
" Apa yang kau katakan naif sekali. Apakah sebegitu tidak sukanya terhadapku Kira? " sembur Lucky.
" Hah? " Kira terperanjat bingung agak panik.
" Ayo... Mana gelasnya. " belu belai Lucky.
" Um... Sepertinya itu tidak perlu pak Lucky, sungguh dengan minuman ini saja sudah cukup. " sangkal Kira lagi seraya mengangkat gelasnya yang masih berisi setengah air.
" Ah... Ada apa denganmu sebenarnya, sangat aneh. Memang dimana letak perbedaannya minuman yang kau pegang itu dengan ini. " cua Lucky kembali bersedekap serta menikmati miras tersebut.
Ucapannya sontak membuat Kira tertegun dan berpikir.
" M-memang? " gagu Kira syok.
" bukankah itu air putih? Betul, 'kan? " pikir Kira gelisah.
" Pak, minuman ini... " ucap Kira seraya melihat ke arah gelas miliknya.
" Vodka. " celetuk Lucky.
" Mustahil. " batinnya terperanjat panik.
" tapi aku tidak merasakan mabuk sama sekali? Apakah minuman ini tidak efektif jika hanya menenggak-Nya segelas? Aku juga baru meminum ini dari setengahnya. Baiklah, aku mulai merasa khawatir sekarang. " lanjut tepekurnya.
" semoga saja benar aku tidak akan mabuk sekarang maupun nanti. " berkeringat dingin, menenangkan diri.
__ADS_1
Kemudian, Lucky bangkit lalu berjalan menuju kasir bertujuan untuk membayar.
Menunggu dan menunggu kembalinya pria itu, pandangan Kira tak sengaja menengok ke telepon milik Lucky yang tergeletak menyala di atas meja. Bahkan, ia bisa melihat jelas isi layar yang terhampar tepat di hadapannya itu.
" aa... Apakah kerjanya memang benar selalu begitu? Bahkan di situasi bagaimana pun, dia terus terlihat seperti belajar sesuatu. Sudah tidak diragukan lagi kepintaran-Nya Guru satu ini. " cengang Kira merenung.
" Berdirilah. " seru Lucky sembari mengambil ponselnya di meja.
" O-oh... Iya. " sadar Kira sigap bangun.
Keluar bergantian melewati pintu resto. Lucky lanjut terus berjalan. Kira yang tak tahu arah, hendak ingin bertanya tapi rasa tidak nyaman juga mengganggunya.
" Apa itu? " tanya Lucky tiba-tiba.
" Hah? " Kira bingung.
" A-aa... Aku mengira kau mengatakan sesuatu kepadaku, hehe... Maaf ya. " ujarnya tersengeh.
" O-oh... Apakah begitu. " ganjil Kira.
Setelah mendengar lelaki itu lebih dulu membuka perbincangan, Kira merasa lebih baik sekarang untuk berani bertanya juga.
" um... Pak, um... Ingin pergi kemana sebetulnya tujuan kita ini sekarang? " gugup Kira.
" Oh. " ringkasnya Lucky menjawab.
__ADS_1
Ia yang menyaksikan tanggapan yang diberikan pria itu sontak merasa terpukul. Tak lama, Lucky melanjutkan ucapannya.
" bukankah, kau sendiri yang menginginkannya? Ingin menghabiskan banyak waktu untuk persiapan ujian mendatang nanti? "
" O-oh... Benar memang. Lalu, apa hubungannya dengan-- " ungkapan Kira dipotong.
" Kita akan pergi ke perpustakaan umum. " pungkasnya.
" O-oh... " paham Kira.
Kira bermenung-menung sejenang sambil lanjut berjalan, lalu berkata.
" sebenarnya, saya bisa belajar secara mandiri di rumah. Bagi saya, sedikit tidak menenangkan menangkap banyak pelajaran di tempat umum. " campak Kira.
" Tidak akan ada yang berminat mengganggumu disana, lagi pula itu tempat untuk belajar. Tenang saja, asalkan kita tidak pergi ke tempat konser arena menurutku itu tidak akan bisa mengusikmu selama jam pemahaman. " sosornya Lucky kembali.
Melanjutkan perjalanan dengan terus melangkahkan kaki. Kira hanya bisa mengikuti arahannya sementara, berjalan di belakang Lucky.
" bukankah ini juga ada keuntungannya bagimu? Ya... Sekalian, aku juga bisa ikut mengajarimu langsung disana, dimanapun jika kau merasa sukar di suatu bagian, bisa tanyakan cepat kepada gurumu ini. " imbuhnya.
Sampainya disana, mereka saling menyibukkan diri mencari buku yang dibutuhkan.
__ADS_1
Setelah mengambil beberapa barang tersebut, Lucky begitu pun Kira kembali ke tempat yang sudah di sepakati untuk ditinggalinya bersama.