
Rumah sakit Medical Cipta
...Terlihat Revan sedang menunggu dengan cemas sedari semalam di ruang tunggu VVIP di sebuah rumah sakit. Setelah dari mansion Gerald kemarin Revan langsung membawa Reina ke rumah sakit agar bisa segera mendapat pertolongan, setelah sampai di rumah sakit dan bertemu dengan Rian detik itu juga Rian meminta persetujuan untuk operasi pengangkatan peluru di pundak Reina....
" Ku mohon selamatkan Reina....ku mohon.....tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Mu" ucap Revan dalam hati sambil terus berdzikir dan memohon kepada Sang Pemberi Kehidupan.
...Beberapa menit kemudian pintu ruang rawat Reina mulai terbuka perlahan memperlihatkan Rian yang sedang berjalan mendekat ke arahnya dengan mengenakan baju operasi....
" Tenanglah bro kita sudah bisa bernafas lega sekarang... karena peluru yang bersarang di pundak Reina sudah berhasil di ambil, untung saja peluru itu tidak menembus terlalu dalam, sehingga tidak mengenai syaraf syaraf penting Reina yang bisa berdampak pada kelumpuhan total, hanya saja mungkin akan membutuhkan beberapa waktu bagi Reina agar bisa beraktifitas dan menggerakkan tangannya seperti sedia kala." ucap Rian panjang kali lebar menjelaskan secara rinci keadaan Reina.
" Apa lo yakin semuanya baik baik saja? lalu bagaimana dengan kaki Reina?" ucap Revan dengan nada khawatir di setiap kalimatnya.
" Ya aku bisa menjaminnya, sejauh ini hanya ini yang bisa aku sampaikan padamu, kita akan menunggu sampai Reina siuman baru setelah itu kita lakukan pemeriksaan keseluruhan kepada Reina " ucap Rian mencoba menenangkan Revan.
...Mendengar penjelasan dari Rian barusan, pada akhirnya Revan bisa menghela nafas lega karena mengetahui kondisi Reina yang baik baik saja....
" Baiklah gue tinggal dulu, sebaiknya lo masuk dan istirahat di dalam, dan satu hal lagi lo berhutang penjelasan tentang banyak hal padaku van...jangan lupa untuk menjelaskan segalanya... " ucap Rian sambil menepuk bahu Revan perlahan yang lantas dibalas anggukan oleh Revan.
...Setelah kepergian Rian, Revan lantas langsung terduduk kembali dengan lemas di kursi tunggu ruangan tersebut, setidaknya sekarang semua sudah berjalan dengan baik tinggal mengabari orang rumah bahwa Reina masih hidup selama ini....
...Revan kemudian lantas merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya dan mendial nomor Wili di sana....
" Halo" ucap Revan ketika sambungan telponnya terhubung dengan Wili.
" Iya tuan" ucap Wili
__ADS_1
" Bagaimana? apa kau sudah berhasil membawa anakku kembali dari mansion pria gila itu?" tanya Revan dengan nada yang kesal.
" Ya tuan, saya sudah berhasil membawa tuan muda ke mansion, sekarang dia sedang tidur di kamar tuan" ucap Wili
" Bagus, sore nanti bawa dia ke Rumah sakit Medical Cipta, Reina pasti ingin melihatnya ketika ia siuman nanti." ucap Revan
" Baik tuan" ucap Wili kemudian terdengar sambungan telpon di putus oleh Revan.
……………………………………
...Sementara itu yang terjadi pada Gerald kala suara tembakan yang terdengar oleh Wili dan juga baby sitter tersebut....
" Tidak .....aku tidak sama denganmu ...... mama aku tidak sama dengan papa...... aku beda kan ma....... aku tidak sama tidak sama....." ucap Gerald dengan suara gemetar hebat.
...Tepat setelah Gerald mengucapkan hal itu dari arah pintu depan ia tiba tiba saja seperti melihat sosok ibunya, namun kali ini bukan berwajah lembut seperti yang biasanya datang ke mimpinya, kali ini Maria menampilkan wajah yang marah kepada Gerald yang lantas membuat Gerald mundur perlahan sambil menggelengkan kepalanya dan kemudian........
...Suara tembakan terdengar begitu nyaring memenuhi ruangan mansion tersebut, ya Gerald menembak dirinya sendiri tepat di dada sebelah kirinya karena rasa bersalah kepada Reina, Gerald menembak dirinya sendiri sama persis dengan posisi Gerald menembak Reina, hanya saja yang tidak di ketahui Gerald adalah tembakannya kepada Reina meleset dan mengenai pundak Reina sedangkan yang Gerald tahu dia sudah membunuh Reina dengan tangannya sendiri....
" Semo..ga aku bisa ber..temu dengan mu..di atas sana...Rein...uhuk uhuk...." ucap Gerald terbata dengan darah yang sudah menggenang membanjiri lantai mansion.
...Sementara itu Permadi yang baru saja sampai di mansion milik Gerald cukup terkejut kala mendapati Gerald sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah di ruang tengah....
...Melihat anaknya yang terkapar Permadi lantas berlari menghampiri tubuh putranya yang sudah terbujur kaku di lantai....
" Ge ...... bangun ge.......kamu tidak bisa melakukan ini pada papa ge...... jangan tinggalkan papa....." ucap Permadi sambil mengoyang goyangkan tubuh anaknya perlahan.
__ADS_1
...Asisten Permadi lantas ikut bersimpuh di sebelah tubuh Gerald kemudian mengecek denyut nadi dan juga nafas Gerald, namun sayangnya kali ini Gerald benar benar sudah pergi untuk selamanya....
" Tuan....." ucap asistennya sambil menggeleng pelan menandakan bahwa Gerald sudah benar benar pergi.
" Tidakkkkkkkkkkkkkk Gerald.... ini semua salah papa.... ge........papa minta maaf..... sungguh papa minta maaf" teriak Permadi dengan histeris sambil memeluk tubuh Gerald dengan erat berharap semuanya hanyalah sebuah mimpi buruk saja.
********
Tempat pemakaman umum di pusat ibu kota
...Terlihat Permadi yang di dampingi asistennya tengah berdiri menatap kedua makam yang bertuliskan Gerald Permadi sementara di sebelahnya adalah Maria....
...Permadi menatap makam Gerald yang masih basah dengan tatapan sendu serta perasaan bersalah yang menumpuk di hati, dengan kepergian Gerald lengkap sudah rasa bersalah Permadi, ia tidak hanya gagal menjadi seorang suami yang baik namun ia juga benar benar telah gagal dalam menjadi sosok ayah bagi Gerald....
" Apa kau sudah menyelidiki penyebab anakku tewas? apakah semua ini ada hubungannya dengan Revan?" tanya Permadi masih dengan menatap makam Gerald dan Maria secara bergantian.
" Bukan tuan, saya sudah mengecek cctv di mansion tuan muda Gerald dan juga mengambil sidik jari di pistol tersebut namun keduanya sama sama merujuk pada tuan muda Gerald sendiri tuan, dengan kata lain tewasnya tuan muda Gerald atas keinginannya sendiri bukan karena di bunuh oleh Revan" ucap asisten Permadi menjelaskan segalanya kepada Permadi, jujur saja ia ingin sekali menyebut bahwa Gerald tewas karena bunuh diri, namun ia paham tidak ada orang tua yang terima bahwa anaknya lebih memilih cara bunuh diri untuk menyelesaikan sebuah masalah, itulah mengapa ia memilih kata sehalus mungkin yang memiliki arti sama dengan bunuh diri agar tuanya tidak tersinggung akan ucapannya.
Mendengar hal itu Permadi lantas menghela nafasnya cukup panjang.
" Aku sudah menduganya, apa yang terjadi pada Gerald semua juga karena kesalahanku di masa lalu" ucap Permadi dengan nada sendu di setiap kalimatnya.
" Janganlah seperti ini tuan, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, namun selalu ada lembaran baru bagi mereka yang benar benar ingin berubah dan memperbaiki segalanya" ucap asisten tersebut
" Apa kau yakin? aku bahkan telah kehilangan mereka berdua, lalu apa lagi yang tersisa di hidupku? bukankah hidupku kini akan semakin kosong setelah kepergian Gerald?" ucap Permadi lagi
__ADS_1
...Mendengar ucapan tuannya asisten tersebut hanya diam karena ia juga tidak tahu kata kata apa yang akan cocok untuk menghibur tuannya saat ini....
Bersambung