
...Sementara itu di mansion kediaman milik Revan....
...Revan tengah sibuk melakukan meeting via online di ruang kerjanya....
" Profit perusahaan bulan ini naik hingga mencapai 50 persen dari bulan lalu pak, apalagi mengingat perusahaan baru me launching produk baru dan kabar baiknya produk kita berada dalam peringkat pertama produk yang paling di cari minggu ini" ucap Anita direktur umum pemasaran yang sedang melaporkan profit perusahaan bulan ini.
" Bagus Anita aku suka kinerja mu, aku tidak menyangka baru seminggu dirimu menjabat sebagai direktur sudah membuahkan hasil yang positif bagi perusahaan." ucap Revan memuji kinerja Anita.
" Terima kasih atas pujiannya pak, tapi sungguh itu sangat berlebihan hasil keuntungan dan kenaikan profit perusahaan tak luput dari campur tangan semua karyawan yang telah berusaha dengan keras, jadi jika hanya saya yang di puji tentu itu tidak akan adil bagi mereka yang ikut andil dalam hal ini" ucap Anita merendah
" Halah cari muka saja bisanya nih perempuan" ucap salah satu Direktur umum dengan nada lirih yang juga ikut rapat dalam ruangan tersebut.
" Sok sokan mengatakan hasil kerja keras kita, bilang aja pingin di puji" ucap staf lainnya dalam hati
" Sok cantik banget sih masih mending gue, lagian gak ada angin gak ada hujan tiba tiba saja langsung jadi direktur umum pasti simpanannya pak Revan tuh" ucap salah satu staf dalam hati
" Baiklah baiklah karena kalian sudah bekerja keras aku akan mereservasi sebuah restoran untuk kalian, silahkan kalian nikmati perjamuan ini Wili akan mengurus segalanya di sana" ucap Revan dengan senyum iblis di wajahnya.
" Oh ya Wil setelah perjamuan selesai datanglah ke mansion.... untuk hari ini rapat selesai sampai disini, selamat menikmati perjamuan " ucap Revan kemudian memutuskan sambungan vidionya.
" Astaga..... sejak kapan kamu di sana Rein?" ucap Revan yang terkejut karena mendapati Reina yang sudah duduk di sofa ruang kerjanya sambil menatap ke arah Revan.
...Melihat suaminya yang terkejut lantas membuat Reina tersenyum kemudian bangkit dan berjalan mendekat ke arah Revan....
" Apa kamu terkejut?" tanya Reina sambil tersenyum kemudian duduk di pangkuan Revan.
" Tentu saja, kapan kamu masuk? kenapa aku tidak melihatmu?" tanya Revan yang penasaran akan kemunculan Reina.
" Tadi...." ucap Reina
" Iya kapan?" tanya Revan lagi
" Itu gak penting ah, emmm anu.. kamu kan mereservasi restoran untuk karyawan kamu, lalu untuk akunya kapan? aku kan pingin makan somay" ucap Reina dengan memainkan kerah baju Revan.
__ADS_1
...Revan yang mendengar permintaan Reina lantas mengerutkan keningnya bingung, apa hubungannya antara reservasi restoran dengan siomay?...
" Lalu kamu ingin aku reservasi restoran atau makan siomay sih? " ucap Revan sambil mencubit gemas hidung milik Reina.
" Dua duanya!" ucap Reina dengan tegas sambil mengusap hidungnya yang tadi di cubit oleh Revan.
" Ha? bisakah kamu lebih detail lagi dalam membuat permintaan " ucap Revan yang terlihat bingung akan permintaan Reina.
" Pokoknya aku mau keduanya" ucap Reina lagi sambil memukul pelan bahu Revan.
" Bagaimana kalau kita suruh mbok yem membuat somay lalu malamnya nanti kita reservasi restoran hem?" ucap Revan mencoba membujuk Reina, karena jujur saja Revan tidak tahu di mana restoran bintang 5 yang menjual somay? yang Revan tahu hanya beberapa pedagang kaki lima atau sejenis kafe yang mempunyai menu tersebut.
" Gak mau! aku mau keduanya van....ih kamu mah gak peka jadi cowok" ucap Reina dengan sebal kemudian bangkit berdiri dan langsung melangkah keluar meninggalkan Revan sendirian dengan menatap bingung kepergian Reina.
" Revan nyebelin deh" ucap Reina ketika berada di luar ruang kerja Revan kemudian melangkah pergi.
" Salah aku dimana coba? apa dia marah? dasar cewek... kenapa permintaannya selalu random sih? kalau sudah begini aku harus gimana?" ucap Revan pada diri sendiri ketika Reina sudah pergi dari ruangannya.
...............................
Kembali kepada Iskandar dan Shella
" Ada apa? anda ingin memarahi saya? anda punya hak apa? anda bukan siapa siapa bagi saya, jadi hentikan tatapan tersebut karena saya membencinya" ucap Iriana sambil menatap tajam ke arah Iskandar.
...Iskandar yang sudah gelap mata lantas tanpa sadar langsung mengangkat tangannya ke atas akan menampar Iriana namun gagal karena mendengar panggilan dari Shella....
" Yah ..." ucap Shella yang tahu bahwa Iskandar akan menampar Shella.
...Iriana yang akan di tampar awalnya sedikit shock dan terpaku cukup lama sampai ia memberanikan diri melawan Iskandar....
" Ada apa ? bukankah anda ingin menampar saya? ayo silahkan lanjutkan, kenapa anda berhenti di tengah tengah jalan? kalau begitu ayo tampar saya tampar saya " ucap Iriana sambil menunjukkan pipinya agar mudah untuk ditampar oleh Iskandar.
" Hentikan Iriana! panggil saja Erika kemari ada yang ingin kami bicarakan " ucap Iskandar pada akhirnya mencoba meredam amarahnya.
__ADS_1
" Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, lagi pula mama tidak ada di rumah jadi kalian silahkan pergi dari sini" ucap Iriana lagi
" Apakah benar ibumu sedang pergi keluar?" tanya Shella dengan lembut
...Mendengar hal itu lantas membuat Iriana langsung menatap tajam ke arah Shella....
" Silahkan periksa ke dalam kalau anda tidak percaya!" ucap Iriana dengan nada yang ketus.
" Aku harus bisa bersabar, aku mengerti Iriana hanya korban disini, jika aku jadi Iriana tentu saja aku akan berbuat hal yang sama dan lebih membela Erika" ucap Shella dalam hati sambil menatap iba ke arah Iriana.
" Baiklah jika Erika tidak ada kita saja yang mengobrol bertiga agar semua masalahnya menjadi clear" ucap Iskandar namun di tahan oleh Shella.
" Tidak perlu nanti saja kita tunggu Erika pulang agar kita bisa membahasnya bersama" ucap Shella mencegah Iskandar
" Baiklah itu lebih bagus, lagi pula siapa yang ingin berbicara dengan kalian" ucap Iriana kemudian melangkah pergi meninggalkan Shella dan juga Iskandar di luar.
" Sudahlah yah tahan emosimu, dia kan juga putri mu... nanti saja ya" ucap Shella setelah kepergian Iriana
" Lagian kenapa ibu melarangnya sih, kita kan bisa saja menjelaskan hal yang sebenarnya" ucap Iskandar
" Iriana sedang emosi yah .. percuma saja kita menjelaskan sesuatu kepada seseorang yang tengah diliputi amarah itu akan menjadi sia sia" ucap Shella memberi pengertian kepada Iskandar.
" Ayah paham akan hal itu, hanya saja Iriana sudah terlalu dalam membenciku bu... aku takut akan susah menyembuhkan luka hatinya" ucap Iskandar dengan nada sendu di akhir kalimatnya.
" Ayah tenang saja semua akan baik baik saja" ucap Shella menenangkan Iskandar
" Iya, ayah juga berharap demikian" ucap Iskandar pada akhirnya
" Ya sudah kita pulang yuk.." ucap Shella
" iya"
Bersambung
__ADS_1