Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 15 Persyaratan yang gila


__ADS_3

" Aku tahu, maka dari itu aku memintamu untuk menjadi ibu dari anakku dan tidak memintamu menjadi istriku karena aku tahu pernikahan bukanlah sebuah permainan." Ucap Revan dengan nada santai namun menancapkan beberapa duri dihati Reina, mendengarnya langsung dari mulut Revan ternyata lebih menyakitkan dibanding dengan hanya menerka nerka hal itu.


...Lama Reina terdiam menimbang segala hal dan semua kemungkinan yang bisa terjadi, jika ia menikahi Revan sama saja ia menggali rasa sakitnya sendiri. Ketika ego menyelimuti diri Reina bayangan bayangan Saina si gadis kecil berpipi tembam dengan rambut ikalnya yang begitu manja tersenyum ceria terus berputar dikepalanya. Tidak hanya itu tawa orang tua Reina serta ancaman Gerald juga ikut terus berputar silih berganti bagai sebuah film yang terus memutar adegan demi adegan di kepalanya....


Kali ini Reina harus mengalah, banyak hal yang harus ia selamatkan selain egonya sendiri. Bukan waktunya untuk memikirkan perasaannya lagi.


" Apa salahnya berkorban, toh aku akan membentengi diriku sekuat mungkin agar tidak terjerat dalam belenggu cinta pria itu. Masih ada Ibu, ayah, dan Saina yang masih harus aku fikirkan, ayo Reina jangan egois." Ucap Reina dalam hati sambil menggigiti bibirnya sendiri.


Setelah berpikir cukup lama akhirnya Reina membuat sebuah keputusan.


" Baiklah, tapi aku menginginkan syarat dalam pernikahan ini." Ucap Reina tiba tiba yang membuat sebelah alis Revan naik ke atas tanda kebingungan akan syarat yang di minta Reina.


" Katakan" ucap Revan dengan singkat.


" Aku mau pernikahan ini di rahasiakan dan hanya ada keluarga yang datang, yang kedua jika memang kamu hanya memintaku menjadi ibu dari Saina dan bukan menjadi isteri mu maka aku meminta untuk tidak ada kontak fisik apapun diantara kita, termasuk hubungan suami istri." Ucap Reina dengan lantang ia harus mulai membentengi dirinya agar tidak terjatuh semakin dalam dan terus merugi.


Mendengar permintaan Reina Revan hanya tersenyum.


" Ohh ku kira semua perempuan menginginkan sesuatu yang mewah." Ucap Revan dengan senyum mengejek sedangkan Reina hanya terbelalak mendengar perkataan Revan.


" Kau...... Aku hanya tidak ingin Gerald tahu tentang pernikahan ini karena keselamatan kedua orang tuaku lebih penting dari apapun itu tuan Revan yang terhormat." Ucap Reina dengan sebisa mungkin menahan emosinya agar tidak keluar.


" Untuk ke dua orang tuamu aku sudah menyuruh anak buah ku untuk berjaga di sana aku bisa pastikan semuanya aman. Yang hanya perlu kamu lakukan adalah menjadi ibu untuk anakku sebaik mungkin. " Ucap Revan dengan santai.


" Ternyata respon anda sangat cepat tuan Revan Alexi Mahendra. Tenang saja aku bukan ibu yang buruk meski aku tidak pernah melahirkan seorang anak tapi bisa dipastikan bahwa anakmu nanti akan lebih menyayangiku. " Ucap Reina dengan nada sedikit mengejek karena ia sudah kehabisan kata kata ketika berbicara dengan Revan.

__ADS_1


" Ok kita lihat saja nanti, aku akan menuruti semua persyaratanmu namun semua itu harus didasari keputusanku dengan kata lain kata kataku adalah segalanya dan dilarang mencampuri urusan pribadi masing masing, jika kau setuju semingggu lagi kita akan menikah bagaimana?" Ucap Revan


" Apa apan itu... Kau fikir kau seorang dewa yang dapat mengatur segalanya ha." Sentak Reina yang tidak mengerti lagi akan persyaratan gila Revan.


" Hei nona apa bedanya dengan kau, yang meminta untuk tidak ada kontak fisik apapun itu diantara kita. Apa kau lupa bahwa aku seorang pria ha?" Ucap Revan yang tak kalah menyolot.


" Ap..a " Reina yang mendengar itu seketika terkejut ternyata persyaratan gila Revan hanya karena syarat Reina yang melarang adanya kontak fisik.


" Apa dia pikir aku seorang ****** pemuas nafsu? Dasar gila." Ucap Reina dalam hati.


" Jika kau tidak setuju dengan persyaratan ku maka detik ini pula kutarik anak buah ku untuk meninggalkan Surabaya dan kau urus saja sendiri urusanmu yang belum kelar itu dengan Gerald." Ucap Revan dengan sedikit gertakan mengingat Reina yang sulit sekali di atur.


" Apa....... Oke oke aku setuju puas." Ucap Reina dengan kesal.


" Bukankah pria ini sangat licik" ucap Reina dalam hati.


" Cepat bersiap kita akan segera pergi ke butik untuk mencoba gaun pengantin kemudian menjemput Saina ke luar dari rumah sakit." Ucap Revan dengan singkat sedangkan Reina hanya bisa melongo karena lagi lagi ia harus kalah dengan seorang pria bernama Revan.


.............


Di dalam ruang VIP club ternama di ibu kota Gerald sedang menikmati hingar bingar musik di temani dua gadis cantik bersamanya tidak hanya itu segelas wine ikut meramaikan susana saat itu.


" Tuan apa anda senang?" Ucap salah seorang wanita dengan gerakan tangan yang membelai lembut area dada bidang Gerald kemudian perlahan naik ke atas dan mengusap bibir Gerald dengan gerakan sensual.


" Bagus aku suka usahamu itu." Ucap Gerald puas yang mendapat servis dari gadis itu.

__ADS_1


" Silahkan wine nya tuan." ucap gadis disebelahnya yang tentu saja dengan penampilan **** dan menggoda.


Ketika Gerald tengah hanyut ke dalam suasana itu asisten Gerald tiba tiba mendekatinya dari belakang dan membisikkan sesuatu.


" Tuan saya mendapat laporan bahwa anak buah Revan terlihat sedang mengawasi serta mengamankan rumah orang tua nona Reina." Ucap asisten itu dengan berbisik.


...Mendengar hal itu mata Gerald menjadi merah menyala menandakan ia telah marah akan berita tersebut, dengan gerakan tangan yang cepat Gerald mengangkat botol wine di atas meja dan melemparnya hingga membentur dinding dengan sangat keras sehingga membuat kedua gadis itu terkejut....


" Keluar kalian, sebelum kalian yang ku lempar ke dinding itu." Ucap Gerald dengan nada kasar.


...Sementara ke dua gadis itu yang mendengar perintah Gerald langsung pergi sambil ketakutan keluar ruangan. Tidakkah temperamennya sangat buruk?...


" Bukankah aku memerintahkan mu agar tidak gagal, apa kau tuli." Ucap Gerald sambil mencengkram kerah baju asisten tersebut.


" Tuan kami tidak bisa bergerak karena kawasan tersebut di jaga ketat oleh anak buah Revan." Ucap asisten itu setenang mungkin untuk menghadapi tuannya satu ini jika tidak maka bisa bisa nyawanya yang melayang kali ini.


" Bodoh kalian, aku tidak membayar kalian hanya untuk makan gaji buta. Aku tidak mau tahu lakukan pekerjaan mu bahkan jika itu sulit sekalipun." Ucap Gerald kemudian menghempaskan asisten itu dengan gerakan cukup kuat hingga asisten itu mundur beberapa langkah karena hilang keseimbangan.


" Aku harus mendapatkanmu kembali na, apapun yang terjadi." Ucap Gerald sambil melempar kembali barang barang yang masih tersisa di atas meja.


Bersambung


ikuti terus kisahnya


see you

__ADS_1


__ADS_2