
...Reina menatap Revan dengan wajah yang sendu tangannya reflek mengusap perutnya yang masih datar....
" Apapun yang terjadi jangan salahkan ayah ya nak, ayah tidak bersalah hanya saja ibu yang datang diantara kisah mereka yang belum usai" ucap Reina dalam hati dengan raut wajah sedih.
...Setelah makan malam Reina dan Revan memutuskan pulang ke mansion, tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka Reina dan Revan enggan untuk memulai pembicaraan keduanya diliputi dengan rasa kecanggungan bahkan hingga sampai di rumah keduanya tetap diam Revan langsung melangkah masuk menuju ruang kerjanya sedangkan Reina mengajak Saina masuk ke kamarnya untuk segera pergi tidur....
Ketika Saina sudah masuk ke dalam pulau impiannya Reina merebahkan dirinya di sebelah Saina kemudian menatap langit langit dengan pikiran yang berkelana.
" Hemm mungkin aku yang salah karena datang ketika cerita mereka belum usai." ucap Reina kemudian sambil menarik nafas panjang.
" Benar kata orang ya, jangan mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya atau kamu akan terus tersakiti dan di sinilah aku sekarang terjebak diantara kisah Revan dan Iriana. Nak apapun yang terjadi ibu akan tetap bersamamu nak ada ayah ataupun tidak kita jalani bersama ya nak." ucap Reina lagi pada diri sendiri sambil mengusap perutnya kemudian perlahan memejamkan mata dan tertidur di kamar Saina.
Sementara itu di ruang kerja milik Revan.
...Revan hanya duduk diam sambil menatap ke arah jendela kaca yang terbuka dengan angin malam yang berhembus dingin hingga menusuk kulit Revan namun tidak dihiraukannya Revan hanya diam dan terus menatap kosong ke arah depan....
Revan kemudian membuka laci kecil pada meja kerjanya dan mengambil selembar foto yang menunjukkan wajah Iriana sedang tersenyum bahagia.
" Apa aku salah karena memisahkan seorang ibu dan anaknya, bahkan kini Saina begitu membenci Iriana. Apa aku terlalu kejam?" ucap Revan sambil memandangi foto Iriana.
...Tidak ada jawaban apapun di sana hanya ada keheningan yang menjawab Revan. Angin malam yang dingin semakin menusuk kulit Revan namun Revan tidak mengindahkannya sama sekali ia terus menatap foto Iriana dengan penuh penyesalan....
" Aku sudah melepaskan mu Iriana bahkan aku sudah melupakanmu, tapi kenapa setelah sekian lama kamu kembali lagi ? apa sebenarnya tujuan mu?" ucap Revan pada dirinya lagi.
...Revan kemudian bangkit dan berjalan mendekat ke arah jendela mengambil rokok kemudian menyesapnya lagi dan lagi kepulan demi kepulan menyebar memenuhi ruangan kerjanya hingga tidak terhitung berapa banyaknya puntung rokok yang sudah berserakan memenuhi asbak milik Revan....
Malam ini menjadi malam yang panjang bagi Revan, ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, tidak ada yang Revan lakukan sepanjang malam hanya merokok tanpa melakukan apapun hingga matahari terbit.
****
...Pagi itu Reina tiba tiba terbangun karena tangan Saina yang menimpa muka Reina cukup keras sehingga membuatnya terkejut dan langsung bangun....
__ADS_1
" Eh aku ketiduran disini? apa Revan mencari ku?" ucap Reina sambil menguap kemudian bangkit dan pergi mencuci muka.
Setelah mencuci muka Reina berniat untuk pergi mandi kemudian memasak untuk sarapan pagi.
Reina melangkahkan kakinya pergi ke kamar untuk lekas mandi.
cklek
Suara pintu kamar terbuka, namum ketika Reina masuk kedalamnya di sana ia tidak menjumpai Revan di mana pun.
" Loh Revan kemana? apa dia sudah berangkat bekerja? tapi ini kan masih jam 5 pagi mana mungkin Revan berangkat sepagi ini." ucap Reina dengan bingung namun mencoba acuh dan melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
...Setelah selesai dengan ritual mandinya Reina langsung turun menuju ke dapur namun ketika melewati ruang kerja Revan ia mengerutkan keningnya karena melihat pintu yang hanya terbuka seperempat saja....
" Apa Revan ada di dalam? kenapa pintunya terbuka sedikit." ucap Reina sambil melangkah mendekat kemudian membuka pintu tersebut untuk melihat apakah Revan ada di dalam.
...Ketika pintu sudah terbuka sepenuhnya kepulan asap rokok langsung menyeruak dan memasuki indra penciuman Reina....
Hoek hoek....
Reina kemudian langsung berlari kecil ke wastafel dapur dan langsung memuntahkan isi perutnya.
Revan yang memang terjaga sejak semalam begitu mendengar suara mual dari Reina lantas langsung bangkit dan menghampirinya.
...Revan kemudian dengan reflek langsung memijat tengkuk Reina, sedangkan Reina yang memang mual karena bau asap rokok yang mengepul di ruang kerja Revan ketika Revan mendekat dan memijat tengkuknya bukannya reda malah semakin mual....
" Jangan mendekat van kamu membuatku mual" ucap Reina yang beberapa detik kemudian kembali muntah.
Revan yang mendengar hal itu mengerutkan keningnya bingung.
" Aku hanya membantumu, apanya yang salah" ucap Revan
__ADS_1
" Tidak perluuuu"
Hoek hoek hoek
...Revan semakin bingung karena Reina terus muntah apalagi ketika Revan berada di dekat Reina, ia jadi tidak tega melihat wajah pucat Reina dengan keringat yang sudah membasahi rambut serta keningnya....
Mbok yem yang melihat Reina terus muntah akhirnya mengambil alih dan memijat tengkuk Reina secara perlahan.
" Biar saya saja tuan, sebaiknya anda bebersih saja sepertinya nona Reina mual karena mencium bau rokok di baju anda yang menyengat." ucap mbok yem dengan hati hati takut menyinggung Revan sambil tangannya terus memijat tengkuk Reina.
...Revan yang mendengar hal itu langsung sedikit mundur kemudian mencium lengan kanan dan kirinya untuk memastikan ucapan mbok yem....
" Astaga ini benar benar menyengat, sudah berapa kotak yang aku habis kan dalam semalam hingga bau tubuh serta bajuku di penuhi bau rokok." ucap Revan dalam hati kemudian langsung bergegas menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
...Reina benar benar sudah kehabisan tenaga karena terlalu banyak muntah bahkan bajunya sudah basah dengan keringat, mbok yem kemudian menuntun Reina duduk di sofa dan menselonjorkan kakinya setelah itu pergi membuatkan wedang jahe untuk Reina....
...Reina memijat perlahan pelipisnya yang berdenyut, semenjak hamil entah mengapa Reina lebih sensitif terhadap bebauan. Reina juga tidak menyangka bahwa bau asap rokok Revan benar benar mengaduk aduk perutnya....
Reina memejamkan matanya cukup lama sambil terus memijat pelipisnya sampai kemudian Revan datang lagi dan mengusap perut datar Reina dengan lembut.
" Jangan terlalu menyiksa ibu ya nak, kasihan sekali ibu kalau setiap hari begini, jangan nakal ya nak" ucap Revan kemudian mencium perut Reina sekilas.
Reina yang mendapat perlakuan itu hanya diam saja sambil terus memijat pelipisnya.
" Apakah masih mual Rein? pusing ya? apa kita ke rumah sakit sekalian kita check kandungan?" ucap Revan sambil mengelus rambut Reina secara perlahan.
...Reina yang mendengar pertanyaan demi pertanyaan khawatir dari Revan seketika membisu, Reina benar benar tidak menyangka secepat ini perubahan sikap Revan padanya. Sebentar dingin, sebentar marah, sebentar manja, bahkan tiba tiba sangat manis. Apa yang sebenarnya sedang di lakukan Revan pada Reina, apakah Revan sedang berlakon?Reina terus menerus memikirkan jawabannya tapi tetap tidak menemukan apapun hingga tak terasa air matanya jatuh di sudut matanya....
" Kamu anggap apa aku van, kenapa sikapmu selalu berubah ubah? apa aku hanya mainan mu van? andai kamu tahu rasanya van, sakit benar benar sakit van" ucap Reina dengan air mata yang merembes melewati sudut matanya.
Bersambung
__ADS_1