
Bagian bawah jurang tepat di jalan tol km 56
...Perlahan lahan alat berat mulai mengangkat kerangka mobil milik Erika dari dalam sungai menuju daratan....
...Revan menatap kerangka mobil yang sudah tidak berbentuk itu dengan tatapan sendu tidak bisa di artikan....
" Tidak akan ada yang bisa selamat jika melihat kondisi mobil yang seperti itu" ucap Wili dalam hati kala melihat keadaan mobil milik Erika yang jatuh ke sungai.
Dati arah depan nampak seorang petugas berlarian mendekat ke arah Revan untuk melapor setelah mobil berhasil di angkat ke daratan.
" Tidak ada korban jiwa di dalamnya pak, kami sudah mengecek seluruh bagian mobil dan hanya ini yang kami temukan" ucap seorang petugas sambil menyerahkan tas selempang kecil milik Reina yang telah berubah warna karena mungkin selain terkena darah milik Reina tas tersebut juga terendam oleh air sungai selama sehari semalam.
...Revan menerima tas tersebut dengan tangan gemetar kemudian memeluknya dengan erat sambil memejamkan matanya membayangkan Reina masih berada di dekatnya saat ini....
" Reina aku merindukanmu" ucap Revan dalam hati
" Wil sisir area sungai ini, jangan ada yang berhenti sebelum Reina di temukan." ucap Revan tetap dengan mata terpejam memberi perintah untuk Wili.
" Baik tuan" ucap Wili kemudian bergegas pergi untuk melaksanakan perintah Revan.Ketika Revan tengah hanyut ke dalam rasa penyesalan serta kesedihan yang mendalam dari arah belakang terdengar suara Erika berteriak histeris bersimpuh menyaksikan kerangka mobil yang sudah di angkat dari dasar sungai.
" Reina maafkan ibu... maafkan ibu Rein.... maafkan ibu ..... ibu sungguh tidak tahu...hiks hiks ...ibu bersalah ibu bersalah ibu bersalah..." ucap Erika dengan histeris menatap ke arah mobil miliknya.
...Semua orang di tempat itu lantas saling pandang dan melihat ke arah Erika, beberapa orang yang iba melihat Erika lantas mendekat ke arahnya dan membopongnya ke tempat yang lebih teduh....
...Revan hanya melirik sekilas ke arah Erika kemudian acuh tak acuh dan melangkah pergi meninggalkannya sendiri bersama beberapa orang yang mengerumuninya....
" Aku yakin kamu masih hidup Rein, aku tidak akan percaya sebelum aku melihat mayat mu dengan mata kepala ku sendiri!" ucap Revan dalam hati kemudian melangkah pergi menuju mobilnya untuk kembali ke mansion.
........................
Mansion kediaman Mahendra
...Lila nampak berlarian menuju ke ruang kerja Mahendra dengan raut wajah gelisah....
__ADS_1
" Papa ...." ucap Lila dengan tergesa gesa ketika membuka pintu ruangan Mahendra.
" Ma bisa gak sih ketuk pintu dulu kalau masuk jangan main nyelonong aja" ucap Mahendra sambil meletakkan koran yang sedang ia baca sedari tadi.
" Papa menantu kita pa... Reina" ucap Lila dengan raut wajah sedih ingin menangis.
" Ada apa ma? apa Reina sudah akan lahiran?" tanya Mahendra dengan nada santai namun juga penasaran.
" Bukan itu pa.... Reina ...Reina menghilang...papa ayo kita cari..." ucap Lila dengan menahan tangis yang sudah hampir jatuh membasahi pipinya.
" Ciapa yang hilang glani? " ucap Saina yang berlarian dari luar dan langsung merangkul kaki Lila.
...Mahendra yang tahu istrinya sedang tidak baik baik saja lantas langsung bersimpuh dan mengelus rambut cucunya dengan perlahan....
" Saina main dulu sama mbak ya, glanpa dan glani mau ngobrol sebentar" ucap Mahendra yang lantas di jawab anggukan oleh Saina.
...Saina kemudian lantas berlari kembali keluar dan meninggalkan keduanya untuk berbicara empat mata....
" Ma pelan pelan jelasinnya ok" ucap Mahendra sambil menuntun istrinya untuk duduk di sofa.
" Apa mama yakin? kenapa Revan tidak memberitahu kita?" tanya Mahendra penasaran
" Maka dari itu, harusnya Revan memberitahu kita sejak semalam, namun jangankan semalam bahkan sampai hari ini Revan masih tetap belum memberitahukan sesuatu kepada kita." ucap Lila dengan nada sendu di setiap kalimatnya.
" Bagaimana kalau kita ke sana saja ma, siapa tahu Revan sudah pulang ke mansion" ucap Mahendra memberikan solusi pada istrinya.
" Kalau begitu ayo kita berangkat pa, tunggu apalagi?" ucap Lila langsung bangkit berdiri dan menarik tangan Mahendra.
" Saina bagaimana ma?" tanya Mahendra kepada istrinya.
" Bukankah ada mbak, biarkan saja Saina bermain dulu" ucap Shella kemudian kembali menarik tangan Mahendra untuk segera berangkat menuju mansion milik Revan.
.......................................
__ADS_1
Suasana kediaman mansion milik Revan
...Nampak Revan tengah menatap ke arah balkon melalui kursi di ruang kerja miliknya, tidak ada yang Revan lakukan sedari tadi selain duduk melamun dan menatap langit langit....
...Lila dan Mahendra perlahan masuk ke dalam setelah mencari ke seluruh ruangan yang ada di dalam mansion tersebut namun tidak kunjung menjumpai putranya, sampai kemudian harapan terakhir mereka tinggallah ruang kerja milik Revan....
...Ketika keduanya masuk ke dalam ruangan milik Revan terlihat oleh keduanya Revan tengah duduk melamun menatap kosong ke arah depan yang lantas langsung membuat keduanya saling berpandangan....
" Revan..." panggil Lila namun tak ada jawaban sama sekali oleh Revan.
...Lila dan Mahendra kembali saling pandang di saat melihat anaknya sama sekali tidak merespon panggilan Lila....
" Van..." ucap Mahendra setengah berteriak sehingga membuat Revan langsung tersadar dari lamunannya.
...Revan yang tengah melamun lantas langsung tersadar dan langsung menoleh menatap keduanya karena suara teriakan Mahendra, Revan kemudian melangkahkan kaki mendekat ke arah keduanya....
" Kalian datang? apakah sudah dari tadi? kenapa kalian hanya berdiri di sini?" ucap Revan dengan nada datar
...Lila yang mendengar pertanyaan Revan hanya terdiam, Lila jelas jelas melihat ada gurat kesedihan pada wajah putranya namun Revan masih berusaha menutupinya seakan akan mengatakan bahwa semua baik baik saja....
" Apa Reina baik baik saja van?" tanya Mahendra
...Mendengar hal itu Revan hanya bisa menghela nafas panjangnya....
" Tentu saja pa, hanya saja Revan belum tahu di mana keberadaan Reina, papa dan mama tenang saja sebentar lagi Revan akan menemukan dan membawa Reina kembali ke sini" ucap Revan sambil tersenyum dengan terpaksa.
" Apa kamu yakin?" tanya Lila
" Tentu saja ma" ucap Revan masih dengan wajah yang tersenyum yang lantas membuat kedua orang tuanya saling pandang satu sama lain.
" Apa kamu baik baik saja nak? kamu bisa meluapkan segalanya pada kami, jangan hanya di pendam" ucap Lila pada akhirnya karena tak sanggup melihat Revan yang seperti ini.
" Ya ma tentu" ucap Revan lagi lagi dengan senyum yang membuat kedua orang tuanya semakin khawatir akan putranya.
__ADS_1
Bersambung