
...Setelah prosesi ijab qabul selesai acara selanjutnya adalah ramah tamah tidak ada panduan khusus hanya saja kedua mempelai pria dan wanita saling bertegur sapa kepada para tamu atau yang lebih sering kita sebut dengan basa basi....
...Namun bukannya Reina dan Revan melanjutkan susunan acara yang ada keduanya malah tampak sibuk dengan urusan masing masing. Reina terlihat sedang menggendong Saina menuju ke tempat makanan tersedia karena sedari tadi Saina sudah merengek meminta cake yang tersusun cantik di sana dengan berbagai macam dan bentuk....
...Sedangkan Revan ia asik berbincang dengan Rian....
" Mami mami mau yang pink." Tunjuk Saina pada cake berwarna pink dengan toping keju di atasnya.
" Ia gembulnya mami... " Ucap Reina sambil mencubit pipi gembul Saina saking gemesnya.
" Mami apa itu gembul?" Tanya Saina dengan nada penasaran.
Reina yang di tanya bingung ingin menjawab apa pertanyaan Saina barusan.
" Gembul itu pipi Saina yang berlebihan hahahaha." Ucap Reina sambil tertawa
" Ih mami, kata glany kalau ketawa gak boleh besal besal nanti lalat bisa masuk telus kesadak" ucap Saina dengan polosnya.
Reina yang mendengar itu semakin di buat gemes dengan tingkah laku Saina yang sangat polos.
...Sementara itu Revan yang kini tengah berbincang dengan Rian perhatiannya teralihkan tak kala melihat Reina dan Saina asyik bersenda gurau sambil mengambil beberapa cemilan....
" Loe beruntung ya van bisa mendapatkannya." Ucap Rian yang juga turut menyaksikan kedekatan Reina dan Saina.
...Revan yang mendengar perkataan sahabatnya itu lantas langsung menolehnya dengan satu alis yang terangkat....
" Jika gue ketemu dia dulu sebelum lo, pasti udah gue kawinin dia." Ucap Rian asal.
" Enak aja lo, belum tentu juga dia mau." Ucap Revan menimpali yang di balas gelak tawa oleh Rian.
" Bukankah dia mirip denganmu van?" Ucap Rian dengan nada serius tiba tiba.
" Maksud mu?" Ucap Revan dengan bingung
__ADS_1
" Iya kalian berdua mirip, sama sama jatuh cinta pada gadis gembul yang lucu meski kalian tau gadis itu bukan darah daging kalian. Kalau aku jadi kalian belum tentu aku bisa menerima dan memberinya kasih sayang layaknya anakku sendiri." Ucap Rian
" Kecilkan suaramu yan, tidak ada yang tau selain kamu jadi ku harap mulut embermu itu tidak terbuka ke mana mana." Ucap Revan memperingatkan Rian.
" Jika aku ingin sudah dari dulu ku buka, untuk apa aku menunggu 5 tahun lamanya ha? Tidakkah kau berpikir." Ucap Rian sambil berlalu menuju ke arah Reina dan Saina berada.
" Apa aku dan dia benar benar sama? " Ucap Revan pada diri sendiri sambil menatap kepergian sahabatnya itu.
Rian berjalan perlahan mendekati Saina dan Reina yang tengah asik bercanda sambil memakan cemilan yang mereka ambil tadi.
" Hai Rein" ucap Rian memulai pembicaraan
" Oh hai " jawab Reina dengan tersenyum
"Kenalkan aku Rian sahabatnya Revan" ucap Rian dengan santai
" Sahabat? Ternyata dia juga punya sahabat rupanya " ucap Reina dengan polosnya
" Bukankah memang begitu" ucap Reina dengan santai
" Kau sangat lucu nona, lagi pula apa yang kau sukai dari si datar hingga kau menikahinya" Ucap Rian
" Aku menyukai si gembul ini tidakkah Saina sangat lucu." Ucap Reina sambil membelai pipi gembul Saina sedangkan Saina hanya tersenyum mendapat perlakuan itu dari Reina kemudian melanjutkan makannya lagi.
" Kalian berdua bener bener mirip." Ucap Rian lagi sambil geleng geleng kepala.
" Maksudnya " tanya Reina yang tidak mengerti ucapan Rian barusan
" Sudahlah lupakan "
...Obrolan demi obrolan terus bergulir antara Rian dan Reina seakan dapat menemukan bahan apapun untuk menjadi topik pembicaraan hingga tak terasa sudah hampir sore hari, satu persatu kerabat sudah meninggalkan tempat acara. Sedangkan Saina setelah menikmati cemilan ia malah tertidur di pangkuan Reina....
" Dah sore nih aku balik dulu ya, lain kali kita lanjut lagi." Ucap Rian berpamitan pada Reina kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
Reina kemudian menggendong Saina ingin membawanya ke kamar namun di cegah oleh Lila.
" Sini biar mama saja kamu pasti lelah kan nak, istirahat saja tidak perlu keluar untuk makan malam jika kamu lapar panggil saja bi ijah. Oh ya kamar kamu ada di lantai 2 di kamar paling ujung." Ucap Lila sambil menggendong Saina dan membawanya ke kamar.
...Reina berjalan naik ke atas menuju kamar, ketika sampai disana Reina perlahan membuka pintu kamar. Tidak ada yang spesial dari kamar tersebut hanya saja terkesan sangat manly untuk ukuran kamar tamu....
" Hmm aku tidak salah masuk kamar kan? Masak kamar tamunya seperti kamar cowok, tunggu apa salahnya dengan itu. Reina Reina kau saja yang terlalu banyak berpikir." Ucap Reina sambil kemudian berjalan memasuki kamar tersebut.
...Reina yang memang merasa badannya sudah sangat lengket kemudian masuk ke kamar mandi untuk berendam dan merileksasikan tubuhnya. Aroma vanila menguar memenuhi ruangan di padu dengan lilin aroma terapi menambah kesan yang sangat menenangkan dan sangat cocok untuk merelaksasikan pikiran sejenak....
...Reina berendam cukup lama di sana, ia menikmati sensasi ketenangan yang jarang sekali ia dapatkan. Setelah selesai Reina beranjak untuk keluar dari kamar mandi namun ia urungkan karena Reina baru teringat bahwa ia tidak membawa baju ganti sama sekali....
" Astaga bajuku? Kenapa kau sangat ceroboh sekali. Mana mungkin aku tidur semalaman memakai jubah mandi bisa masuk angin aku." Ucapnya pada diri sendiri
Reina terus mondar mandir sambil berpikiri sampai kemudian ia menemukan sebuah ide.
" Apa aku cari di walk in closet ya sepertinya tadi ada banyak sekali baju." Ucapnya lalu keluar dari kamar mandi tanpa sadar bahwa Revan sudah duduk di ranjang sambil memangku laptopnya.
" Apa yang gadis itu lakukan? Apa dia ingin menggodaku." Ucap Revan dalam hati
...Manik mata Revan terus mengikuti pergerak Reina tanpa bersuara laptop yang tadinya ia gunakan untuk mengechek data data perusahaan kini tak lagi ia perhatikan, fokusnya kini hanya mengarah kepada Reina. Tetes demi tetes air yang mengalir dari ujung rambut Reina membuat Revan terus menerus menelan saliva nya kasar hasratnya sebagai pria benar benar di uji oleh gadis ini apa lagi dengan bentuk tubuh Reina yang sangat **** menurut Revan dimana tidak terlalu kurus juga tidak terlalu gemuk namun tetap terisi pada bagian yang seharusnya. Melihat kaki jenjang Reina yang mulus terus berlari ke sana ke mari seakan akan meminta untuk di sentuh oleh Revan....
" Sial, jika terus begini aku bisa saja khilaf" ucap Revan dalam hati dengan nafas yang memburu.
...Reina yang tidak sadar akan kehadiran Revan terus berusaha mencari baju yang pas untuknya, ia membuka satu persatu lemari kaca yang berderet rapi namun tidak menemukannya, lalu ia buka lagi bagian bawah juga tidak menemukannya. Ketika Reina sudah hampir membuka semuanya ia baru menyadari satu hal penting yang ia acuhkan dari tadi....
" Ini semua perlengkapan cowok, mati aku apa aku salah masuk kamar. Tidak mungkin kan si pemilik kamar ada dibelakangku di ranjang sedang memandangiku seperti kebanyakan novel novel yang ku baca. Jelas tidak kan? " Ucap Reina pelan pada diri sendiri
...Karena rasa tegang bercampur penasaran Reina perlahan berbalik ke arah ranjang dan benar saja Reina melihat Revan sudah duduk di ranjang dengan memangku laptopnya namun dengan tatapan yang masih fokus terpaku dengannya....
" Revaaaaaaaaannnnnnnnnnn " ucap Reina ketika menyadari bahwa Revan pasti tengah berpikir kotor sambil memandanginya.
Bersambung
__ADS_1