
...Suasana di ruang kerja mansion milik Revan begitu tegang Revan sedari tadi hanya mengetuk ketukan jarinya di meja tanpa mengatakan apapun....
" Alamak ini mah alamat ngamuk dah." ucap Wili dalam hati dengan keringat dingin yang sudah bercucuran membasahi keningnya.
" Ini dokumen penting yang harus anda tanda tangani tuan." ucap Wili dengan nada grogi siap menjadi santapan amukan Revan.
" Apa ini lebih penting dari apa yang aku kerjakan tadi wil?" ucap Revan dengan nada dingin.
" Tentu tuan ini tentang proyek pembangunan ruang terbuka hijau yang harus segera anda tanda tangani serta putuskan." ucap Wili dengan polosnya.
Brak
Suara berkas yang di lempar di meja begitu keras hingga menggema di ruangan itu.
Wili hanya bisa menelan salivanya kasar melihat tuannya sudah diliputi oleh amarah.
Atmosfir di ruangan itu mendadak berubah menjadi dingin dan mencekam hingga membuat bulu kuduk Wili berdiri.
" Sepertinya aku salah mengucapkan sesuatu ini " ucap Wili dalam hati yang menyadari letak kesalahannya.
" Katakan sekali lagi wil apa yang kau katakan barusan." ucap Revan dengan sedikit geram.
" Tiiidak tuan ini tidak lebih penting dari urusan anda, saya hanya mengantar beberapa dokumen untuk anda tanda tangani." ucap Wili dengan merubah perkataanya tadi.
" Bagus aku lebih menyukai yang ini, ingat kau tidak akan ku ijinkan pulang sebelum selesai mengerjakan proyek bersama tuan Andelson aku minta hari ini juga hasilnya, kau mengerti wil?" ucap Revan dengan nada tidak ingin di bantah.
" Tapi tuan bukankah proyek dengan tuan Andelson deadline nya masih 2 minggu lagi?" ucap Wili dengan perasaan yang curiga.
Revan yang mendengar ucapan Wili lantas tersenyum dengan penuh arti.
" Apa kau mau menambahnya lagi dengan proyek rumah kaca kita Wil?" ucap Revan dengan santai
" Tidddaak perlu tuan saya akan melaksanakannya hari ini terima kasih." ucap Wili sambil kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Revan.
Wili benar benar merutuki kebodohannya karena menjatuhkan berkas tidak tepat pada waktunya.
" Harusnya tadi aku diam diam saja jangan berisik, gagal sudah acara ku nanti malam nona els tunggu aku di rumah ya." ucap Wili pada diri sendiri.
__ADS_1
...Reina yang sedang asyik menonton tv tiba tiba pandangannya teralihkan ketika melihat Wili keluar dari ruang kerja Revan dengan mulut yang komat kamit....
" eh cepat sekali? pasti kerjaan Revan nih masak si Wili keluar keluar mulutnya kayak ikan koi gitu mangap mangap." ucap Reina pada diri sendiri sambil terkekeh geli mengingat tingkah Wili barusan.
" Apa yang kamu tertawakan?" ucap Revan dari arah ruang kerjanya.
" Hanya menertawakan Wili saja" ucap Reina kemudian kembali fokus pada tv.
...Revan berjalan mendekat ke arah Reina kemudian langsung merebahkan kepalanya pada paha Reina....
...Sikap manja dari Revan yang tiba tiba selalu saja membuat Reina spot jantung Revan benar benar bisa meluluhlantahkan hati Reina dengan perhatian perhatian kecilnya yang manis, kini Reina benar benar sudah jatuh terlalu dalam mencintai Revan....
" Apa yang sedang kamu pikirkan?" ucap Revan sambil menatap Reina dari bawah kemudian mengelus pipi Reina secara perlahan.
" Aku hanya bahagia van" ucap Reina dengan tersenyum.
" Bahagia karena apa?" ucap Revan
" Aku bahagia karena mendapat suami yang super duper dalam segala hal" ucap Reina sambil terkekeh geli.
" oh ya?"
...Revan yang mendapat ciuman singkat tersebut lantas langsung bangkit dan menatap Revan dengan senyum mengembang namun saat Revan ingin mendekat dan akan mencium Reina, Reina malah mundur serta menutup bibirnya....
Revan yang melihat hal itu tentu saja bingung.
" Rein?" ucap Revan dengan penuh tanda tanya.
" Apa kamu lupa kita akan mengunjungi ibuku lalu menjemput Saina di rumah mama " ucap Reina mengingatkan Revan sebelum kebablasan.
" Itu kan bisa nanti Rein, apakah kamu tidak mau melanjutkan yang tadi." ucap Revan dengan sedikit memancing Reina.
" Revan hentikan pikiran kotor mu apa kamu lupa di sini ada Revan junior? kamu harus puasa dulu van setidaknya 4 bulan" ucap Reina sambil menunjuk perut datarnya dengan diselingi dengan tawa.
" Apa kamu harus selalu mengingatkannya, aku sudah sangat kesal karena terus menahannya." ucap Revan dengan sedikit cemberut.
...Setelah perdebatan cukup panjang antara Reina dan Revan akhirnya Reina berhasil juga untuk membujuk Revan agar segera berangkat....
__ADS_1
Reina dan Revan berangkat menuju kediaman rumah lama Reina.
...Saat sampai di halaman rumah Reina, Revan segera memarkirkan mobilnya namun saat Revan keluar ia seperti melihat mobil milik Iriana terparkir di depan rumah yang terletak bersebrangan dengan rumah Reina....
" Iriana? tidak mungkinkah Iriana tinggal disini?"
ucap Revan dalam hati dengan terus memandangi mobil itu.
" Apa ada masalah van? kita sudah di tunggu orang tua ku di dalam ayo masuk." ucap Reina kemudian perlahan melangkahkan kakinya untuk memasuki rumahnya.
" Tidak ada, masuklah dulu aku akan segera menyusul." ucap Revan
" Mungkin hanya mirip, ya tentu di Indonesia mobil seperti itu pasti banyak pemilik nya." ucap Revan dalam hati dengan masih sedikit terbengong kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.
Di dalam ke dua orang tua Reina tengah duduk di taman belakang sambil menikmati teh di sore hari.
" Assalamualaikum bu" ucap Reina dengan bahagia
Shella dan Iskandar lantas menoleh pada sumber suara yang dikenalnya itu.
" Waalaikumsalam sayang sini duduk ayo van kesini" ucap Shella dengan sumringah.
Reina dan Revan kemudian ikut duduk bersama Iskandar dan Shella.
" Ibu sama ayah apa kabar?" ucap Revan
" Kami baik nak ngomong ngomong kalian hanya berdua, kemana Saina?" ucap Shella yang penasaran karena Saina tidak terlihat.
" Saina ada di rumah mama Lila nanti setelah dari sini kami akan menyusulnya ke sana bu." ucap Reina sambil menuang teh ke cangkir untuk Revan.
...Mereka berempat akhirnya terhanyut dengan obrolan ringan di sore hari tidak ada kecanggungan diantara mereka, semua mengalir begitu saja apalagi ketika mengetahui Reina tengah hamil Shella dan Iskandar benar benar merasa bahagia akan berita itu. Wejangan demi wejangan terus Shella berikan untuk anaknya itu Reina sampai tersenyum karena ibunya itu lebih protektif ketika Reina hamil, Shella bahkan sempat menyarankan untuk Reina tinggal di sini saja selama masa kehamilan namun Reina dan Revan sepakat untuk tetap berada di mansion saja Revan juga berjanji akan menjaga Reina dengan baik pada akhirnya Shella hanya bisa mengalah mendengar perkataan menantu dan anaknya itu....
...Setelah waktu berlalu cukup lama akhirnya Revan dan Reina memutuskan untuk pulang dan menjemput Saina di rumah Lila. Shella dan Iskandar mengantar Revan dan Reina sampai halaman depan rumah dan melambaikan tangan hingga mobil yang di tumpangi Revan dan Reina hilang dari pandangan....
...Dari arah seberang rumah terlihat Erika sedang diam mematung menyaksikan interaksi di depan rumahnya itu. Rasa marah serta benci kembali meluap ke permukaan kala mendapati Iskandar dan Shella tertawa bahagia di atas penderitaannya....
" Bahkan sekarang mantan suami anakku juga kalian renggut, kalian benar benar manusia serakah" ucap Erika dengan nada yang emosi.
__ADS_1
Bersambung