
Di kediaman Iskandar
...Terlihat Shella tengah duduk sambil memandangi bunga bunga yang bermekaran di taman belakang rumahnya, sinar mentari pagi ini memang cukup terik namun Shella masih tetap dengan setia memandangi beberapa bunga di sana dengan tatapan kosong lurus ke depan entah apa yang tengah ia pikirkan sedari tadi....
" Bu... kemeja kotak kotak ayah ibu taruh di mana ?" teriak Iskandar karena tak menemukan Shella di manapun.
" Bu.... kamu di mana?" ucap Iskandar lagi karena tidak mendapat jawaban apapun dari Shella.
...Iskandar lantas berjalan mengelilingi rumah untuk mencari keberadaan Shella, namun setelah hampir mengelilingi rumah tetap saja Iskandar tak kunjung menjumpai Shella di mana pun....
" Di mana sih Shella kenapa hampir di setiap sudut rumah tidak kunjung aku temui?" ucap Iskandar pada diri sendiri.
" Hanya tinggal satu tempat taman belakang rumah, jika aku tidak kunjung menemukannya di sana juga, aku akan menyerah biarlah meski aku tidak mengenakan kemeja kotak kotak itu" ucap Iskandar lagi sambil melangkahkan kakinya menuju taman belakang.
...Iskandar lantas berjalan menuju taman, ketika sampai di sana Iskandar lantas menggeleng gelengkan kepalanya ketika mendapati Shella tengah duduk termenung di sana sambil menatap kosong ke arah depan....
" Bu.. apa yang kamu lakukan di sini" ucap Iskandar ketika berdiri tepat di belakang Shella.
"......"
...Melihat Shella tak kunjung menanggapinya lantas membuat Iskandar reflek mengucap istighfar cukup keras yang lantas mengejutkan Shella yang tengah melamun....
" Astagfirullah bu....." sentak Iskandar cukup keras yang mengejutkan Shella.
" Apa sih yah... ibu kaget nih" ucap Shella yang lantas langsung mendongak menatap ke arah Iskandar karena terkejut.
" Apa lagi sih yang sedang ibu lamunkan? sampai ayah panggil berulang kali ibu tak kunjung menjawab juga" tanya Iskandar sambil mendudukkan pantatnya di kursi sebelah Shella.
...Mendengar pertanyaan Iskandar lantas membuat Shella menghela nafas cukup panjang berulang kali....
" Ibu lagi memikirkan saran Revan tempo hari yah, sepertinya benar kata Revan kita harus segera memberi tahu Erika sebelum sesuatu yang buruk terjadi" ucap Shella sambil menatap ke arah Iskandar.
" Apa yang terjadi bu? bukannya kamu bilang kamu percaya kepada Erika? lantas apa ini?" ucap Iskandar dengan bingung karena ucapan istrinya kemarin dan hari ini tidak sama.
" Setelah ku pikir pikir aku juga tidak terlalu yakin dengan pendapatku,yang aku tahu Erika seorang yang penyayang kepada putrinya jadi kemarin aku sempat berpikir dan yakin bahwa Erika tidak akan berbuat sesuatu yang mengerikan kepada seorang gadis muda terlepas Erika tahu atau tidak bahwa Reina adalah putrinya" ucap Shella
...Mendengar ucapan sang istri membuat Iskandar menghela nafasnya cukup panjang....
__ADS_1
" Lalu ibu sekarang maunya gimana?" tanya Iskandar kepada istrinya.
" Ibu ingin memberi tahu Erika yang sebenarnya" ucap Shella dengan yakin
" Apa ibu yakin dengan ucapan ibu barusan?" tanya Iskandar sekali lagi
" Iya yah, ibu sudah mencoba memantapkan hati ibu sedari tadi karena keputusan yang ibu buat kali ini pengaruhnya akan sangat besar untuk kita" ucap Shella dengan nada yang sendu di setiap kalimatnya.
" Pikirkan dulu baik baik bu, jika ibu sudah siap kita bisa langsung pergi ke rumah Erika... namun sebelum itu ayah ingin ibu mempertimbangkannya dengan matang terlebih dahulu karena konsekuensi dari keputusan ibu mempengaruhi segalanya." ucap Iskandar lagi
" Iya yah ibu sudah memikirkan segalanya sedari tadi dan ibu akan menerima segala konsekuensi apapun meski itu yang terberat sekalipun" ucap Shella dengan yakin
" Baiklah jika ibu sudah membuat keputusan " ucap Iskandar kepada Shella
..........................
Sementara itu di mansion kediaman milik Revan
" Iya ma, aku setuju akan hal itu" ucap Revan sambil memegang ponsel miliknya di telinga
" Jadi kamu benar benar setuju untuk melakukan acara tujuh bulanan di mansion utama?" tanya Lila di seberang sana sekali lagi memastikan ucapan Revan
...Mendengar ucapan putranya lantas membuat Lila sedikit kecewa karena sudah banyak hal besar yang ia rancang untuk acara tujuh bulanan Reina....
" Apa kamu yakin van? bukankah kalian tidak pernah mengadakan acara resepsi atau bahkan acara adat pernikahan sebelumnya, bagaimana kalau kita tambahkan prosesi siraman untuk acara tujuh bulanan Reina besok?" ucap Lila membujuk Revan
" Mama itu sungguh tidak perlu, pasti akan sangat melelahkan untuk Reina jika masih harus melakukan proses siraman untuk acara tujuh bulanan nanti" ucap Revan
" Yah... apa kau yakin van?" tanya Lila lagi siapa tahu anaknya akan berubah pikiran.
" Mama aku mohon" ucap Revan lagi namun dengan nada yang lebih lembut agar ibunya tidak lagi memaksakan kehendaknya akan acara tersebut.
" Baiklah baiklah ... hentikan ucapan mu itu kau sama sekali tidak berubah, mama selalu tidak bisa menolak keinginanmu jika suara lembut mu itu menyentuh pendengaran mama" ucap Lila pada akhirnya
" I love you mom" ucap Revan kemudian
" Apalagi ini? jangan membuat mama semakin geli Revan" ucap Lila dengan malu malu
__ADS_1
" Apa salahnya mengucapkan kata cinta pada ibu sendiri? toh tidak ada yang melarangnya bukan?" goda Revan kepada ibunya.
" Kau ini bisa saja ya, sudah sana kembali ke kamar mu Reina pasti sudah menunggumu sedari tadi, mama tutup dulu telponnya ya... " ucap Lila
" Iya ma" ucap Revan sambil menutup sambungan telponnya.
Ceklek
...Suara pintu kamar di buka menampilkan sosok Revan yang berjalan memasuki kamarnya dan mendekat ke arah ranjang....
" Kenapa kamu lama sekali" rengek Reina ketika melihat Revan masuk ke kamar.
" Iya tadi aku masih harus mengangkat telpon mama terlebih dahulu" ucap Revan sambil naik ke atas ranjang dan ikut senderan di samping Reina.
" Mama? apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Reina
" Tidak ada" jawab Revan dengan singkat sambil memainkan rambut Reina dengan gemas.
" Lalu? jika semuanya baik, lantas apa yang membuatmu begitu lama di luar?" tanya Reina lagi
" Apa kamu cemburu kepada mertua mu sendiri Rein?" goda Revan dengan senyum mengembang di wajahnya.
Mendengar Revan yang selalu saja membuat plesetan dari pertanyaannya lantas membuat Reina gemas dan langsung mencubit perut datar milik Revan dengan cukup keras.
" Aw aw aw ampun ampun.... " teriak Revan mengadu kesakitan
" Biar aja, biar kapok" ucap Reina dengan tetap melintir perut Revan
...Karena Reina tak kunjung melepaskan tangannya juga membuat Revan kemudian lantas langsung mencium bibir Reina, dan ternyata tanpa di sangka sangka cara itu sangat ampuh untuk Reina karena setelah di cium perlahan tangan Reina mulai terlepas dari perutnya....
" Revannnnnn" teriak Reina
" Tapi kamu suka kan" goda Revan lagi
" Apaan sih kamu" ucap Reina sambil memegang kedua pipinya yang memerah karena malu.
...Entahlah meski ini sudah menjadi ciuman ke sekian kalinya bagi Reina namun entah mengapa masih saja membuat Reina malu dengan pipi yang merah bak kepiting rebus kala Revan tengah menciumnya....
__ADS_1
Bersambung