
Revan berjalan dengan membawa nampan berisi makanan menuju kamarnya.
Cklek
Suara pintu terbuka yang menampilkan sosok Revan dengan nampan di tangannya perlahan berjalan masuk ke kamar.
" Ini semua gara gara kamu, lalu aku harus bagaimana jika bertemu dengan orang tuamu van? mau taro dimana mukaku ini." ucap Reina dengan nada masih protes karena perbuatan Revan semalam.
" Tinggal bilang aja kita habis ngadon kelar kan urusannya." ucap Revan dengan nada santai sambil menaruh nampan berisi makanan tersebut ke atas meja kemudian duduk di sofa.
...Reina yang mendengar jawaban nyeleneh dari Revan langsung berjalan menghampirinya dan duduk di samping Revan sambil mulai mengambil roti isi di nampan dan memasukkannya ke dalam mulut....
" Ngadon ngadon enak aja emang kamu pikir lagi bikin kue" ucap Reina dengan kesal namun tetap masih dengan memasukkan roti isi ke dalam mulutnya sambil terus mengomel.
" kan memang lagi ngadon kita semalam hahaha" ucap Revan yang diselingi tertawa.
...Reina yang baru melihat tawa Revan dengan lepas begitu terpana, setelah Reina bersama Revan cukup lama Reina baru menyadari satu hal bahwa sosok Revan yang angkuh dan dingin hanya sebagai tameng dirinya untuk menutup dengan dunia luar serta orang sekitar. Entah apa yang sudah di lalui Revan hingga ia begitu membentengi dirinya dari dunia luar....
" Kamu tertawa van?" ucap Reina tiba tiba sambil terus mengamati Revan.
Revan yang mendengar hal itu langsung menghentikan tawanya dan menatap Reina dengan bingung.
" Teruslah tertawa van karena kamu sangat tampan ketika tertawa." ucap Reina dengan tulus sambil tersenyum melihat ke arah Revan.
" Ngaco kamu" ucap Revan
Revan yang melihat Reina tersenyum menjadi salah tingkah kemudian mengambil kopi dan meminumnya untuk mengurangi rasa groginya.
" Btw van bukannya hari ini Senin ya, kenapa kamu tidak pergi bekerja?" ucap Reina penasaran.
" Aku kan bosnya ya suka suka akulah mau pergi ke kantor atau tidak" ucap Revan dengan santai sambil menyeruput kopinya.
" Oh ya....... bangkrut baru tahu rasa kamu " ucap Reina dengan nada bercanda.
Revan yang mendengar hal itu tersenyum dan dengan gerakan reflek Revan mengacak acak rambut Reina dengan gemes.
__ADS_1
" Jika aku bangkrut bukannya kamu juga akan ikutan susah, kamu kan istriku sekarang. Jadi kalau aku bangkrut kamu juga samalah." ucap Revan sambil masih terus mengacak acak rambut Reina.
" Revan rambutku berantakan kalau kamu acak acak terus." ucap Reina sambil cemberut menatap ke arah Revan.
Saat Revan tengah asik mengacak acak rambut Reina dengan gemas tiba tiba terdengar suara dari arah pintu kamar yang mengejutkan keduanya.
" Jika ingin bermesraan seharusnya kalian tutup pintunya dan kunci dengan rapat, kalau Saina tiba tiba lewat dan melihatnya bagaimana coba?" ucap Lila tiba tiba yang mengejutkan keduanya.
Reina yang kepergok langsung dengan mertuanya lantas langsung berdiri dan menghadap Lila dengan tersenyum garing sedangkan Revan dengan masih santainya duduk di sofa sambil menyeruput kopinya yang tersisa.
Lila berdiri tepat di pintu mengamati Reina dan Revan kemudian tersenyum setelah ia melihat begitu banyak tanda cinta yang di tinggalkan Revan pada Reina.
" Habis berapa ronde semalam Rein? bukankah anak mama terlalu ganas padamu hahaha" ucap Lila dengan nada menggoda kepada menantunya itu.
Reina yang di goda semakin tersenyum kikuk sambil menatap Revan sedangkan Revan yang di tatap hanya mengisyaratkan dengan gerakan mulut "ngadon", bukannya memberikan solusi Revan malah menggoda Reina. Alhasil Revan langsung mendapat hadiah pelototan dari Reina.
" Benar benar si Revan ini bukannya bantuin malah bikin rusuh, hadeh malunya sampai ke ubun ubun nih." ucap Reina dalam hati sambil terus nyengir.
" Sudah silahkan di lanjut, tidak perlu mengkhawatirkan Saina cukup fokus saja pada Revan junior berikutnya." ucap Lila sambil mengedipkan mata ke arah Reina kemudian berlalu pergi.
" Revaaaaaan kamu benar benar sesuatu ya" ucap Reina dengan kesal sambil menatap Revan.
Revan yang melihat Reina begitu kesal padanya hanya tertawa geli sambil terus menatap tingkah laku Reina yang menurutnya lucu ketika marah.
" Kamu begitu menggemaskan " ucap Revan dengan tersenyum geli.
" Revaaaannnnnn" teriak Reina yang tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi tingkah laku Revan yang ternyata lebih usil.
.................
Singapura
Pagi itu Erika tengah asik menikmati matahari sambil menanam beberapa bunga favoritnya, Erika memilih menghabiskan waktu tuanya dengan berkebun dan merawat beberapa tanaman hias. Sebetulnya ada beberapa hobi yang dimiliki Erika namun Erika lebih cenderung menyukai bunga dan beberapa tanaman hias.
Saat Erika tengah asik merawat tanamannya ponsel Erika berdering dengan nyaring.
__ADS_1
Call on
" Halo kenapa sayang?" ucap Erika pada si penelpon di seberang sana.
" Mama sedang apa?" ucap Iriana dengan nada basa basi sambil mencari kata yang tepat untuk berbicara dengan ibunya.
" Tidak ada, hanya tengah merawat si kecil putih kesukaan mama dan lagi kemarin mama membeli bunga mawar perpaduan warna merah dan putih yang begitu cantik kamu harus melihatnya." ucap Erika dengan antusias.
" oh ya pasti bagus warnanya ma" ucap Iriana dengan tertawa garing.
"Apa ada sesuatu yang terjadi Iriana? katakan pada mama ada apa?" ucap Erika yang sudah tahu betul dengan sifat anaknya.
" emmmmm bisakah mama datang ke Indonesia minggu ini ma?" ucap Iriana dengan harap cemas sang mama akan menolak permintaannya.
" Kenapa nak apa ada masalah? apa ini tentang Gerald yang menyuruhmu?" ucap Erika sambil menerka nerka.
" ......." Hening tak ada jawaban apapun dari Iriana di ujung sana.
" Jika memang kamu tidak mau menceritakan semuanya dengan mama, mama tidak akan mau berangkat jadi katakan sekarang ada masalah apa Iriana." ucap Erika karena tak mendapat jawaban dari anaknya.
" Aku mohon ma, mama cukup datang saja kesini mama juga tau kan bagaimana sifat Gerald aku takut jika mama tidak menurutinya sesuatu yang buruk akan terjadi" ucap Iriana dengan nada cemas.
" Baiklah nak mama mengalah mama akan datang ke Indonesia dalam minggu ini jadi kamu jangan terlalu khawatir oke." ucap Erika sambil menenangkan putrinya.
" Baiklah ma terima kasih, Iriana tutup dulu ya nanti kita sambung lagi." ucap Iriana
" Iya jaga dirimu baik baik nak" ucap Erika kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Call off
...Setelah Erika memutuskan sambungan teleponnya Erika terdiam sejenak ia masih bimbang antara pergi atau tidak. Jika ia kembali ke Indonesia tentu itu akan membuka luka lama yang sudah Erika kubur dalam dalam....
...Entah apa yang tengah direncanakan oleh Gerald yang jelas Erika mempunyai firasat buruk kali ini tentang kepulangannya ke Indonesia....
Bersambung
__ADS_1