
Kira spontan menunduk berniat untuk membereskan pecahan beling tersebut, akan tetapi
" Tidak perlu! " tahan Lucky agak keras suara.
Keruan ia pun terhenti bergerak juga sedikit terperanjat.
" duduk. " beranjak berjalan lagi, lalu bersimpuh di kursi.
Kira yang demikian merasa menyesal serta bersalah, hal itu benar-benar membuatnya terganggu tidak nyaman hati terus menerus menyerta dirinya. Kira turut duduk.
" jadi... Apa yang membuatmu, perlu berbicara dengan saya, Kira? " lanjut bertanya.
“ Um... Sebelumnya, saya sungguh-sungguh minta maaf-- " ucap Kira terhenti.
" Tidak perlu! Bukankah saya sudah memberitahukan itu tadi, ya? " sindir Lucky memotong.
Rasa kaku dirinya semakin menjadi. Berusaha kembali untuk menenangkan diri.
__ADS_1
" lupakan saja apa yang aku katakan lebih dahulu. Biar-Ku perjelas. Tunggu disini ya. " ucap Lucky pindah bangkit.
Ia pun pergi ke belakang ruangan meninggalkan. Kira yang seorang diri tengah duduk di sofa, menatap bingung ke arah kepergian Gurunya tersebut.
Kenyataan tak bisa berupaya apapun, Kira hanya menunggu ketiban-Nya kembali. Tidak kelamaan, nampak Lucky muncul lagi. Namun, ia datang dengan membawa segelas minuman di tangannya. Berjalan menghampiri Kira.
" ini. " menyodorkan.
Kira mengkaku bergerak karena rasa panik mendabak menyerang.
" A-aaa... I-itu. Sejujurnya pak, saya juga tidak minum sejak awal. " gugu mengungkapkan.
" A-aaa... " menerima dengan 2 tangan, serta dengan perasaan terbingung-bingung merasa sedikit gentar.
Lucky duduk kembali, bahkan di atas meja.
__ADS_1
" Terima kasih pak. " ucap lembut Kira.
" Dengar Akira Noieshii! Kemampuan-Mu bagaimana menjustifikasikan diri dengan orang lain rupanya masih sangat jauh sekali rasa buruknya menghilang. Jika kau masih memelihara sikap itu, bisa saja nanti kecelakaan besar datang sesuka mereka menghampirimu tanpa di sangka-sangka. " celetuk Lucky.
Kira terpaku mendiam.
" apa? Tidak mengerti? " ejeknya agak rentan.
" mereka bisa saja dalam sekejap mata menghancurkanmu! " cekam Lucky.
" A-apa maksudnya Pak Lucky? M-mengapa jadi terhubung mengarah kesana? M-memang apa yang sudah saya lakukan? Dan juga bahkan, s-saya sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataannya Pak Lucky. " bingung Kira tersendat-sendat.
" Bodoh. " ucap pelan Lucky.
" aku mengetahui bahwa kau memang tidak bisa minum, tapi bukan berarti kau bisa mengatakan kalimat itu di depan orang sana selain aku! Tindakanmu tadi akan membuat tempatnya menjadi jebakan bagi dirimu sendiri! "
" argh... Tidak. Sebetulnya aku tidak ingin banyak berbicara sekarang-sekarang ini. Aku memberitahumu bisa datang kemari itu karena aku mengira, peran orang yang akan menjadi penggugatnya adalah kau. Tapi, sulit dipercaya... Kini mengapa perannya malah berbalik. " lanjut lesu Lucky.
Terlihat gadis itu hanya mengindahkan ricauan Guru Pria tersebut.
__ADS_1
" hey dengar! Dimanapun kamu nanti, dalam waktu apapun juga itu... Jangan mengatakan hal yang labil, naif di depan mereka. Bersikaplah konvensional pada umumnya mereka melakukan. Fleksibel, ikuti jalan yang ingin mereka tempuh saat-saat nanti tiba. " lanjut pesan Lucky.
" mengerti? Baiklah, izinkan aku untuk memberikanmu contohnya. Seperti yang kau lakukan tadi, biar pun mereka mengerti atau juga tahu situasimu itu bagaimana, jangan pernah boleh dijadikan alasan untuk sebagai penyangkalan, itu sama saja dengan berpendapat bahwa kau mencoba menghindari keras mereka secara terang-terangan. " ujar Lucky nada sedikit tinggi.