Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 126 Ini tidak mungkin


__ADS_3

...Setelah pembicaraan dari hati ke hati, Revan dan Reina memutuskan untuk pulang usai sarapan....


...Mobil yang di tumpangi Revan membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang....


" Kita mampir ke rumah ibu ya Rein" ucap Revan dengan hati hati


" Apa harus sekarang Van?" tanya Reina


" Lebih cepat lebih baik, lagi pula ini sudah terlalu lama" ucap Revan sambil melirik sekilas ke arah Reina kemudian kembali fokus menatap ke jalanan.


...Mendengar hal itu lantas membuat Reina terdiam tak menanggapi ucapan Revan....


...Melihat istrinya yang tengah gusar Revan kemudian lantas mengambil tangan kanan milik Reina kemudian mencium punggung tangan Reina lalu menggenggamnya dengan erat....


" Apa yang kamu cemaskan? tenanglah aku akan selalu bersamamu... kamu ingat kan Rein cemas dan stres itu tidak di anjurkan untuk ibu hamil." ucap Revan mengingatkan Reina


" Revannnnnn.. selalu saja deh " ucap Reina dengan cemberut sambil mengelus perutnya perlahan dengan sayang.


" Udah ya... jangan cemberut lagi jelek tahu... kita ke rumah ibu sekarang ya.." ucap Revan kembali membujuk Reina.


" Tapi van..." sanggah Reina tapi urung karena langsung dipotong oleh Revan.


" Reina yang cantik ibu dari anak anakku, ibunya Baby Rj mau pergi ke rumah ibu kan..." bujuk Revan dengan sedikit menggoda Reina


" Dasar...." ucap Reina sambil menoyor pelan bahu Revan.


...Pada akhirnya mau tidak mau Reina menuruti ucapan Revan untuk pergi berkunjung ke rumah orang tuanya....


...Beberapa menit kemudian Revan dan Reina sampai di halaman depan rumah orang tua Reina, keduanya kemudian lantas menuruni mobil mereka bersiap memasuki rumah....


" Rein kamu masuk dulu ya... aku mau mengambil sesuatu di bagasi" ucap Revan

__ADS_1


" Tapi van..." ucap Reina


" Sudah kamu duluan saja sebentar lagi aku menyusul" ucap Revan memotong pembicaraan Reina barusan.


...Dengan langkah yang berat pada akhirnya Reina menuruti ucapan Revan untuk masuk terlebih dahulu ke dalam....


...Reina perlahan melangkahkan kakinya memasuki rumah orang tuanya, entah mengapa langkahnya kali ini begitu terasa berat sekali Reina juga tidak tahu apa alasannya tapi sebisa mungkin Reina menepis perasaan tersebut....


...Reina lantas mencari keberadaan orang tuanya di setiap sudut rumah namun anehnya baik ibu maupun ayahnya tidak ada di sana, Reina kemudian melangkah ke arah halaman belakang siapa tahu mereka tengah bersantai di sana namun tetap saja tidak ada....


" Ibu sama ayah kemana? kok tumben di mana mana gak ada... apa jangan jangan ada di kamar ya..." ucap Reina pada diri sendiri


...Reina lantas melangkahkan kakinya menuju kamar orang tuanya, namun saat Reina sampai tepat di depan pintu kamar orang tuanya, langkahnya tiba tiba terhenti kala mendengar percakapan ke dua orang tuanya....


" Ini ...... ini tidak mungkin terjadi bukan.... semua yang aku dengar barusan pasti salah kan? aku ....aku .... kenapa harus dia" ucap Reina dalam hati dengan tubuh yang diam mematung setelah mendengar ucapan orang tuanya.


...Reina kemudian lantas langsung melangkah pergi dan mengurungkan niatnya untuk menemui orang tuanya....


" Ada apa Rein?.... apa kamu tidak ingat kamu sedang hamil? bagaimana kalau terjadi hal buruk pada kalian berdua?" ucap Revan tanpa sadar dengan nada setengah berteriak.


...Mendengar perkataan Revan yang sedikit membentaknya bukannya marah dan menjawab seperti biasanya, yang Reina lakukan hanya diam mematung dengan tatapan kosong ke arah Revan....


...Revan yang melihat Reina tadinya hendak marah karena tingkah ceroboh Reina, malah urung setelah melihat reaksi Reina yang aneh....


" Aku... mau pulang van" ucap Reina sambil menggigit bibir bawahnya menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan Revan.


" Apa yang terjadi? kenapa Reina sangat aneh" ucap Revan dalam hati saat mendengar kata pulang terucap dari bibir Reina dengan nada yang tertahan.


" Apa ada yang terjadi Rein?" tanya Revan lagi namun dengan nada yang lebih lembut.


" Aku mohon van... aku mau pulang sekarang!" ucap Reina lagi namun kali ini dengan di iringi isakan kecil seperti tangis yang tertahan dengan suara yang sedikit gemetar.

__ADS_1


" Baiklah kita pulang sekarang, aku akan pamit pulang dulu sama ayah dan ibu." ucap Revan sambil mengusap perlahan kepala Reina kemudian hendak melangkah naik ke atas menemui kedua orang tua Reina.


...Saat Revan hendak pergi tangannya di tahan oleh Reina yang lantas langsung membuat Revan menoleh ke arah Reina kembali, Reina kemudian menggelengkan kepalanya seakan memberikan isyarat bahwa Revan tidak perlu menemui orang tuanya, melihat hal tersebut lantas membuat Revan menghela nafas panjangnya....


" Baiklah kita pergi sekarang" ucap Revan sambil menggandeng Reina dan berjalan melangkah ke luar rumah menuju mobil mereka bersiap untuk pulang.


***************


...Beberapa saat lalu sebelum Reina sampai di depan pintu kamar Iskandar dan Shella....


" Ada apa lagi bu? kenapa belakangan ini kamu sering sekali melamun?" tanya Iskandar kepada Shella yang tengah menatap kosong ke arah diding kamar mereka.


...Mendapat pertanyaan tersebut Shella lantas menghembuskan nafas panjangnya berulang kali yang malah membuat Iskandar menatap istrinya dengan bingung....


" Aku sedang memikirkan semua yang sedang terjadi belakangan ini yah..." ucap Shella


" Ada apa lagi bu?" tanya Iskandar yang tidak mengerti ucapan Shella barusan


" Aku merasa apa yang terjadi pada kita adalah sebuah karma yang harus kita tanggung dari kesalahan masa lalu yang telah kita perbuat" ucap Shella


" Bu .... bukankah kita sudah sepakat untuk melupakan kisah pahit kita? kenapa ibu mengungkitnya lagi? itu sudah belasan tahun bu..... percuma jika ibu terus menerus menyesali masa lalu karena waktu tidak akan pernah bisa di putar kembali" ucap Iskandar


" Aku tahu itu, aku tahu yah, hanya saja aku selalu saja terbayang dan merasa di hantui oleh rasa bersalah dari perbuatan masa laluku... harusnya aku tidak gila waktu itu... harusnya aku masih bisa berpikir waras akan kematian anakku.... harusnya aku tidak menukar putriku yang telah meninggal dengan putri Erika...harusnya aku tidak kembali menjalin kasih dengan mu yah... harusnya... harusnya... ibu benar benar menyesal" ucap Shella dengan nada yang gemetar seperti tengah menahan tangisnya.


" Apa yang ibu katakan! jika waktu itu ibu gila berarti ayah juga gila.... apa ibu pikir ayah tidak menyesal dengan segala hal yang aku lakukan kepada Erika? ayah menyesal bu... bahkan jauh di lubuk hati ayah yang terdalam ayah menyesal.... tapi apa lagi yang bisa kita lakukan? waktu tidak bisa di putar kembali bu! tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain memperbaiki segala hal yang telah kita lakukan di masa lalu, jadi ayah mohon stop menyalahkan diri ibu, karena hal itu membuat ayah semakin tersiksa..." ucap Iskandar meluapkan segala emosi di hati yang sudah ia pendam sekian lama.


" Ayah..." ucap Shella yang cukup terkejut dengan ucapan Iskandar barusan.


" Ternyata kita berdua sama sama hancur, tidak hanya aku.. bahkan ayah pun sama... sesuatu yang di mulai dengan kesalahan tidak akan pernah berakhir dengan bahagia, dan hal itu lah yang aku rasakan saat ini" ucap Shella dalam hati sambil menatap ke arah Iskandar dalam dalam, tanpa mengetahui bahwa di luar kamar mereka Reina mendengarkan semua pembicaraan mereka tanpa terlewatkan sedikitpun.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2