Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku

Bisakah Kau Buka Hatimu Untukku
Bab 141 Berbeda pendapat


__ADS_3

Di sebuah kamar hotel president suite


...Iriana terbangun dengan badan yang remuk redam dengan banyaknya tanda cinta di seluruh tubuhnya....


...Dengan perlahan Iriana mulai menuruni kasur dan bergegas ke kamar mandi dengan langkah yang tertatih karena rasa sakit di daerah kew*n*t***nya....


...Iriana lantas langsung berendam untuk menyegarkan dirinya....


" Benar benar sial si tua bangka itu, tenaganya gila banget, ku kira karena dia udah tua reyot bakal gampang ternyata tenaganya bahkan melebihi Gerald." gerutu Iriana sambil terus berendam di dalam bath up yang di penuhi dengan busa dan beberapa lilin aromaterapi yang membantu merileksasikan pikirannya.


...Setelah cukup lama Iriana berendam ia kemudian lantas keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah kimono untuk mengambil pakaiannya yang berserakan di luar....


...Iriana memasang satu persatu pakaiannya kemudian menatap ke arah nakas dengan senyum yang mengembang....


...Iriana kemudian lantas mengambil selembar cek yang di taruh di atas nakas untuk dirinya....


" 500 juta, lumayan juga ternyata bandot tua itu.... lumayan bisa untuk hedon nih" ucap Iriana dengan senyum bahagia sambil memasukkan selembar cek tersebut ke dalam dompet miliknya.


...Ketika Iriana sedang di landa kebahagiaan kala ia mendapat tips yang besar, ponselnya tiba tiba saja berdering membuat Iriana dengan malas mengangkatnya....


" Halo" ucap Iriana dengan ketus setelah mengusap ikon layar berwarna hijau pada layar ponselnya.


" Halo nona Iriana, akhirnya anda menjawab telpon juga, kami ingin memberitahukan bahwa ibu anda sedari tadi mengamuk dan terus saja menyebut nama Reina, apa nona bisa datang ke sini" ucap perawat tersebut


" Biarkan saja dia begitu, mungkin dia lagi kangen dengan anak bungsunya" ucap Iriana dengan santai


" Tapi nona ... jika anda datang ke sini mungkin ibu anda bisa sedikit lebih tenang" ucap perawat tadi kembali merayu Iriana untuk datang.


" Jika ku bilang biar ya biarkan saja, lagi pula aku membayar kalian dengan mahal, apa hanya itu yang bisa kalian lakukan ha?" ucap Iriana setengah berteriak karena kesal kemudian memutuskan sambungan telponnya begitu saja.


" Apa lagi sih, sebenarnya mau mama? Reina Reina Reina terus, bosen aku dengernya..." ucap Iriana dengan kesal kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel tersebut.


***************


Kembali ke mansion milik Gerald di Singapura


...Sedangkan Gerald yang mendengar hal itu malah tertawa dengan terbahak bahak seperti tengah mendapat kesenangan baru....

__ADS_1


" Asal kamu tahu, itu lah yang aku inginkan, bukankah kerja kerasku tidak sia sia dalam menciptakan situasi?" ucap Gerald dengan tertawa bangga akan keberhasilannya.


Mendengar ucapan Gerald lantas membuat Permadi terkejut.


" Apa? jangan bilang kamu yang menciptakan seluruh situasi ini?" tanya Permadi sambil menatap ke arah Gerald menunggu jawaban.


" Tepat sekali, bagaimana pa bukankah otakku sangat cerdas?" ucap Gerald dengan tawa menggema memenuhi mansionnya.


" Kamu gila ge kamu benar benar gila, segera akhiri semua ini ge, apa kamu tidak kasihan melihat Revan?" ucap Permadi sambil menggeleng gelengkan kepalanya karena tak percaya bahwa perbuatan Gerald sudah sampai sejauh ini.


Mendengar hal itu Gerald lantas tersenyum menatap ke arah Permadi.


" Kasihan pada Revan? oh ya? mungkin lebih tepatnya kasihan kepada Erika! bukankah begitu pa...pa" ucap Gerald dengan nada penekanan di setiap kalimatnya.


...Mendengar hal itu Permadi lantas terkejut karena jujur saja ia sangat merindukan setiap sentuhan panas yang Erika berikan padanya....


".........."


" Kenapa diam? tebakanku benar bukan? kau pikir aku tidak tahu hubungan gelap kalian selama ini? aku tidak bodoh pa, bahkan sebagian besar rencana jahat tentang Reina itu berasal dari dirimu" ucap Gerald dengan nada kesal.


" Kau salah paham ge, sungguh papa hanya..." ucap Permadi ingin mencari alasan namun di potong terlebih dahulu oleh Gerald.


" Tapi ge pa.." ucap Permadi namun lagi lagi di potong oleh Gerald.


" Pergi!" ucap Gerald lagi


...Akhirnya Permadi hanya bisa pulang dengan tangan kosong karena tidak berhasil untuk membujuk putranya agar mengembalikan Reina pada Revan....


****************


Mansion milik Mahendra


...Sesuai janjinya Revan lantas pergi berkunjung untuk menemui Saina di mansion utama....


...Revan melangkahkan kakinya memasuki mansion dengan membawa coklat kesukaan Saina....


" Dady......" teriak Saina kala melihat kedatangan Revan dari pintu utama.

__ADS_1


...Revan yang mendengar teriakan itu lantas tersenyum kemudian merentangkan kedua tangannya agar Saina dapat memeluknya. Saina lantas berlari menuju ke arah Revan dengan hati yang riang dan bahagia....


" Wah anak dady sudah tumbuh besar ya.." ucap Revan sambil menggendong Saina di tangannya.


" Dady datang sendiri? mami mana?" tanya Saina bukannya Saina tidak mengerti arti kematian hanya saja waktu Reina di makamkan Saina sedang ada kegiatan studi tour di sekolahnya sehingga tidak ada yang memberi tahunya tentang Reina kala itu.


...Mendengar hal itu Revan lantas menghela nafasnya panjang, karena terlalu fokus membenahi hatinya ia sampai melupakan Saina....


" Apa kamu merindukan mami?" tanya Revan sambil mengusap perlahan rambut putrinya.


" Ya, sudah lama sekali mami tidak mengunjungi Saina, ada banyak hal yang akan Saina ceritakan pada mami." ucap Saina dengan senyum mengembang di wajahnya yang semakin membuat hati Revan sakit mendengarnya.


" Lain kali dady akan mengajak mu mengunjungi mami ok" ucap Revan sambil mencubit gemas hidung mancung milik Saina.


" Kamu datang van?" tanya Lila dari arah tangga berjalan mendekat ke arah Revan.


" Iya ma" ucap Revan singkat


" Ini coklat untukmu Sain, kamu bawa ke kamar mu, dady mau bicara dengan glany dulu nanti dady akan menyusul mu ke kamar ok" ucap Revan sambil menurunkan Saina dari gendongannya.


" ok" ucap Saina sambil tersenyum kemudian berlari menuju ke kamarnya.


...Setelah kepergian Saina, Revan lantas melangkah mendekati Lila kemudian mengambil duduk di sebelah Lila....


" Are you ok van?" tanya Lila kala melihat wajah lelah menghiasi putranya.


" Ya i am fine" ucap Revan dengan senyum yang di paksakan.


" Sudah satu tahun van, cobalah untuk belajar move on dan membuka diri kehidupan masih terus berlanjut meski Reina sudah pergi meninggalkan kita" ucap Lila


Mendengar hal itu lantas membuat Revan langsung menatap ke arah Lila.


" Aku tidak setuju dengan pendapat mama, selamanya Reina masih tersimpan di sini ma, begitu banyak kenangan bersama Reina, tidak mungkin aku bisa melupakannya begitu saja" ucap Revan dengan nada yang sendu.


" Tapi nak..." ucap Lila namun di potong terlebih dahulu oleh Revan.


" Jika mama hanya membicarakan omong kosong seperti ini lebih baik Revan pulang ma, karena sepertinya pendapat Revan dan mama cukup jauh perbedaannya" ucap Revan kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Lila sendiri di sana.

__ADS_1


" Mama hanya tidak tega melihatmu seperti ini van, mama harus apa untuk membuat mu kembali seperti dulu lagi" ucap Lila lirih setelah kepergian Revan.


Bersambung


__ADS_2