
...Revan sangat bersyukur telah dipertemukan dengan Reina meski saat ini Revan belum mencintai Reina namun ia akan berusaha untuk mencintai nya. Reina dan Iriana tentu dua hal yang berbeda mereka seperti dua kutub yang bersebrangan namun berbeda jauh sekali, itulah yang membuat Revan semakin yakin untuk membuka hatinya pada Reina....
..."Terima kasih sudah mau menikah dengan ku, meski aku yakin kamu terpaksa melakukannya namun aku selalu melihat ketulusan mu dalam menjalani rumah tangga ini. Mulai hari ini ku putuskan untuk membuka hatiku padamu seutuhnya Reina Mentari." ucap Revan dalam hatinya lagi sambil sesekali tersenyum menatap ke arah Reina yang juga sedang tertidur di kursi penumpang....
...Ketika sudah sampai di halaman rumah, Revan menghentikan laju mobilnya kemudian beralih menatap Reina dan Saina yang tertidur pulas. Revan menggoyangkan bahu Reina dengan perlahan satu kali dua kali sampai ketiga kalinya Reina tak kunjung bangun juga....
" Sepertinya dia sangat kelelahan tidurnya saja begitu pulas. Apa aku gendong saja ya? " ucap Revan sambil menimang nimang kemudian ia bergegas turun dari mobil.
Setelah turun dari mobil Revan membuka pintu mobil di sebelah Reina dan bersiap untuk menggendong keduanya.
Saat Revan sudah memegang kaki dan tubuh Reina hendak menggendongnya tiba tiba saja...
Plakkk
...Suara tamparan keras mendarat tepat di pipi Revan. Revan yan tak siap dengan serangan yang tiba tiba langsung memundurkan kepalanya, bukan terbebas dari tamparan yang ada malah kepala Revan membentur ke bagian atas pintu mobil....
Dukk
" Awww sial" ucap Revan langsung mundur dengan gerakan tangan sebelah kanan mengelus pipi kiri yang ditampar Reina dan tangan sebelah kiri mengelus kepala yang sakit karena terbentur bagian atas pintu mobil.
" Maaf aku kira...... hehehe" ucap Reina sambil tersenyum cengengesan menatap ke arah Revan yang kesakitan.
" Bisa kah kamu untuk tidak ceroboh Rein " ucap Revan dengan menahan kesal karena kecerobohan Reina.
" Aku kira kamu mau itu... jadi karena ingat masih ada Saina tangan aku reflek nampar kamu maaf ya." ucap Reina dengan nada menyesal.
" Sudahlah aku akan membawa Saina keatas kamu masuklah." ucap Revan sambil mengambil Saina dari pangkuan Reina dan membawanya ke kamar.
Reina melangkah masuk ke dalam kemudian langsung menuju dapur dan mengambil gel kompres untuk mengompres pipi Revan.
Setelah menidurkan Saina di kamar Revan pergi ke bawah untuk mencari Reina.
" Kamu disini? apa yang kamu lakukan?" ucap Revan sambil terus berjalan mendekat ke arah Reina dan duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Reina kemudian menarik Revan agar lebih mendekat ke arahnya dan langsung mengompres pipi Revan dengan gel tersebut dengan hati hati.
" Aku minta maaf ya, lain kali aku akan lebih hati hati aku janji" ucap Reina sambil terus mengompres pipi Revan.
" Tenanglah ini hanya luka kecil bahkan juga tidak berdarah jadi tidak perlu merasa bersalah." ucap Revan sambil mengelus rambut Reina memberi ketenangan.
" Apa ini sakit " ucap Reina karena melihat bekas merah telapak tangan di pipi Revan yang membuat Reina semakin merasa bersalah.
" Tidak sakit bahkan aku masih bisa melakukan ini." ucap Revan dengan memberi kecupan singkat di bibir Reina.
" Revan aku serius" ucap Reina dengan wajah yang bersemu merah karena salah tingkah.
" Aku juga serius, apa kamu mau melanjutkannya di kamar?" ucap Revan sambil mengedipkan mata sebelah kirinya kearah Reina.
" Revvvvaaannn sejak kapan kamu jadi mesum seperti ini, sana jauh jauh dasar pria mesum." ucap Reina dengan gerakan tubuh yang geli menatap ke arah Revan.
" Ayolah Rein kali ini saja." ucap Revan sambil mengglitiki Reina dengan gemas.
...Revan terus menggelitiki Reina cukup lama hingga sampai Reina memohon pada Revan untuk menghentikannya barulah Revan berhenti dan kemudian menarik pinggang Reina agar mendekat ke arah Revan....
...Hembusan nafas keduanya terasa hangat menerpa wajah masing masing. Revan kemudian memegang tengkuk Reina dan mengarahkannya semakin dekat ke wajah Revan....
...Revan mengecup bibir Reina singkat kemudian mengecupnya lagi dan lagi, kecupan demi kecupan yang awalnya singkat berubah menjadi l*m***n yang panas, keduanya saling mematut bibir masing masing untuk membuka jalan agar bisa mengeksplor bagian mulut dan mulai menjelajahinya. Reina yang dulu pasif dalam berciuman kini berubah menjadi garang, Revan terus mengeksplor Reina bahkan tangan Revan sudah bermain nakal pada dua aset kembar milik Reina sedangkan Reina benar benar sudah hanyut dalam sentuhan Revan, ketika keduanya sedang mabuk dan jatuh pada kenikmatan Revan tiba tiba menghentikan aksinya lalu menggendong Reina ala bridal style....
" Eh tunggu kamu mau apa?" ucap Reina dengan bingung karena Revan tiba tiba menggendongnya.
" Mau melanjutkan adegan dewasa nan panas di kamar" ucap Revan dengan seringai licik kemudian berjalan menuju kamarnya.
" Tapi van tunggu dulu sebenarnya aku...." ucap Reina yang tertahan karena Revan lagi lagi mengecupnya.
" Tidak ada penolakan " ucap Revan tegas sambil membuka pintu kamar dengan tangan yang masih menggendong Reina kemudian mendorongnya dengan kaki.
Setelah pintu terbuka Revan meletakkan Reina secara perlahan di kasur dan langsung mengunci pintu kamar.
__ADS_1
Dengan bergegas Revan langsung membuka kemejanya dan membuangnya ke segala arah dan langsung naik ke ranjang menciumi Reina dengan brutal.
" Van tunggu dengerin dulu, aku..." ucap Reina lagi lagi terpotong karena Revan tiba tiba mencium bibir Reina tanpa aba aba.
Reina yang lupa akan bilang apa setelah mendapat ciuman dadakan dari Revan malah ikut terhanyut kedalam suasana penuh cinta yang di buat oleh Revan.
Reina menikmati setiap sentuhan yang Revan berikan bahkan sesekali Reina tanpa sadar menjambak rambut Revan yang semakin membuat Revan bersemangat untuk melakukannya dan tidak lupa Reina juga memberikan banyak tanda cinta di area leher milik Revan.
Ketika milik Revan sudah terlihat menegang dan bersiap untuk memasuki rumahnya Reina baru sadar akan suatu hal yang mungkin akan membuat Revan marah.
" Revan tunggu " ucap Reina sambil meletakkan tangannya lurus ke depan.
" Apa lagi Rein bukannya kau sudah melihatnya" ucap Revan sambil menunjuk si junior yang sudah mulai menegang.
" Aku sedang palang merah " ucap Reina sambil memberikan simbol x dengan ke dua tangannya.
" Palang merah apaan PMI?" ucap Revan dengan bingung karena Reina masih saja melawak di saat suasana seperti ini.
" Tamu bulanan" ucap Reina memberikan sinyal kepada Revan karena malu jika harus mengatakannya langsung.
" Iya tamu apaan" ucap Revan lagi
" Revaaaannnn maksudku itu aku sedang berhalangan alias datang bulan, apa kamu masih tidak mengerti van?" ucap Reina pada akhirnya dengan menahan emosinya.
" Oh sial, kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi Rein?" ucap Revan dengan kesal.
" Aku sudah mencoba bicara dari tadi tapi kamu malah terus menyosor ku" ucap Reina dengan mengangkat ke dua bahunya.
" Reina Reina Reina bagaimana nasib juniorku sekarang kamu benar benar keterlaluan." ucap Revan kemudian melangkah pergi menuju kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya seorang diri.
" Maaf ya van, aku janji akan menebusnya 2 minggu lagi." Ucap Reina dengan berteriak sambil tertawa melihat Revan yang tengah kesal.
Bersambung
__ADS_1