Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 106 Kenapa aku tidak bisa lepas dari anak itu?


__ADS_3

...Mobil yang di kendarai Gerald melaju dengan perlahan melintasi jalanan ibu kota, tadi pagi pagi sekali Gerald pergi berkunjung ke makam ibunya karena tepat hari ini adalah hari ulang tahun sang ibu....


...Gerald menghentikan mobilnya di taman kota kemudian turun dan berjalan pelan masuk ke taman, mencari bangku dengan posisi yang sempurna untuk Gerald menenangkan diri, entahlah kenapa harus taman hanya saja hanya taman yang terlintas di pikirannya saat ini....


...Karena hari ini weekend tentu saja banyak sekali orang berlalu lalang di sekitaran taman, Gerald menatap suasana sekitar dengan helaan nafas yang terdengar berkali kali....


" Ma... Gege kangen..." ucap Gerald dalam hati sambil terus menatap sekeliling.


...Ketika Gerald sedang asyik menatap sekeliling taman dengan membayangkan kenangannya bersama sang mama tiba tiba saja sebuah bola menggelinding di dekatnya....


...Awalnya Gerald hanya melirik sekilas bola itu namun saat seorang bocah perempuan kisaran usia 5 atau 6 tahunan datang menghampiri bola tersebut fokus Gerald jadi teralih ke arahnya....


" Anak ini? main bola? kenapa aku merasa seperti...... ah bagaimana aku menjelaskannya ya..." ucap Gerald dalam hati sambil menatap ke arah anak itu.


Anak itu kemudian berjalan mendekat ke arah Gerald.


" Om mau main bola?" tanya anak itu sambil mengacungkan bola ke arah Gerald.


...Gerald yang mendengar pertanyaan anak kecil itu lantas menoleh ke kanan dan ke kiri mencari siapa yang di maksud anak kecil tersebut....


" Siapa? aku?" tanya Gerald sambil menatap ke arah anak kecil tersebut.


...Anak kecil tersebut lantas tersenyum mengangguk kemudian melangkah mendekat dan langsung duduk di samping Gerald....


" Ya tentu om la, aku tadi melihat om bersedih mangkanya aku datang dan menghibur om" ucap anak tersebut dengan gaya bicara khas anak anak.


" Anak ini..." ucap Gerald dalam hati ketika mendengar perkataan anak kecil tersebut.


...Entah kenapa Gerald merasa sangat tenang dan damai ketika bersama anak kecil tersebut, padahal sedari tadi tidak ada yang mereka berdua lakukan hanya duduk diam dengan sesekali mengobrol namun itu terasa seperti sangat menyenangkan bagi Gerald, beban yang di tanggungannya seakan sedikit terangkat kala menatap anak kecil tersebut....


" Om jangan sedih ya.... kalau om sedih nanti om jadi jelek dan tidak ada yang mau berteman dengan om " ucap anak kecil tersebut sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya.

__ADS_1


...Tidak ada tanggapan apapun dari Gerald namun dia tetap menatap anak kecil tersebut dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan secara detail....


...Saat Gerald sedang mencerna perasaan yang sedang muncul dengan sendirinya, tiba tiba dari arah kejauhan terdengar suara seorang wanita paruh baya setengah berteriak memanggil nama seseorang....


...Mendengar hal itu anak kecil itu lantas bergegas turun dari bangku taman bersiap untuk pergi namun berhenti sejenak dan menatap ke arah Gerald cukup lama....


" Aku pergi dulu ya om, om jangan bersedih lagi ya...." ucap anak kecil tersebut kemudian beranjak pergi dari tempatnya.


...Dari arah kejauhan muncul wanita paruh baya langsung berlari ke arah anak kecil tersebut dan langsung bersimpuh memeluknya....


" Saina.... glany mencari mu sedari tadi, kamu dari mana saja? glany khawatir kamu akan hilang" ucap wanita tersebut yang tak lain adalah Lila


" Saina hanya ke sana glany, om itu tampak sangat sedih Sain hanya ingin menghiburnya saja." ucap Saina sambil menunjuk ke arah Gerald tengah duduk.


...Gerald hanya melihat interaksi keduanya seakan enggan untuk mengalihkan matanya menatap interaksi Lila dan Saina....


...Sedangkan Lila yang mendengar perkataan Saina lantas menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Saina kemudian kembali menatap cucunya lagi....


Gerald menatap kepergian Lila dan Saina dengan tatapan sendu, entahlah Gerald juga bingung apa sebabnya, hanya saja Gerald seperti tidak ingin berpisah dengan anak kecil itu.


" Saina ya...." ucap Gerald lirih


" Kenapa aku jadi mellow begini? apa karena hari ini ulang tahun mama? aku jadi sedikit baper?" ucap Gerald pada diri sendiri sambil terus menatap ke arah Saina dan Lila hingga mereka hilang dari pandangannya.


.....................................................


...Sementara itu di sebuah mansion milik Permadi terdengar suara ******* di balik kamar utama yang menambah suasana di pagi hari semakin terlihat menyenangkan bagi dua insan yang sedang bercinta....


" Bagaimana sayang? apa kau menyukainya?" tanya Erika ketika keduanya sedang bercumbu menikmati penyatuan mereka.


...Mendengar hal itu Permadi lantas tersenyum dan mengusap rambut panjang milik Erika....

__ADS_1


" Aku menyukainya, namun bisakah kau mempercepat ritmenya sayang? bukankah ini terlalu pelan?" ucap Permadi sambil menatap ke arah Erika yang tengah berada di atasnya.


" Sialan laki laki tua ini kenapa hasratnya sangat besar? aku selalu kewalahan menghadapinya, benar benar tidak ada puasnya dia, kalau gak karena terpaksa ogah aku melakukannya." ucap Erika dalam hati setengah kesal akan Permadi yang selalu saja bernafsu ketika tengah bercumbu dengannya.


...Permadi yang melihat Erika setengah melamun lantas tangannya sedikit bermain di antara dua aset kembar milik Erika yang tentu saja membuat Erika terkejut karena gerakan Permadi....


" Kenapa kamu melamun sayang? apa ini karena Reina? atau Revan?" tanya Permadi sambil tangannya terus bermain menjelajahi setiap lekuk tubuh milik Erika.


...Permadi benar benar mengagumi tubuh milik Erika meski ia sudah masuk ke usia kepala 5, namun bentuk tubuhnya tetap terjaga dengan baik dan indah sesuai tempatnya, itulah yang membuat Permadi begitu tergila gila kepada Erika tanpa tahu Erika hanya memanfaatkannya saja sedari pertemuan pertama mereka hingga kini....


" Tidak ada, hanya saja kenapa kamu tidak bergerak juga?" ucap Erika sambil mempercepat ritmenya.


Mendengar ucapan Erika lantas membuat Permadi diam sejenak seperti tengah berpikir.


" Kenapa?" tanya Erika


" Tunggu lah sejenak hari ini adalah hari ulang tahun ibunya Gerald setidaknya tunggu sampai Gerald sedikit lengah dan tidak memantau pergerakan kita lagi" ucap Permadi sambil memainkan rambut milik Erika.


...Sedangkan Erika yang mendengar hal itu lantas menghentikan hentakannya dan menatap Permadi dengan sedikit kesal....


" Apa kau takut pada anakmu sendiri?" tanya Erika


" Tentu saja tidak" ucap Permadi dengan cepat


" Hanya saja aku tahu betul sifat anakku bagaimana, dia bisa lepas kendali jika kita memaksakan menyentuh apa yang telah di larangnya" ucap Permadi


" Bukankah kau orang tuanya? harusnya kau lebih bisa mengontrolnya bukan malah sebaliknya." ucap Erika dengan jengkel kemudian turun dari atas tubuh Permadi dan berpindah berbaring di sebelahnya.


" Kalau begini sih namanya sia sia saja aku mau jadi j*l**gnya" ucap Erika dalam hati dengan kesal


Bersambung?

__ADS_1


__ADS_2