
...Reina yang hanya mendapat ciuman bibir sekilas langsung membuka matanya yang tertutup kemudian melihat Revan dengan tatapan bingung....
" hahahahahahaha, wajahmu sungguh sangat lucu Rein" ucap Revan dengan tawa yang keras
" Revan kamu benar benar jail" ucap Reina dengan memukul sedikit dada bidang Revan.
...Revan kemudian menghentikan tawanya dan mulai m*lu**t bibir Reina yang sudah menjadi candu untuknya apalagi beberapa minggu ini Revan harus berpuasa paling tidak hingga usia kandungan Reina sudah cukup kuat, meski sebenarnya Cika tidak melarang namun Revan akan merasa lebih lega ketika usia kandungan Reina sedikit lebih tua....
...Revan m*lu**at bibir Reina dengan gerakan pelan namun mampu menghanyutkan Reina, Revan kemudian berpindah posisi di atas Reina dengan memberi sedikit jarak pada perut Reina takut anaknya yang masih berkembang di dalam sana akan terhimpit tubuh Revan....
...Reina mulai mengeluarkan suara d*s***n d*s***n manja yang semakin membuat Revan melayang kala menikmati setiap inci tubuh Reina. Revan kemudian membuka satu persatu kancing baju tidur Reina dan mulai menjelajahi aset kembar milik Reina. Reina benar benar terbuai dengan setiap sentuhan dari Revan sesekali Reina bahkan sampai menggigit bibir bawahnya ketika dirinya sedang berada di puncak namun Revan tak kunjung melakukan pelepasan dan hanya menjelajahi setiap inci tubuh Reina tanpa adanya penyatuan....
" Revvvvaaannnn" panggil Reina dengan suara seraknya karena menahan puncaknya sedari tadi.
...Revan yang mendengar suara serak Reina lantas langsung menghentikan gerakannya dan menatap istrinya itu kemudian mengecup kening Reina cukup lama....
" Tunggu satu bulan lagi ya Rein, setidaknya ketika anak kita sudah cukup lebih besar." ucap Revan sambil mengusap rambut Reina yang sudah basah karena keringat.
" Tidak bisakah sekarang van? satu kali saja" ucap Reina dengan memelas.
...Revan sungguh tidak tega melihat wajah memelas Reina karena Revan juga tahu libido wanita ketika hamil akan berkali kali lipat dari biasannya sedangkan Revan pun sebenarnya juga sudah tidak tahan namun Revan masih bisa mengendalikan diri mengingat usia kandungan Reina baru memasuki 7 minggu jadi Revan lebih memilih mencari aman....
" Sabar ya Rein sebentar lagi hem" ucap Revan dengan lembut memberi Reina pengertian.
" Baiklah van" ucap Reina pada akhirnya pasrah mengikuti keinginan Revan padahal dirinya sudah benar benar tengah berada di puncaknya.
...Saat keduanya hanyut ke dalam hangatnya sebuah dekapan, bel pintu tiba tiba berbunyi nyaring memecahkan hasrat keduanya....
" Siapa yang datang kira kira ya van?" ucap Reina
" Entahlah aku akan turun dan melihatnya, kamu istirahat saja disini ok jangan coba coba turun jika bukan aku yang menyuruhmu turun" ucap Revan sambil memunguti bajunya dan memakainya kembali satu persatu.
" Tapi aku juga ingin melihat siapa yang datang" ucap Reina dengan nada lirih namun masih bisa didengar Revan.
__ADS_1
" Rein kamu harus ingat Cika menyuruhmu untuk bed rest jadi jangan sekali kali kamu turun tanpa persetujuan dariku kamu mengerti" ucap Revan tegas dan tidak ingin dibantah dan kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar.
...Reina melihat kepergian Revan dengan cemberut, sebenarnya Reina benar benar bosan harus istirahat seharian full di kamar, namun Reina tidak bisa membantah ucapan Revan dan alhasil di sinilah Reina sekarang....
...Sedangkan Revan berjalan menuruni tangga untuk melihat siapa yang datang, ketika Revan sudah sampai di bawah di sana Revan melihat kedua orang tuanya sudah duduk di ruang tamu dengan Saina di pangkuan mereka....
" Hai pa ma" ucap Revan sambil berjalan mendekat ke arah orang tuanya dan ikut duduk bersama mereka.
Lila dan Mahendra yang mendengar suara putra mereka langsung menoleh ke arah Revan.
" Mama dengar Reina sedang sakit van, apakah sudah baikan?" ucap Lila
" Sudah lebih membaik ma kemarin Cika menyarankan Reina untuk bed rest jadi Revan menyuruhnya untuk tidak melakukan hal hal yang berat cukup istirahat full saja di kamar." ucap Revan
" Apakah ada sesuatu yang terjadi van sehingga Reina harus bed rest?" ucap Lila dengan khawatir
" Mama tenang saja tidak ada yang perlu di khawatirkan kata Cika ini hanya kondisi normal wanita yang tengah hamil muda." ucap Revan menenangkan Lila, sebenarnya Revan sengaja tidak mengatakan masalah yang belakangan ini menimpa Reina karena itu akan membuat Lila semakin khawatir.
" Baiklah, sepertinya kamu akan cukup sibuk belakangan ini karena ibu hamil akan sangat manja dan lebih menyita waktumu." ucap Lila sambil menggoda.
" Apa kamu mau papa buatkan ijin cuti selama 9 bulan agar bisa fokus mengurus Reina?" ucap Mahendra
" Tidak perlu pa Revan masih bisa membagi waktu Revan, tapi mungkin Revan hanya akan datang ke kantor seminggu sekali kecuali jika ada meeting penting yang mengharuskan Revan datang terlepas dari itu Revan akan mengerjakannya di rumah." ucap Revan
" Apa kamu yakin bisa membagi waktu van?" tanya Mahendra
" Papa tenang saja sejauh ini aku masih sanggup kok" ucap Revan dengan yakin
" Baiklah jika itu keputusanmu." ucap Mahendra
" Oh ya van bagaimana jika Saina mama bawa dulu ke mansion utama lagi pula besok weekend pasti mbok yem akan pulang ke rumah, kamu pasti akan kerepotan jika harus merawat Saina dan Reina dalam waktu yang bersamaan" ucap Lila memberikan tawaran kepada anaknya.
" Sepertinya itu ide yang bagus ma" ucap Revan
__ADS_1
"Saina sayang apa kamu mau menginap di rumah glany?" ucap Revan sambil menatap anaknya tersebut dan mengelus kepalanya dengan sayang.
Saina yang mendengar ucapan Revan lantas mengangguk kemudian tertawa dengan riang.
" Baiklah jika kamu ingin pergi bersama glany" ucap Revan kemudian mencium kening Saina.
" Ya sudah mama dan papa langsung pulang saja ya." ucap Lila
" Apa mama dan papa tidak menunggu sampai makan malam dulu?" tanya Revan pada kedua orang tuanya.
" Tidak usah van, kamu fokus saja untuk mengurus Reina tidak perlu memikirkan mama dan papa." ucap Lila
" Baiklah jika itu keinginan kalian" ucap Revan pada akhirnya.
" Saina jangan nakal ya, baik baik di rumah glany" ucap Revan pada anaknya itu.
" Baik dady" ucap Saina
" Papa dan mama pulang dulu ya, titip Reina van jika ada apa apa kamu hubungi papa dan mama ya" ucap Mahendra
" Papa tenang saja tanpa papa minta Revan pasti akan melakukannya" ucap Revan dengan nada yakin
" Good boy" ucap Mahendra lagi sambil tersenyum bahagia melihat putranya yang dulu kini perlahan sudah mulai kembali ke tengah tengah mereka.
Revan mengantar kepergian Lila dan Mahendra hingga mereka tidak lagi terlihat di pandangannya.
...Setelah kepergian kedua orang tuanya Revan berniat untuk kembali ke kamar namun ketika akan menaiki tangga menuju kamarnya Revan tidak sengaja melihat pintu kamar di ujung lorong tempat Revan menyimpan semua kenangan bersama Iriana....
...Revan kemudian perlahan berjalan ke arah kamar tersebut dan mulai memasukinya. Revan melihat satu persatu kenangan yang telah ia lewati bersama Iriana....
...Revan lantas mengambil kamera yang sudah lama tidak ia gunakan lagi semenjak kepergian Iriana 5 tahun lalu....
" Aneh sekali kenapa perasaanku berbeda, aku merasa seperti kosong rasa dendam dan amarah yang dulu menggebu kini seketika hilang tak berbekas. Apakah aku benar benar sudah melepas semuanya? " ucap Revan pada diri sendiri sambil terus memandangi potret Iriana.
__ADS_1
Bersambung