
...Keesokan paginya Reina bersiap siap untuk berangkat ke toko dengan mengendarai sepedah motor kesayangannya....
Sesampainya ditoko Reina sudah disambut oleh Fina dan ke empat karyawannya.
" Pagi mbak." Sapa Ririn salah satu pegawainya.
" Pagi rin pagi semua, saya keatas dulu ya."
Ucap Reina dengan terus melangkahkan kaki menuju ruangan nya.
Setelah kepergian Reina ke ruangannya dari arah luar masuk seorang pria dengan pakaian rapi dan tentu saja bermerk.
" Apa Reina ada?" Tanya pria tersebut.
" Ada perlu apa ya? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Fina penasaran .
" Saya ingin memesan sebuah gaun dan ingin membahasnya langsung dengan Reina." Ucap pria tersebut.
...Karena pria tersebut membicarakan pesanan sehingga Fina mengantarnya menuju ruangan Reina tanpa rasa curiga sedikit pun. Setelah sampai di depan pintu ruangan Reina, Fina mempersilahkan pria itu untuk masuk kemudian melangkahkan kakinya pergi kembali kebawah....
Tok tok tok
" Masuk" ucap Reina tanpa melihat siapa yang datang dan terus menatap kertas sketsa nya.
Pria itu melangkahkan kakinya masuk tanpa bersuara dengan menampilkan senyuman liciknya tanpa diketahui Reina.
" Lama tidak bertemu na" ucap pria tersebut.
Deg
...Reina yang familiar dengan panggilan dan nada suara itu seketika menghentikan gerakan tangannya. Tangan Reina bergetar hebat lidahnya keluh tak bisa mengatakan apapun. Sebisa mungkin Reina menyembunyikan rasa ketakutannya, karena tangan Reina yang tidak bisa berhenti bergetar dengan perlahan Reina menurunkan tangannya ke bawah meja agar pria itu tidak dapat melihatnya karena jika pria tersebut mengatuhuinya hal itu akan semakin membuat pria ini menggila....
Reina kemudian mendongakkan kepalanya perlahan ke arah sumber suara.
Dia kembali ucap Reina dalam hatinya.
" Ge..ge.. a..pa yang kamu lakukan di sini" ucap Reina dengan setenang mungkin.
" Aku suka pandangan itu, kau tetap sama na hahahaha." Suara tawa itu seketika menggema ke seluruh ruangan menambah kesan semakin mencekam yang di rasakan Reina di ruangan itu.
__ADS_1
...Dia adalah Gerald Permadi mantan kekasih Reina pada masa kuliah. Awalnya hubungan mereka berjalan manis dan seperti hubungan selayaknya sepasang kekasih pada umumnya. Namun ketika berjalan hampir satu tahun Gerald mulai menunjukan sifat aslinya. Gerald yang sangat posesif mulai melarang Reina untuk mendekati laki laki dengan alasan apa pun meski itu tugas yang diberikan dosen sekalipun, jika Reina melanggar dan berani mendekati laki laki Gerald tidak segan segan untuk menampar dan memukulnya namun sedetik kemudian setelah puas melakukan hal itu kepada Reina, Gerald selalu mencium dan mengelus bekas luka secara perlahan yang ia timbulkan sambil mengucapkan kata " maaf aku menyakitimu " , seakan akan dia mempunyai kepribadian ganda yang terkadang baik namun terkadang sangat kasar....
...Tidak sampai disitu perubahan sikap Gerald semakin terlihat setiap harinya. Gerald yang notaben nya adalah seorang anak pengusaha yang sukses selalu bisa berbuat sesukanya tanpa takut apapun. Gerald bahkan diam diam menyuruh seseorang untuk selalu mengikuti kemana pun Reina pergi dan melapor padanya, jika Reina ketahuan melakukan hal hal yang tidak disukai Gerald ia akan menyiksa Reina hingga Reina mengatakan bahwa ia salah tanpa memberikan penjelasan apa kesalahan yang Reina perbuat. Hidup Reina sudah seperti boneka yang selalu digerakkan tanpa pernah bisa bebas, namun karena Reina terus mengingat bahwa ada orang tuanya yang harus selalu ia bahagiakan sehingga Reina memilih untuk bertahan hingga masa kuliah berakhir....
" Ge.. semua sudah lama berakhir. Kini biarkan aku memulai hidupku yang baru ya." Ucap Reina dengan hati hati karena takut membangunkan sosok iblis dalam diri Gerald.
...Gerald yang mendengar hal itu menatap Reina dengan senyuman iblisnya dan terus berjalan mendekati Reina kemudian menarik tangan Reina dengan kasar hingga membuat Reina yang semula duduk di kursinya tertarik berdiri mengikuti arah gerakan tangan Gerald....
" Kamu bilang memulai hidup baru na? Cuih.. hidup baru dengan Revan. Tidak semudah itu na." Ucap Gerald dengan nada keras hingga membuat telingan Reina sedikit berdengung.
...Reina hanya merutuki kebodohannya dalam mendesain ruangan kerja yang kedap suara, niat hati Reina ingin menjaga privasi pelanggan agar tidak ada informasi yang bocor terdengar keluar, malah menjadi boomerang disaat seperti ini tanpa Reina duga....
" Re..van.. kamu salah paham ge. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya." Ucap Reina hati hati.
" Oh tidak ada ya? Lalu apa yang kalian lakukan di dalam rumah begitu lama ha?" Ucap Gerald dengan senyum mengejeknya.
Pikiran Reina kemudian melayang pada momen ketika Reina mengundang Revan untuk makan ke rumahnya.
" Kamu memata mataiku Ge?" Jawab Reina sambil melotot kearah Gerald.
...Sontak hal itu membuat Gerald marah dan kemudian mencengkram dagu Reina dengan keras seakan kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali bagi Reina. Pikiran pikiran buruk mulai datang menghampiri Reina tak kala rasa sakit mulai menjalar akibat cengkraman tangan Gerald....
Tok tok tok
...Adegan selanjutnya Gerald melepaskan cengkramannya kemudian membisikkan sesuatu kepada Reina....
"Kau hanya milikku na, bukan karna aku diam saja aku tidak tahu apa saja kelakuanmu. Oh ya bukankah Surabaya adalah tempat yang tenang." Ucap Gerald dengan nada berbisik kemudian pergi melangkah keluar ruangan.
...Reina tersentak mendengar ucapan Gerald bukan karena bulu romanya yang berdiri akibat hembusan nafas Gerald melainkan fokus Reina yang teringat akan kedua orang tuanya, ia hafal betul jika Gerald tidak pernah main main dengan ucapannya....
" Ayah .. ibu.." ucap Reina dalam hati dengan masih termenung dan mata berkaca kaca. Rasa sakit disekitar dagunya serta tangan yang tidak berhenti bergetar tidak lagi dirasakan oleh Reina tak kala ia membayangkan apa yang akan dilakukan Gerald dengan kedua orang tuanya.
...Fina yang masuk ke dalam ruangan dan berpapasan dengan Gerald di pintu kaget melihat keadaan Reina yang begitu kacau....
" Astaga Rein, apa yang terjadi? Are you ok? Rein Reina jawab jangan diem aja." Ucap Fina dengan nada panik melihat keadaan sahabatnya itu ditambah bekas merah seperti cengkraman tangan di area dagu dan tangannya yang semakin membuat Fina khawatir akan kondisi sahabatnya.
Reina yang ditanya hanya diam dengan tatapan kosong tanpa mengeluarkan suara apapun.
" Biarkan gue sendiri dulu Fin." Ucap Reina sambil berdiri kemudian melangkah pergi kearah luar meninggalkan Fina.
__ADS_1
" Apa yang terjadi dengannya, apa aku melewatkan sesuatu?" Ucap Fina dalam hati sambil terus menatapi kepergian sahabatnya itu.
...Reina terus berjalan dengan tatapan kosong menyusuri daerah pertokoan sambil terus memikirkan nasib kedua orang tuanya tanpa melihat keadaan sekitar. Ia terus berjalan tanpa tahu tujuannya akan kemana. ...
...Dari kejauhan mobil yang ditumpangi Revan melesat melintasi daerah pertokoan menuju cafe ujung pusat pertokoan di kawasan ini untuk menumui seorang klien. Wili yang sedang fokus menyetir tanpa sengaja seperti melihat Reina berjalan tanpa arah yang sesekali hampir menabrak lampu jalanan membuat Wili mengerutkan kening dan bertanya tanya apa yang sedang terjadi pada Reina....
" Bukankah itu nona Reina tuan, sepertinya ia sedang ada masalah sehingga tidak fokus dengan jalanan." Ucap Wili yang hanya dibalas lirikan oleh bosnya itu.
Awalnya Revan tampak acuh atas arah pembicaraan Wili namun ketika Revan melirik sekilas ke arah Reina ia menjadi penasaran apa yang terjadi dengan gadis itu sehingga membuatnya tidak fokus.
" Hentikan mobilnya wil." Ucap Revan yang mendadak sehingga membuat Wili menancap rem dengan tiba tiba.
" Apa kau sudah kehilangan sim mu" ucap Revan dengan nada ketus.
" Maaf tuan."
" Atur ulang pertemuanku dengan Wijaya" ucap Revan dengan nada santai namun membuat Wili yang mendengarnya melongo.
" Tapi tuan."
" Aku tidak akan mengulangi perkataanku Wil." Ucap Revan yang kemudian membuka pintu mobil untuk menghampiri Reina.
Wili yang di tinggalkan itu hanya menatap kepergian bosnya dengan wajah bingung.
...Sementara Revan terus berjalan mendekat ke arah Reina, ketika sampai dibelakangnya Revan berusaha memanggil nama Reina tapi bukan mendapat jawaban, Reina yang dipanggil hanya berhenti dengan badan yang sedikit bergetar. Apa yang terjadi dengannya ? apa dia mengira aku hantu. Tanya Revan dalam hati melihat tingkah Reina....
" Hei... Rein.." panggil Revan sekali lagi namun Reina tetap berdiri mematung di depannya.
...Reina yang familiar dengan suara itu hanya bisa diam mematung dengan tubuh bergetar, perkataan Gerald tadi pagi seakan sudah seperti kaset rusak yang terus memutar di kepala Reina....
...Pada akhirnya Reina memilih untuk terus berjalan meninggalkan Revan, Revan yang kebingungan mengejar langkah Reina untuk meminta penjelasan hingga kemudian Revan berhasil memegang tangan Reina dan menghentikannya untuk terus berjalan....
" Ja.. ngan.. sen..tuh saya." Ucap Reina dengan nada yang bergetar namun dengan wajah diarahkan kesamping agar Revan tak bisa melihat matanya yang tengah berkaca kaca menahan tangis.
Revan yang mendengar ucapan Reina semakin dibuat bingung apalagi Reina yang terus menoleh ke kanan dan ke kiri seakan sedang memastikan sesuatu.
" Apa kau sedang berbicara dengan lampu jalan ha? Tatap aku jika aku sedang berbicara dengan mu." Bentak Revan yang seketika membuat Reina tersentak dan mendongakkan kepala ke arah Revan di iringi dengan tetesan air mata yang mengalir jatuh dan tidak bisa ditahan lagi.
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa untuk like, vote, dan komen kakak
See you