
" Ayo Reina ayo..... kenapa kakiku sulit sekali di gerakkan ayo Rein...........kamu pasti bisa..... ah...dasar tidak berguna" ucap Reina sambil berusaha berdiri dengan kaki yang bergetar hebat.
...Reina berusaha sekuat mungkin untuk bisa bangkit dan berjalan menghentikan langkah Revan menuju gerbang kematian, namun siapa sangka yang terjadi selanjutnya adalah......
Dor......
" REINA...." teriak Gerald dan Revan secara bersamaan.
...Tepat setelah teriakan Gerald dan Revan terdengar tubuh Reina langsung jatuh ke pelukan Revan....
...Revan yang terkejut akan apa yang di lakukan Reina barusan lantas langsung menangkap Reina dan memeganginya dengan erat, ketika tangan Revan memegang pundak bagian kanan Reina terasa ada cairan basah yang merembes membasahi baju Reina....
...Merasakan ada yang salah Revan lantas mengangkat tangannya untuk melihat cairan apa itu yang ternyata adalah darah segar....
" Darah..." ucap Revan dalam hati
...Melihat hal itu Revan lantas langsung limbung dan jatuh terduduk di lantai dengan posisi Reina yang di atasnya....
" Enggak ....enggak...Rein..apa terasa sakit hem....kita rumah sakit sekarang ya" ucap Revan sambil mengelus wajah Reina dan menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajahnya dengan mata yang sudah berkaca kaca.
...Reina yang mendengar hal itu lantas tersenyum dengan wajah yang sudah mulai memucat....
" Te..nanglah..van...aku..pernah...mel..lalui yang lebih dari ini...Junior van.... bawa dia..dia ada di kamar atas pojok kiri" ucap Reina dengan tertatih karena menahan rasa sakit di pundaknya.
" ssttttt jangan banyak bicara ya..... kamu pasti bisa, kita ke rumah sakit oke.....aku akan menyuruh Wili untuk mengambil Junior dari dia....tenanglah..... kamu harus selamat..." ucap Revan dengan air mata yang sudah tumpah sambil terus mengelus Reina dan mengecup puncak kepalanya.
...Revan lantas kemudian berdiri dan menggendong Reina ala bridal style untuk membawanya pergi ke rumah sakit....
...Tepat setelah Revan bangkit sambil menggendong Reina, Revan menatap tajam ke arah Gerald yang masih terbengong dengan tangan yang gemetar hebat....
" Apa ini yang namanya cinta Gerald? kalau ini menurutmu adalah cinta, lalu apa bedanya kau dengan Permadi yang sudah tega melenyapkan istrinya dengan tangannya sendiri!" ucap Revan kemudian berlalu pergi meninggalkan Gerald yang masih mematung di sana.
...Revan kemudian lantas berjalan keluar dari mansion Gerald dengan langkah yang terburu buru....
" Tuan...apa saya terlambat..." ucap Wili ketika berpapasan dengan Revan di pintu mansion sambil menggendong Reina dengan keadaan darah yang terus menetes dari tangannya.
__ADS_1
" Cari anakku di lantai atas kamar pojok kiri dan bawa di ke mansion bagaimanapun caranya" ucap Revan sambil berlalu pergi.
"Baik tuan" ucap Wili yang langsung berlari memasuki mansion.
...Ketika Wili memasuki mansion, Wili kira ia pasti akan di hadapkan dengan beberapa perkelahian di sana, namun nyatanya yang Wili dapati hanya Gerald yang tengah termenung seorang diri dengan tangan yang gemetar memegang pistol....
Wili melangkahkan kakinya terus menuju lantai atas kamar Junior.
" Ini beneran aku di biarkan lewat begitu saja....gak ada perlawanan sama sekali?" ucap Gerald dalam hati sambil melangkah kebingungan.
Cklek.....
...Suara pintu kamar di buka perlahan membuat baby sitter yang sedang bermain bersama Junior lantas terkejut....
" Siapa kamu?" tanya baby sitter tersebut sambil langsung memangku Junior dengan erat.
" Tenanglah ...kamu tidak perlu takut aku adalah asisten ayah dari anak itu...ayo ikut aku sekarang untuk menemui tuan dan nyonya." ucap Wili
" Tidak kau pasti bohong, apa buktinya kalau perkataan mu itu adalah kebenaran" ucap baby sitter tersebut tidak mau percaya begitu saja dengan Wili.
...Wili yang mendengar hal itu lantas terdiam dan berpikir bukti apa yang otentik untuk meyakinkannya....
Mendengar hal itu baby sitter tersebut lantas langsung terdiam.
" Apa perkataannya dapat di percaya?" ucap baby sitter tersebut dalam hati
" Ayolah kita tidak ada waktu lagi sebelum Gerald sadar dan membunuh kita semua" ucap Wili karena perempuan tersebut hanya diam mematung mencerna ucapannya.
" Apa nama perusahaannya?" tanya baby sitter tersebut sekali lagi.
" MD Enterprise, sudah puas? apa kau sudah percaya? ayolah kita tidak ada waktu lagi" ucap Wili
" Baiklah aku akan mengikuti mu" ucap baby sitter tersebut melangkah mendekat ke arah Wili sambil menggendong Junior.
" Kita tidak bisa lewat depan karena Gerald tengah memegang pistol aku takut dia akan menyakiti tuan muda." ucap Wili
__ADS_1
...Baby sitter tersebut lantas terkejut mendengar hal itu, ia memang tahu bahwa tuannya itu tempramen tapi ia tidak pernah menyangka akan sampai separah itu....
" Kita lewat pintu belakang saja" ucap baby sitter tersebut.
" Baiklah...ayo bergegas" ucap Wili
...Keduanya lantas setengah berlari menuju ke pintu belakang, dengan Wili yang terus memperhatikan sekeliling....
...Ketika keduanya berada tepat di pintu belakang dan hendak keluar dari arah depan terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga membuat langkah kaki keduanya terhenti seketika....
" Astaga" ucap baby sitter tersebut kala mendengar suara tembakan itu.
" Ayo kita harus segera pergi dari sini" ajak Wili yang juga mendengar suara tersebut.
...Keduanya kemudian melanjutkan langkah mereka untuk segera keluar dari mansion milik Gerald....
**********
...Sementara itu sebelum suara tembakan yang terdengar oleh Wili dan baby sitter tersebut terjadi....
...Gerald masih berdiri termenung mencerna segala ucapan Revan bahkan Wili yang baru saja melintas di depannya tidak terlihat sama sekali oleh Gerald....
...Gerald mengangkat tangannya perlahan di mana terdapat pistol di tangan kanannya....
" Aku membunuh Reina.....aku sungguh melakukannya......?" ucap Gerald dengan suara yang parau.
...Ketika Gerald sedang down, kenangan dari masa lalu yang buruk kembali terlintas di kepalanya, di mana Gerald menyaksikan dari balik pintu Permadi menembak mamanya hingga tewas tanpa rasa gemetar sedikit pun, kemudian lantas menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka itu sambil tersenyum....
" Kau pun sama sepertiku " ucap Permadi dengan senyum menyeringai.
...Kata kata tersebut terus berputar memenuhi kepala Gerald, kejadian sebenarnya tentu saja tidak begitu bagian terakhir dari kenangan Gerald barusan hanyalah halusinasinya saja karena rasa bersalah yang berlebih atas tertembaknya Reina barusan....
" Tidak .....aku tidak sama denganmu ...... mama aku tidak sama dengan papa...... aku beda kan ma....... aku tidak sama tidak sama....." ucap Gerald dengan suara gemetar hebat.
...Tepat setelah Gerald mengucapkan hal itu dari arah pintu depan ia tiba tiba saja seperti melihat sosok ibunya, namun kali ini bukan berwajah lembut seperti yang biasanya datang ke mimpinya, kali ini Maria menampilkan wajah yang marah kepada Gerald yang lantas membuat Gerald mundur perlahan sambil menggelengkan kepalanya dan kemudian........
__ADS_1
Dor....
Bersambung