
...Sementara itu di mansion milik Revan terlihat Revan sedang tertidur lelap dengan suasana yang gelap gulita tanpa di temani cahaya lampu bersamanya....
...Di saat tidur lelapnya tiba tiba saja Revan terbangun dengan nafas yang memburu dan keringat yang bercucuran hingga membasahi baju yang ia kenakan....
" REINA!" teriak Revan kala terbangun dari mimpinya dengan nafas yang memburu.
...Revan lantas secara spontan menatap ke arah sekeliling dan ia baru sadar bahwa itu semua hanya mimpi dan bukanlah sebuah kenyataan....
" Ada apa ini? kenapa aku bermimpi melihat Reina sedang menangis? lalu, siapa laki laki itu? " ucap Revan bertanya tanya pada diri sendiri akan arti dari mimpinya.
" Ah mungkin karena aku terlalu merindukan Reina hingga terbawa mimpi, bukankah besok tepat satu tahun kepergian Reina? aku akan berkunjung besok" ucap Revan dengan lirih sambil kemudian melepaskan bajunya yang basah dan melemparnya ke sembarang arah kemudian merebahkan diri dengan bertelanjang dada.
.................................
Keesokan harinya di mansion milik Gerald yang terletak di Singapura.
...Seperti janji Gerald kemarin, Gerald mendatangkan hairstylist profesional untuk mengubah penampilan Reina agar lebih fresh....
" Kamu sungguh tidak perlu melakukannya ge" ucap Reina mencoba untuk merayu Gerald agar tidak jadi memotong rambut panjangnya karena Reina tahu Revan sangat menyukai rambut panjang milik Reina.
" No, semuanya butuh lembaran baru dan kamu harus memulainya dari rambut." ucap Gerald sambil tersenyum
" Tapi aku menyukai rambut panjang ku ge" ucap Reina lagi
Senyuman di wajah Gerald lantas langsung menghilang kala mendengar ucapan Reina.
" KALAU KU BILANG POTONG YA BERARTI POTONG! APA KAU TIDAK MENGERTI JUGA?" ucap Gerald dengan setengah berteriak yang lantas mengejutkan Reina hingga ia langsung terdiam membisu.
...Cukup lama Gerald menatap tajam ke arah Reina karena keinginannya tidak dituruti, namun detik berikutnya Gerald tiba tiba kembali mencair seperti tidak terjadi apa apa barusan....
__ADS_1
" Oh oh apa aku menakuti mu Rein? aku minta maaf aku aku tidak sengaja melakukannya" ucap Gerald namun dengan nada yang lembut dengan posisi berjongkok menatap ke arah Reina yang tengah duduk di kursi roda.
...Sedangkan Reina yang mendengar dan melihat perubahan ekspresi maupun sikap Gerald hanya menggelengkan kepalanya, jujur saja hanya dengan bentakan dari Gerald nyali Reina sudah menciut, Reina begitu trauma dengan masa lalunya ketika bersama Gerald dulu, jika dulu Reina masih bisa lari dan berusaha untuk kabur, namun kali ini kenyataannya sungguh berbeda Reina tidak akan bisa kabur lagi dan melarikan diri, yang bisa Reina lakukan sekarang hanya patuh karena itu adalah kunci utama untuk menekan amarah Gerald agar tidak meluap....
" Bagus, aku lebih suka kamu yang penurut seperti ini" ucap Gerald dengan tersenyum sambil mengusap puncak kepala Reina dengan perlahan.
" Boleh aku bertemu dengan junior ge?" tanya Reina dengan nada lirih namun masih bisa di dengar oleh Gerald.
" Nanti setelah penampilanmu sudah lebih fresh ok" ucap Gerald kemudian mendorong kursi roda Reina menuju ke ruang tengah untuk menemui hairstylist.
************
Tempat pemakaman umum yang terletak di pinggiran ibu kota.
...Revan melangkahkan kakinya berjalan mendekat ke arah makam Reina dan anaknya dengan membawa dua ikat bunga mawar putih kesukaan Reina....
" Aku datang Rein, apa kamu merindukanku?" tanya Revan sambil meletakkan bunga mawar putih satu ikat di nisan milik Reina dan satu lagi pada nisan anaknya.
" Apa kamu tidak bahagia di sana Rein? kenapa semalam aku memimpikan mu menangis? apa mungkin karena kamu merindukanku?" ucap Revan dengan nada sendu di setiap kalimatnya.
Setelah mengatakan hal itu Revan kemudian lantas menoleh menatap pusara milik anaknya.
" Ah aku sampai melupakan anakku di sini, maafkan dady ya nak ....dady selalu saja lupa diri jika sedang berbincang dengan mami mu ini" ucap Revan sambil mengelus perlahan batu nisan milik anaknya.
" Apa Engkau terlalu menyayangi mereka Ya Allah hingga Engkau mengambil mereka berdua dari ku" ucap Revan sambil menatap kedua batu nisan yang bersebelahan di hadapannya.
*************
Mansion milik Gerald yang terletak di Singapura.
__ADS_1
...Sebuah mobil berwarna metalik keluaran terbaru berhenti tepat di halaman depan mansion, tidak beberapa lama perlahan pintu mobil mulai terbuka menampilkan sosok Permadi yang masih gagah dengan setelan jas mulai memasuki mansion milik Gerald....
...Permadi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kala langkah kakinya mulai memasuki mansion....
...Langkahnya kemudian terhenti ketika melihat seorang wanita tengah duduk di kursi roda namun dengan penampilan yang tak asing bagi Permadi, melihat wanita itu yang tak lain adalah Reina perlahan Permadi seperti langsung di tarik ke dalam kenangan masa lalunya satu persatu bagai sebuah alur cerita, hingga tiba tiba ketika kenangan itu terhenti pada malam tewasnya Maria di tangannya sendiri, lantas langsung membuat Permadi tersadar bahwa wanita di depannya itu bukanlah Maria....
" Maria......" ucap Permadi lirih tanpa sadar namun masih bisa di dengar oleh Gerald.
...Melihat kedatangan papanya Gerald lantas menyuruh kegiatan perombakan untuk penampilan Reina di hentikan, kemudian meminta beberapa pelayang untuk mengantarkan Reina ke kamar junior....
" Ada perlu apa papa sampai jauh jauh datang ke sini menemui ku?" ucap Gerald dengan nada yang ketus sambil tersenyum miring menatap ke arah Permadi.
" Tidakkah kamu harusnya menyambut kedatangan ku Ge? bukan malah seperti ini" ucap Permadi
" Ayolah pa...aku tahu bagaimana sifat mu itu, kau kira jarak antara Indonesia dan Singapura itu dekat, hingga kau bisa langsung kesini? aku tidak bodoh, aku yakin kamu datang dengan mempunyai maksud tertentu" ucap Gerald dengan sinis dan penuh penekanan.
" Baiklah jika kamu memeng mengetahuinya, tujuan papa datang kesini untuk menyuruh mu mengembalikan Reina pada Revan." ucap Permadi
Mendengar hal itu Gerald lantas naik pitam dan menatap tajam ke arah Permadi.
" Atas dasar apa kamu menyuruhku? bukankah kita sudah sepakat untuk menjalani hidup masing masing" ucap Gerald dengan kesal
" Gerald Permadi! mau bagaimanapun kau menolaknya kau tetap anakku! darah daging ku, mana bisa ayah dan anak saling bersebrangan seperti ini? lagi pula apa kau tidak tahu sekacau apa keadaan di sana? mereka bahkan mengira Reina telah mati, dan kau tahu apa yang lebih parah Erika menjadi gila karena mengganggap dia lah yang melenyapkan nyawa anaknya sendiri." ucap Permadi dengan kesal
...Sedangkan Gerald yang mendengar hal itu malah tertawa dengan terbahak bahak seperti tengah mendapat kesenangan baru....
" Asal kamu tahu, itu lah yang aku inginkan, bukankah kerja kerasku tidak sia sia dalam menciptakan situasi?" ucap Gerald dengan tertawa bangga akan keberhasilannya.
Mendengar ucapan Gerald lantas membuat Permadi terkejut.
__ADS_1
" Apa? jangan bilang kamu yang menciptakan seluruh situasi ini?" tanya Permadi sambil menatap ke arah Gerald menunggu jawaban.
Bersambung