
" Tentu saja itu lucu bahkan aku sekarang sedang menertawakan kebodohan kita, apalagi lihat mukamu itu ekspresi bingungmu sungguh sangat lucu dan menggemaskan." ucap Reina kemudian mencubit gemas kedua pipi Revan.
...Revan yang mendapat cubitan itu sedikit terkejut tapi kemudian tersenyum simpul menatap ke arah Reina....
" Rein jangan sampai aku melakukannya di sini." ucap Revan dengan senyum yang mengandung arti.
...Reina yang mendengar hal itu langsung menghentikan gerakan tangannya kemudian mundur satu langkah dan langsung menutupi dadanya dengan menyilangkan tangan membentuk huruf X....
" Dasar mesum" ucap Reina dengan nada yang kesal karena Revan selalu mengaitkan segala hal dengan pikiran kotornya.
" Aku hanya bercanda, aku tentu masih tau tempat kenapa kamu sepanik itu." ucap Revan sambil mengacak acak rambut Reina.
" Revvvvvvvaaaaannn"
Revan yang mendengar teriakan kecil Reina hanya tersenyum.
" hemm apa anak ayah ini sudah lapar?" ucap Revan sambil setengah membungkuk ke arah perut Reina dan mengelusnya perlahan.
...Reina yang melihat tingkah Revan tersebut kemudian tersenyum dan dengan reflek mengusap pelan rambut Revan....
" Aku berharap apa yang kamu lakukan tulus van, semoga cintaku tidak hanya menjadi angan angan." ucap Reina dalam hati
" Lapar ayah aku mau makan" ucap Reina sambil menirukan gaya bahasa anak anak.
" Oh ya jadi anak ayah lapar ya, kalau begitu ayah akan mengajak ibu makan agar kamu bisa makan nak." ucap Revan yang ikut menanggapi Reina kemudian bangkit berdiri tegak dan menatap Reina dengan tersenyum.
" Ayo kita berangkat" ucap Reina
" iya"
...Reina dan Revan kemudian memutuskan untuk pergi makan sebelum pulang ke mansion. Di dalam mobil Revan tidak henti hentinya terus menggenggam tangan Reina dengan sesekali mengelus perut Reina yang masih datar seperti sudah menjadi kebiasaan kecil Revan akhir akhir ini....
" Kamu ingin makan apa?" tanya Revan sambil mencium punggung tangan Reina.
" Emmm apa ya.....oh aku mau bubur mang Odi Revan boleh ya." ucap Reina dengan semangat.
Revan yang mendengar hal itu lantas mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" Bubur mang Odi? siang bolong begini? kamu yakin?" tanya Revan
" Yakin 100 persen ya ya ya boleh ya" pinta Reina lagi sambil menyenderkan kepalanya ke tangan Revan sebelah kiri dengan gerakan mendusel dusel.
" Rein aku sedang menyetir jangan seperti itu kamu bisa membangkitkan sesuatu yang lain nantinya." ucap Revan dengan tetap menatap lurus ke jalanan.
...Sementara Reina yang mendengar ucapan Revan lantas begidik ngeri membayangkan apa yang akan Revan lakukan padanya jika junior milik Revan sampai bangun....
" Baiklah aku akan duduk dengan tenang asalkan kita makan siang bubur mang Odi" ucap Reina sambil kembali membenarkan posisi duduknya.
" Baiklah tapi hanya untuk kali ini saja ya Rein, dan ingat jangan sampai kamu mengerjai ku lagi seperti waktu itu kalau kamu masih melakukannya maka kamu akan terima hukumannya nanti malam." ucap Revan sambil melirik Reina sekilas.
" Revan kenapa kamu masih mengingatnya? itukan murni permintaan Revan junior bukan aku yang memintanya " ucap Reina membela diri.
" Iya ya ya maka dari itu anak ayah kali ini jangan nakal lagi ya." ucap Revan sambil mengelus perut datar Reina.
...Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit Revan memarkirkan mobilnya di parkiran area taman karena memang letak warung bubur mang Odi harus sedikit masuk ke dalam jadi mau tidak jika ingin pergi ke sana harus berjalan kaki melewati area taman....
...Revan dan Reina menyusuri area taman dengan santai sambil sesekali bersenda gurau entah mengapa ketika Revan bersama dengan Reina suasana seperti langsung mencair dan mengalir dengan sendirinya sangat berbeda sekali dengan Iriana dulu jangankan untuk bercanda bahkan berbicara pun dalam sehari bisa dihitung dengan jari. Entahlah Revan dan Iriana seperti sibuk dalam dunianya masing masing sehingga melupakan hal yang penting bahwa kebersamaan dan kehangatan juga di perlukan dalam sebuah rumah tangga....
" Mang bubur spesialnya 2 ya." ucap Reina dengan semangat.
" Siyap seperti biasa kan neng?" tanya mang Odi
" Iya bang"
"Cie si eneng bawa siapa nih meni kasep pisan" ucap mang Odi sambil menggoda Reina.
" Ini suami Reina mang"
" Wah wah si eneng pinter ya kalau milih calon suami sip dah." ucap mang Odi
...Revan yang mendengar percakapan keduanya hanya bisa tersenyum karena tidak tahu harus menanggapinya bagaimana....
Ketika percakapan masih terus mengalir dari arah meja belakang terdengar suara yang familiar di telinga Revan.
" Revan"
__ADS_1
...Revan yang mendengar panggilan tersebut lantas langsung menoleh dan sesuai dugaannya bahwa pemilik suara tersebut adalah mantan mertuanya yaitu ibu kandung Iriana....
" Siapa van?" tanya Reina
" Bu Erika Ibunya Iriana" ucap Revan dengan santai sambil kemudian menggandeng tangan Reina untuk menghampiri Erika.
...Mendengar perkataan Revan bahwa yang tengah duduk menikmati bubur disana adalah ibu Iriana jantung Reina langsung seperti berpacu dengan cepat Reina seperti bisa merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi sebentar lagi....
" Ibu apa kabar?" ucap Revan sambil menyalimi tangan Erika.
...Melihat Revan yang menyalimi Erika tentu Reina sebagai istrinya juga harus menghormati Erika sebagai mantan mertua suaminya itu dan akhirnya Reina pun ikut menyalami Erika, namun ketika Reina sudah setengah membungkuk hendak menyalimi Erika tiba tiba saja Erika malah menarik tangannya dengan kasar sehingga sedikit mengenai kening Reina....
...Reina yang mendapat penolakan dari Erika lantas langsung bangkit dan memasang senyuman walau itu terpaksa, belum lagi keningnya terasa sedikit sakit karena kibasan tangan Erika tadi....
" Apa keningku tadi terkena cincin bu Erika ya? kenapa rasanya sedikit perih" ucap Reina dalam hati namun tidak berani meraba keningnya takut Revan khawatir dan menjadi berbuntut panjang nantinya.
" Ini pasti hanya kebetulan tidak mungkin bu Erika tiba tiba membenciku padahal baru pertama kali bertemu." ucap Reina lagi dalam hati.
" Baik van, sini duduk kita makan sama sama" ucap Erika sambil tersenyum ke arah Revan.
...Revan kemudian menggeret kursi dan mempersilahkan Reina untuk duduk disana. Erika yang melihat hal itu tentu semakin geram dan tidak suka....
" Dasar anak pelakor, anak dan ibu sama saja suka merebut kebahagian orang." ucap Erika dalam hati yang melihat interaksi keduanya.
" Apa kamu kepanasan Rein? kenapa kamu berkeringat sekali?" ucap Revan yang melihat keringat sudah membanjiri kening Reina tanpa memperdulikan Erika disana dan langsung mengambil tisu kemudian mengelapnya.
" Ehemmm, bagaimana Saina sekarang van?" ucap Erika
" Saina baik bu, mungkin 1 atau 2 tahun lagi aku ingin memasukkannya ke sekolah dasar agar Saina bisa berinteraksi dengan teman sebayanya." ucap Revan dengan santai
" Baguslah kalau begitu, ngomong ngomong siapa dia van apa dia asisten pribadimu?" ucap Erika sengaja menekan kata asisten pada kalimatnya.
...Revan dan Reina yang mendengar ucapan Erika barusan tentu langsung menoleh secara bersamaan....
" Asisten pribadi? apa aku sungguh terlihat seperti itu?" ucap Reina dalam hati sambil menatap Erika tak percaya.
Bersambung
__ADS_1