


" Aku tidak bisa menyangkal pertanyaan mu kali ini Rein, karena waktu itu aku sangat terpuruk akan kepergian Iriana, dunia yang ku bangun dengan pondasi cinta dan kasih sayang harus berakhir hanya karena sebuah ketidaksetiaan, bukankah itu harga yang tidak sepadan untuk segala hal yang telah ku berikan padanya Rein?" ucap Revan dengan nada lirih namun masih bisa terdengar oleh Reina.


...Mendengar penjelasan Revan lantas membuat Reina langsung menyenderkan kepalanya di bahu Revan sambil memeluknya dari samping memberi ketenangan kepada Revan....


" Semua pernah terpuruk pada masanya van, aku pun juga pernah mengalaminya. Terkadang kehidupan berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, jadi berhentilah menyesali segalanya van, itu lebih baik karena kamu setidaknya pernah berjuang untuk Iriana." ucap Reina kemudian menatap Revan dengan tersenyum lalu mencium pipi Revan sekilas.


...Revan lantas langsung menoleh ke arah Reina kemudian balas mengecup bibir Reina dengan singkat namun beberapa kali hingga membuat Reina merona menahan malu....


" Kenapa dengan wajahmu?" tanya Revan

__ADS_1


" Apa kamu tidak melihatnya van? kita sedang di depan umum tapi kamu malah menciumku" ucap Reina dengan cemberut


...Mendengar ucapan Reina, Revan lantas menoleh ke kanan dan ke kiri melihat keadaan sekitar kemudian tersenyum....


" Biar saja, mereka di sini kan ngontrak jadi kita nikmati saja" goda Revan sambil terkekeh geli menatap ke arah Reina.


" Revan..... itu benar benar tidak lucu " ucap Reina sambil memegang kedua pipinya yang merona.


" La emang iyakan kita yang bayar mereka yang ngontrak" ucap Revan lagi kemudian mencium wajah Reina satu persatu dengan gemas setelah itu menatap wajah Reina dengan terkekeh geli.


Reina yang ditatap lantas menjadi cemberut


" Ada apa lagi Rein?" ucap Revan yang melihat Reina cemberut


" Anak kita belum di cium dia juga mau van" ucap Reina yang lantas membuat gelak tawa Revan menguar di udara namun kemudian hilang terbawa angin.


" Oh anak ayah juga mau sini sini ayah cium" ucap Revan dengan gemas kemudian mulai menciumi perut Reina.


" Oh ya van habis ini kita jemput Saina yuk" ucap Reina sambil mengelus rambut Revan yang masih sibuk menciumi perutnya.


" Nanti aja ya Rein tunggu kamu sampai lahiran dulu" ucap Revan


" Jangan van itu terlalu lama, aku hanya tidak ingin Saina merasa disisihkan" ucap Reina dengan nada sendu


" Belakangan ini masalah terlalu datang bertubi tubi, apa tidak sebaiknya kita membiarkan Saina di rumah mama dulu aku hanya tidak mau psikisnya terganggu karena masalah orang tuanya." ucap Revan memberi penjelasan


" Itu jika dari sudut pandang kita, namun kita tidak pernah melihat dari sudut pandang Saina van, sudut pandang seorang anak yang masih haus akan kasih sayang orang tuanya." ucap Reina kembali membujuk Revan


...Revan menghela nafas panjang mendengar ucapan Reina, setelah Revan cermati perkataan Reina ada benarnya juga, jika Revan hanya melihat dari sisinya saja tentu itu akan sangat egois dan tidak adil bagi Saina....


" Begini saja kita lihat dulu keadaan Saina bagaimana, setelah itu baru kita putuskan solusi terbaik untuk hal ini" ucap Revan pada akhirnya.


" Aku setuju" ucap Reina dengan senyum yang mengembang


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2