
Tanpa disangka, Kira malah meninggalkan Xie dengan tatapan begitu tidak ramah.
......................
Telepon berdering. Lucky menjawab
" Halo? Ada apa Hinako? Apakah ada masalah? "
" Diam! Mengapa dengan kau ini hah!? Kenapa tidak memberitahu-Ku terlebih dahulu? Sembarangan menerima tamu! " berangnya dalam telpon.
" Ada apa memangnya? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa, baru melakukan setengahnya pada malam itu? Ucapkan terima kasih bukan? " olok-olok, geli hati.
" Ah Lucky kau menyebalkan, kita harus bertemu nanti! Siapa yang sebenarnya kau terima ini hah? Manusia macam apa dia? Ah jujur saja, malam tadi itu benar-benar melelahkan bagiku. Kau tahu? Sepanjang malam tadi, aku terus terjaga karenanya. Padahal kita tidak saling mengenal, tapi rasa hasrat-Nya untuk melakukan suka-suka begitu menggila. " keluh kesah Hinako.
Sontak juga Lucky tertawa akan ucapan yang dilemparkan Hinako.
" Ha ha ha... Benarkah? Wah sepertinya apa yang dia katakan tempo hari memang benar, se-frustrasi itu kah dia hidup? Haha... Maafkan aku Hinako.
Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, dia pria berkelas yang akan merasa gila ketika digoyang masalah. Aku benar-benar meminta padamu untuk membuatnya kembali senang. Aku mengandalkan Hinako, itu sebabnya kau direkomendasikan oleh aku. " jawab Lucky.
" Arrgghh jengkel. Dia teman-Mu? Sebegitunya kau memperhatikan dia? " bertanya serta berdesah untuk menghilangkan rasa kedongkolannya.
" Dia bukan temanku, perlu kau ingat itu! Aku hanya merasa kasihan saja. Kau beruntung bisa berhubungan dengan seorang guru seperti dia.
Siapa tahu, anakmu ketularan pintar darinya bukan? Bersekolah nanti di tempat yang bagus dalam semua bidang mengerti, aku percaya dia bisa menjadi seorang manusia dimasa depan kelak. " pinta Lucky.
" Aku begitu pun dia tidak mengizinkan untuk membuah anak dalam hubungan kami. Aku merasa kesal sekarang. Mengapa dia belum juga pulang? Katakan!? " sebal Hinako.
" Sudah Ku-duga otakmu memang tidak sejalan dengan pikiran-Ku. Sudahlah tidak perlu dibimbangkan, jika dia sudah merasa lebih baik, percaya! ia akan dengan sendirinya berjalan kembali diatas dunia luar. Itu semua tergantung sikapmu. " imbuh-Nya langsung menutup telepon.
Lucky berjalan kembali menyusuri lorong sekolah. Saat ingin sampai di depan kelas LIMIT ( Lingkungan Mipa Tiga ) sekonyong-konyong beberapa siswa menampakkan wajah terkejut.
" Pak Lucky? Pak Lucky! Pak Lucky Pak Lucky!! Itu Pak Lucky bukan? " histeris-Nya seraya memukul bahu teman di sebelahnya.
" Oh!! Kau benar!! Itu betul Pak Lucky!! Akh!! Dia kembali " girang.
Lucky sampai di depan kelas juga siswi-siswi tersebut
" Halo Pak, selamat pagi. Bagaimana kabar bapak hari ini? Semoga senang selalu. " sapa mereka.
__ADS_1
" Aku baik. Terima kasih banyak. Untuk kalian juga. Ayo cepat masuk. " tersenyum.
" Baik Pak. " seraya jalan masuk ke dalam kelas dengan bahagia hati.
Semua anak-anak yang berada di dalam kelas itu pun jelas sekali juga ikut terperanjat sebab datang kembali-Nya Lucky di sekolah mereka, bahkan saat ini tengah berdiri dihadapan ruang kelas. Berbagai tanggapan keluar sebab kehadiran Lucky kembali.
Para wanita tentu ada yang dengan senang hati menerima Lucky sekarang, tetapi mungkin juga ada yang sebaliknya. Beda hal lain dikalangan para lelaki menyanggah keras kedatangan Lucky. Mereka saling membisik.
" Mengapa bisa dia ada disini? Mustahil? Sekian lama menghilang bukankah seharusnya ia resmi dikeluarkan? " sebal para siswa.
" Bruk... " suara menyimpan sebuah buku diatas meja dengan sedikit kekuatan.
" Pagi. " sapa Lucky tersenyum.
Mereka spontan menjawab
" Pagi Pak... " menyeru.
" Lama tidak berjumpa. Senang bisa melihat wajah kecil kalian kembali. Oh! Saat ini, saya sedang tidak ingin mengeluarkan energi banyak langsung saja ke materi. Kedatangan saya kemari juga sepertinya mendadak jadi, kalian pasti... Tidak membawa baju olahraga. Sekretaris kelas disini cepat segera menulis buku paket ini dipapan tulis. " ringkas Lucky.
" Oh tidak Pak! Kami masih tetap membawa baju olahraga. " sahut salah satu dari mereka.
" Saat Bapak sedang mengambil cuti pun, Pak John dari guru Fisika itu, suka relawan mengisi pelajaran bapak. " imbuh-Nya kembali.
" Begitu? Haha... Sulit Ku-percaya. " gumam Lucky.
" he sekretaris! mengapa masih diam saja?! Cepat menulis! " suruhnya agak membentak.
Tak lama kemudian,
" eh tunggu! Biarkan aku mengabsen anak-anak ini terlebih dahulu. " selang-Nya juga.
" Gary? " panggil Lucky.
" Masuk Pak! " menyahut.
" Green Packers? " lanjut.
__ADS_1
" Masuk! "
" Jenny? "
" Masuk Pak! Eh Pak! Sebelumnya saya ingin bertanya, euu... Mengapa bapak mengabaikan pesan chat dari saya? " bertanya.
" Diam! Bay?? " membentak lanjut mengabsen kembali.
" Masuk! "
" Johan Robert? "
" Masuk! "
" Christy klopper? "
" Masuk Pak! "
" Pang Xie Chu? "
Tidak ada sahutan dari mereka. Seketika juga itu membuat Lucky menengadahkan kepalanya untuk melihat.
" yang merasa namanya Pang Xie Chu? Pang Xie Chu? " panggil Lucky.
" oke, absen. " putusnya.
" Silence Kana? " lanjut.
Kembali lagi, juga tak ada yang menjawab panggilan nama dari Lucky.
" tidak masuk? Absen? " tanya Lucky kembali.
Alhasil salah satu dari mereka memberanikan untuk berbicara.
" Silence hadir. Tadi saya sempat melihatnya di perpustakaan, tapi ia berlari keluar dengan gesit sekali setelah saya mengatakan bahwa Pak Lucky datang kemari. " jelasnya.
Usai mendengar ricauan dari dia, Lucky memikirkan sesuatu sejenak.
" Silence? Si..lence? " berpikir keras mengingat.
__ADS_1
Ia pun tersadar
" Silence?! " kejutnya.