
" Kenapa tadi kamu terlihat bete?" tanya Revan yang menyadari perubahan ekspresi Reina.
" Tidak ada, hanya saja aku merasa sedikit aneh perasaan semalam ponselku aku charger full tapi barusan tiba tiba tersisa 40 persen, tidak hanya itu tadi malam sebelum kita tidur aku yakin sekali mematikan ponselku namun ketika aku terbangun tengah malam karena haus aku sudah mendapati ponselku menyala dengan membuka galeri fotoku sendiri dengan background musik milik wali semalam. Bukankah itu aneh van? oh tidak atau mungkin aku bermimpi kemudian tanpa sengaja membuka ponselku dan memutar musik?" ucap Reina menjelaskan sambil terus memakan nasi goreng buatan Revan.
" Apa jangan jangan ponsel Reina di sadap ya?" ucap Revan dalam hati sambil terus mendengarkan cerita Reina.
" Revan apa kamu mendengar ku?" ucap Reina karena melihat Revan hanya terdiam tidak menanggapi ucapannya.
...Revan yang mendengar teguran Reina lantas langsung menatapnya kemudian mengacak acak rambut Reina....
" Iya aku mendengarnya, lebih baik jangan terlalu menggunakan ponselmu pindahkan semua hal hal yang penting dari sana. Besok aku akan membelikan mu ponsel baru jadi gunakan ponselmu seperlunya saja." ucap Revan
" Aku kan sudah bilang tidak ingin yang baru" ucap Reina sambil terus memakan nasi gorengnya.
" Aku tidak menyuruhmu mengganti dengan yang baru, aku hanya minta pindahkan semua hal penting di dalam ponselmu itu agar jika terjadi kerusakan kamu dapat menanggulanginya lebih awal" ucap Revan memberi alasan
" Benar juga ya, ok deh kalau begitu" ucap Reina menyetujui ide Revan kemudian menyelesaikan makannya hingga sendok terakhir.
...Setelah suapan terakhir masuk ke dalam mulutnya Reina lantas menatap Revan dengan tersenyum ingin meminta nasi goreng lagi....
" Revan mau lagi" ucap Reina sambil mengangkat piringnya.
" Lagi? apakah rasanya seenak itu?" ucap Revan sambil bangkit berdiri untuk mengambil lagi nasi gorengnya lalu memberikannya pada Reina.
" Tentu ini enak sekali" ucap Reina dengan gembira
...Revan yang melihat Reina sangat menyukai masakannya lantas Revan berinisiatif untuk mencobanya juga. Revan mengambil sendok dan langsung menyendok nasi goreng di piring Reina kemudian memakannya....
...Setelah nasi goreng masuk ke dalam mulutnya perlahan Revan mulai mengunyah dan langsung mengerutkan kening karena rasa nasi goreng tersebut benar benar aneh dan absurd menurut Revan....
" Rein jangan di makan! rasanya benar benar aneh, aku akan membelikan mu yang baru saja." ucap Revan tiba tiba sambil mengambil piring nasi goreng di hadapan Reina.
...Reina yang melihat Revan merebut nasi goreng miliknya lantas langsung menarik kembali piring tersebut dari tangan Revan....
" Apa yang kamu lakukan ini nasi gorengku" ucap Reina dengan cemberut sambil melanjutkan makannya kembali.
__ADS_1
...Revan yang melihat Reina sangat menikmati nasi gorengnya menghela nafas panjang tak habis pikir dengan Reina apalagi ini sudah piring kedua membuat Revan geleng geleng kepala karena tingkah Reina....
….......................
Mansion utama milik tuan besar
...Permadi tengah asik menghisap rokok miliknya dengan asap yang sudah mengepul memenuhi ruangan tersebut sambil menikmati wine kesukaannya, sampai kemudian suara ponsel membuyarkan kenikmatan Permadi dalam meneguk wine favoritnya itu....
Call on
" Apa ada berita bagus?" tanya Permadi
" Ya tuan saya sudah berhasil menyadap ponsel milik Reina, sejauh ini saya masih memantaunya kemungkinan saya akan melaksanakan misi saya dalam minggu ini." ucap pria di seberang telpon yang tidak lain adalah Putra.
" Bagus, aku akui kecerdasan mu itu, buat Reina menderita jika perlu tekan mentalnya hingga dia seperti orang gila hahahaha" ucap Permadi sambil tertawa dengan keras.
" Tentu tuan saya akan dengan senang hati melakukannya " ucap Putra dengan tertawa kecil.
" Terserah apapun yang mau kamu lakukan untuknya, aku hanya terima beres lakukan dengan cantik dan jangan menimbulkan kekacauan atau kau tanggung sendiri akibatnya." ucap Permadi sambil kemudian mengakhiri panggilan telponnya.
Brakkkkk
Tiba tiba saja suara pintu dibanting dari luar mengejutkan Permadi yang tengah asyik menyesapi rokok miliknya.
" Apa apaan kamu Gerald, apa sopan santun mu sudah benar benar hilang?" ucap Permadi yang kesal dengan sikap putra semata wayangnya itu.
" Jangan berani beraninya kamu menyentuh Reina ku pak tua" ucap Gerald dengan marah sambil menatap tajam ke arah Permadi.
...Permadi yang melihat anaknya sangat marah lantas hanya memandanginya dengan tersenyum....
" Apa sebegitu berharganya wanita itu ketimbang aku yang jelas jelas ayahmu sendiri" ucap Permadi
" Iya Reina bahkan lebih berharga darimu, dan apa katamu? kau sebut dirimu apa? ayah? asal kau tahu ayahku sudah lama tiada tepat di hari kematian ibuku." ucap Gerald dengan emosi.
" Kenapa kau selalu mengingatnya? aku benar benar tidak sengaja melakukan itu, harus berapa kali ku katakan padamu" ucap Permadi dengan nada yang emosi
__ADS_1
...Melihat ayahnya yang emosi bukannya takut Gerald malah semakin melawan ayahnya dengan tawa yang menggema....
" Alasan apalagi yang kau gunakan kali ini ha? mabuk? pengaruh narkoba? itu semua sudah basi aku benar benar muak mendengarnya. Aku datang kesini bukan untuk mengenang masa lalu bersamamu karena aku datang kemari untuk mengingatkanmu satu hal, jangan pernah sekali kali kau menyentuh Reina dengan tangan menjijikan mu itu atau bahkan hanya dengan pikiran kotormu camkan itu." ucap Gerald sambil kemudian melangkah pergi meninggalkan Permadi.
" Reina bukan milikmu sekarang maupun nanti, jadi hentikan perjuangan sia sia mu itu Gerald." ucap Permadi yang langsung menghentikan langkah kaki Gerald.
" Aku tidak butuh nasihat dari seorang pendosa sepertimu." ucap Gerald kemudian kembali melangkah.
...Permadi yang menatap kepergian putranya tersebut hanya bisa menghela nafas karena bagaimanapun kematian ibunya Gerald adalah kesalahan terbesar yang ia sesali sampai detik ini....
" Ayah benar benar minta maaf jika kamu memang terluka akan apa yang ayah lakukan terhadap ibumu, ayah benar benar menyesal." ucap Permadi sambil terus menatap kepergian putranya.
...Setelah keluar dari ruangan kerja Permadi Gerald lantas langsung pergi dari mansion utama yang selalu menjadi momok tersendiri bagi Gerald dimana mansion inilah yang menjadi saksi bisa ibunya di bunuh secara tragis oleh ayahnya sendiri....
" Ibu....." ucap Gerald sambil sesekali memukul frustasi setir mobilnya.
...Pikiran Gerald kini benar benar kacau niat awal datang ke mansion utama adalah untuk memberi peringatan kepada Permadi namun gagal karena kenangan masa lalunya lebih menyakitkan dan membekas di hatinya....
...Di tengah rasa frustasi yang menghantuinya Gerald lantas mengeluarkan ponsel dan langsung mendial nomor Iriana di sana....
call on
" Halo baby" ucap Iriana diseberang sana
" Datang ke mansion sekarang"
" Apa harus sekarang?" ucap Iriana
" Kalau aku bilang sekarang ya sekarang, untuk apa kau menanyakannya lagi." ucap Gerald dengan emosi karena mendengar pertanyaan Iriana.
" Baiklah baby aku akan datang" ucap Iriana pada akhirnya.
" bagus" ucap Gerald lagi kemudian langsung memutus sambungan telponnya.
...Gerald melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke mansion miliknya untuk segera menemui Iriana....
__ADS_1
Bersambung