Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 114 Tidak akan kehilangan ibu untuk yang kedua kalinya


__ADS_3

Mansion kediaman Gerald


...Terlihat Gerald tengah duduk di sebuah kursi kerja dengan cahaya temaram dari lampu tidur di meja kerjanya, entah mengapa Gerald malah menyukai susana yang gelap seperti saat ini ketimbang ruangan yang terang dipenuhi cahaya lampu mansion....


...Gerald nampak duduk termenung sambil menatapi sebuah foto di tangannya dalam kegelapan malam....


" Reina" ucap Gerald dengan nada sedih yang terdengar begitu menyayat hati.


...Meski suasana dalam ruang kerja Gerald begitu gelap, namun itu sama sekali tidak membatasi bahkan menghalangi Gerald dalam memandangi potret Reina di tangannya, wajah Reina seakan sudah terpatri di benak Gerald sehingga tanpa melihat dengan jelas pun ia masih bisa mengenali wajah Reina dengan baik....


...Gerald lantas kemudian meraba meja kerjanya dan membuka laci di sebelah kanannya mengambil selembar foto dari sana....


...Gerald kemudian mendekatkan foto yang baru saja ia ambil dari laci dengan potret Reina di tangannya, Gerald nampak diam sejenak memandangi foto keduanya di mana sebelah kiri Reina dan di sebelah kanan seorang wanita dengan wajah mirip seperti Reina namun sedang mengenakan pakaian jadul dengan gaya yang cukup modis pada masanya....


" Aku pasti mendapatkan mu kembali Rein" ucap Gerald sambil menatap foto Reina.


" Mama tenang saja aku tidak akan kehilangan mama untuk yang kedua kalinya, aku janji" ucap Gerald lagi sambil memandang foto di sebelah kanannya.


.................................


...Sementara itu setelah dari kantor Revan, Iriana langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya dengan susana hati yang sangat hancur dan kecewa akan perlakuan Revan kepadanya....


...Iriana lantas bergegas masuk ke kamarnya dengan menahan air mata yang sudah berada di ujung sudut matanya bersiap akan jatuh ke meluncur ke bawah....


" Kamu sudah pulang nak? apa kamu mau mak......." ucap Erika namun terpotong karena Iriana hanya melewatinya dan langsung naik ke atas kamarnya.

__ADS_1


" Ada apa dengan anak itu? apakah terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui?" ucap Erika pada diri sendiri sambil melihat langkah kaki anaknya yang kian menghilang dari pandangannya.


...Iriana memasuki kamarnya dengan langkah yang cepat kemudian mendorong sedikit pintu kamarnya dan langsung merebahkan diri di ranjang kamarnya....


" Aku tahu aku salah, tapi harusnya kamu bisa membuka sedikit pintu maaf mu untukku van? apakah itu sangat sulit? aku bahkan sudah mengucapkan kata maaf berulang ulang kali namun kamu tetap saja tidak menggubrisnya, selalu saja Reina Reina Reina dan Reina, hanya nama itu yang selalu kau sebut dan kau ulang setiap waktu. Apakah sebegitu cepat namaku tergantikan dengan Reina di hatimu van?" tanya Iriana pada diri sendiri yang hanya di balas oleh kesunyian yang memenuhi ruangan kamarnya.


...Air mata Iriana tak lagi mampu di bendung satu persatu jatuh membasahi pipinya, ucapan Revan tadi di basement benar benar membuatnya terluka dan kecewa, ternyata keputusannya untuk meninggalkan Revan dulu adalah salah besar dan kini konsekuensi dari perbuatannya dulu yang Iriana harus tanggung saat ini tidak hanya kehilangan Revan bahkan ia juga harus kehilangan Saina putri yang sudah ia kandung selama 9 bulan lamanya....


" Kenapa aku tidak pernah bahagia, bahkan Revan dan Gerald mereka berdua seakan membuang ku demi seseorang bernama Reina, memang apa bagusnya Reina ha? kenapa semua orang begitu memuja dan membelanya? apa dia lebih baik dariku?" ucap Iriana lagi dengan sesenggukan karena tangisnya.


" Aku membencimu Iriana, benar benar membencimu" ucap Iriana lagi di sela sela tangisnya.


" Aku membencimu!" ucap Iriana lagi dan lagi mengulangi kata kata yang sama.


...Sementara itu dari arah luar kamar tengah berdiri Erika yang mendengarkan semua keluh kesah Iriana dari dalam kamar, entah karena sudah kalut atau apa sehingga membuat Iriana lupa mengunci pintunya dan hanya menutupnya setengah saja, sehingga membuat Erika bisa mengintip dan mendengar apa yang sedang terjadi pada anaknya dengan jelas....


...Setelah sampai di dapur Erika lantas langsung mendial nomor Permadi di layar ponselnya....


" Halo sayang apa kau merindukanku?" tanya Permadi di seberang sana ketika tahu bahwa si penelpon adalah Erika.


" Kenapa kamu tidak juga bergerak?" tanya Erika langsung pada intinya


" Apakah ini tentang Revan dan Reina?" tanya Permadi yang menebak arah pembicaraan Erika.


" Ya tentu saja, emang ada lagi selain mereka berdua? " ucap Erika dengan nada yang ketus menjawab pertanyaan Permadi.

__ADS_1


" Hahahahaha aku kan sudah berkali kali bilang untuk sabar, kenapa kamu sangat terburu buru sih?" ucap Permadi saat mendengar perkataan Erika barusan.


" Sampai kapan aku harus menunggu? aku juga punya batasan untuk kesabaran ku, mengapa aku lebih merasa bahwa kamu hanya sedang mengulur ngulur waktu saja tanpa pernah bertindak, apa kau tengah mempermainkan ku?" ucap Erika dengan nada sedikit emosi akan tanggapan Permadi.


" Bukankah aku sudah pernah membuktikan ucapanku kemarin, dan sekarang apa kau masih mempertanyakan tentang diriku?" ucap Permadi


" Ya, namun kau tidak benar benar melakukannya dengan sepenuh hati bahkan anak buah yang kau banggakan itu berakhir tragis di tangan putramu sendiri" sindir Erika kepada Permadi


" Kau benar benar sesuatu ya" ucap Permadi menanggapi semua ocehan Erika dengan jawaban yang singkat, padat dan jelas.


" Kalau kau tidak mau ya sudah, harusnya kau mengatakan hal itu sedari awal jadi aku tidak usah menunggumu terlalu lama." ucap Erika dengan kesal


" aku kan sudah katakan tunggu waktu yang tepat, kenapa kau selalu saja merengek tentang hal itu" ucap Permadi dengan kesal di seberang sana.


" Lalu kapan waktu yang tepat? kau selalu saja bilang tunggu tunggu dan tunggu tapi sampai kapan? apa sampai matahari terbit dari barat?" ucap Erika tak kalah kesal


" Kau ini kenapa berisik sekali sih? kalau aku bilang tunggu ya tunggu!" ucap Permadi lagi


"......"


" Nah begitu lebih baik, diam mu lebih terlihat manis daripada ketika kamu berisik dan terus merengek." ucap Permadi lagi


" Pokoknya aku tunggu pergerakan mu, jika kamu tidak kunjung bergerak maka aku yang akan bergerak sendiri" ucap Erika sambil mematikan sambungan telponnya karena ia sangat kesal dengan Permadi yang selalu saja bertele tele dan menyuruhnya menunggu tanpa tahu kapan keinginannya tercapai.


" Jika kau tidak bisa, maka aku akan melakukannya sendiri! Iriana jauh lebih penting dibandingkan apapun termasuk dirimu" ucap Erika pada diri sendiri ketika sambungan telponnya sudah terputus.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2