
Kediaman Iriana
...Terlihat Iriana sedang bersiap dengan balutan baju yang agak lebih sopan dan tertutup dari biasannya yang Iriana kenakan sehari hari....
...Erika yang melihat anaknya sudah rapi lantas mengerutkan keningnya bingung karena tidak biasanya Iriana berpakaian seperti itu kecuali pergi interview atau jamuan resmi lainnya....
" Mau kemana kamu? tumben bajunya lebih sopan?" tanya Erika yang merasa aneh dengan penampilan anaknya.
...Mendengar hal itu Iriana lantas tersenyum sambil menatap Erika melalui standing mirror yang terpajang di samping meja rias miliknya....
" Aku ingin pergi ke sekolahannya Saina ma, aku akan mencoba mendekati Saina" ucap Iriana dengan senyum mengembang.
" Apa kamu yakin bisa? anak itu sepertinya sangat susah untuk di dekati" tanya Erika yang mengerti sifat putrinya yang tak pernah bisa lembut kepada anak kecil.
" Harus bisa lah ma, aku kan ibunya" ucap Iriana dengan nada yang penuh keyakinan.
" Baiklah terserah padamu, tapi satu hal yang harus kau ingat bahwa kunci untuk menaklukan anak anak adalah sabar dan selalu tersenyum, jangan lupakan itu... sarapan sudah siap cepatlah turun kita sarapan bersama." ucap Erika sambil menepuk pelan bahu Iriana kemudian melangkah keluar meninggalkan Iriana sendirian.
" Jika aku tidak bisa mendapatkan hati ayahnya setidaknya aku bisa mendapatkan hati anakku.... kita lihat mana ibu yang lebih baik bagi Saina aku atau Reina?" ucap Iriana sambil terus mematut dirinya di depan cermin.
.............................
Di sebuah hotel mewah di kamar president suite.
...Setelah pertempuran cukup panas yang terjadi semalam keduanya nampak tertidur lelap karena kelelahan....
...Revan mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian tersenyum kala melihat wajah polos Reina yang sedang tertidur dengan pulas di sampingnya....
" Terima kasih karena telah menjadi istriku" ucap Revan lirih sambil mencium kening Reina cukup lama.
__ADS_1
...Setelah puas memandangi Reina perlahan Revan menuruni ranjang dengan ukuran king size tersebut dengan hati hati karena takut Reina akan terbangun karena gerakannya....
...Revan lantas masuk ke kamar mandi dan mulai berendam di sini sambil merelaksasi kan pikirannya....
" Apa ini saat yang tepat untuk aku memberitahukan Reina yang sebenarnya?" ucap Revan sambil memandangi langit langit kamar mandi berharap mendapatkan jawaban dari pertanyaannya barusan.
" Lalu apa yang terjadi jika Reina mengetahui segalanya? tidak mungkin hal buruk akan terjadi bukan?" tanya Revan lagi pada diri sendiri namun tetap kesunyian serta keheningan yang menjawabnya.
" Tidak tidak kenapa aku terlalu berpikir negatif ... aku yakin Reina seorang wanita yang kuat dan aku juga yakin Reina pasti bisa menanggapi serta menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin." ucap Revan lagi dan lagi
...Cukup lama Revan termenung memikirkan permasalahan Reina, Revan benar benar bingung antara membuka semua tabir rahasia atau tetap menyimpannya secara rapat....
...Setelah cukup lama berendam dan melakukan ritual mandinya Revan lantas bergegas keluar dengan mengenakan handuk kimono yang di sediakan pihak hotel....
" Astaga Rein.... kamu membuatku terkejut" ucap Revan yang sedikit terkejut kala melihat Reina yang sudah duduk bersandar di tepi ranjang sambil menatap ke arahnya tanpa suara apapun.
...Mendengar ucapan Reina lantas membuat Revan tersenyum garing karena Revan akui sebenarnya Revan tadi keluar kamar mandi sambil melamun sehingga Revan terkejut kala mendapati Reina yang tengah bersandar di tepi ranjang....
...Revan kemudian lantas kembali naik ke atas ranjang dan duduk di sebelah Reina....
" Ada apa van? kenapa raut wajahmu terlihat cemas sedari tadi?" ucap Reina sambil menatap dalam dalam ke arah Revan.
" Apakah ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu Reina?" tanya Revan dalam hati sambil menatap ke arah Reina.
" Ada apa sih van?" tanya Reina lagi karena Revan kali ini benar benar aneh.
" emmm Rein...." panggil Revan agak ragu
" Iya apa?" ucap Reina dengan gemas karena Revan terus saja memutar mutar kata kata.
__ADS_1
" Bagaimana menurutmu kalau ibu mu ternyata bukan ibu kandung mu yang sebenarnya?" tanya Revan dengan hati hati
" Emmmm bagaimana ya.... pasti rasa kecewa dan marah akan ada, tapi.... ibu bukanlah orang tua yang buruk, jika ibu memang bukan ibu kandungku, aku tidak akan pernah menyesal telah bersamanya selama ini... karena kasih sayang ibu lebih lebih melimpah melampaui kasih sayang ibu kandung sendiri..." ucap Reina dengan senyum yang tulus menatap ke arah Revan.
" Sungguh luar biasa hatimu Rein... aku bangga menjadi suamimu" ucap Revan dalam hati sambil menatap senyuman yang menghiasi wajah cantik milik Reina.
" Memangnya ada apa van?" tanya Reina kemudian karena penasaran akan pertanyaan Revan yang mendadak.
" Aku ...aku bingung harus memulainya dari mana Rein, karena aku merasa tidak berhak untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya padamu." ucap Revan sambil mengelus perlahan rambut panjang milik Reina.
" Apa ini soal ibu van?" tanya Reina tiba tiba sambil mengalihkan pandangannya dari Revan kemudian menatap lurus dinding kamar seperti tengah memutar semua memori yang ada di kepalanya.
...Revan yang mendengar hal itu lantas sedikit terkejut karena tak menyangka Reina bahkan seperti sudah mengetahui semuanya, namun tetap diam agar dunia tetap berjalan seperti semestinya....
" Apa kamu sudah tahu Rein?" tanya Revan penasaran
...Mendengar pertanyaan tersebut Reina lantas langsung menoleh ke arah Revan dan menatapnya dalam dalam tanpa mengatakan sepatah kata apapun....
" Katakan saja Rein aku siap mendengarkannya" ucap Revan sambil memegang pundak Reina seakan memberikan isyarat kepada Reina untuk menumpahkan segala keluh kesahnya.
" Aku sebenarnya tidak tahu kenyataan yang sebenarnya van, tapi....... aku selalu merasakan hal yang berbeda dari kasih sayang yang di berikan ibu padaku... kamu tahu van? tatapan seorang ibu harusnya tatapan yang penuh kasih dan sayang, namun tatapan yang di berikan ibu sungguh berbeda van, ibu memang mencurahkan semua cinta dan kasihnya kepadaku van, namun ketika manik mata kami bertemu yang tersisa di sana hanya ada penyesalan dan rasa bersalah, tidak lebih dari itu..." ucap Reina lalu menatap ke arah Revan yang masih setia mendengarkan ceritanya.
" Lalu Rein?" ucap Revan
" Awalnya aku menganggap hal itu wajar, namun semakin lama hal tersebut lantas selalu memenuhi kepalaku dan membuat ku bertanya tanya akan alasan tatapan ibu kepadaku, sampai suatu ketika tanpa sengaja aku mendengar percakapan kedua orang tua ku, memang isi dari percakapan tersebut sama sekali tidak membahas tentang apakah aku anak ibu atau bukan, namun di dalam percakapan tersebut ibu selalu saja mengatakan menyesal dan ingin memberitahuku sesuatu namun selalu saja bisa di redam oleh ayah sehingga selalu saja gagal" ucap Reina menjeda kalimatnya lalu menarik nafas panjang.
" Bukankah aku terlalu cepat mengambil kesimpulan van?" tanya Reina sambil menatap ke arah Revan.
Bersambung
__ADS_1