BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Episode 28


__ADS_3

" Benar-benar buruk sekali. " sahut Kira mengolok-olok.


" Kau yang memulainya lebih dulu! " marah.


" Aku tidak mengatakan untuk membatalkan janjiku bukan? apa yang kamu sebali? " lanjut ucap Kira.


Nampak Sundry sangat murka terhadap Kira, tapi merasa tak ingin rugi pun ia berdesah untuk meredakan kekesalannya.


" Lalu apa yang kau inginkan? " tanya Sundry.


" Mengapa bertanya kepadaku? Siapa yang menginginkan hal itu? " jawab Kira.


Kedongkolan menghantam Sundry lagi.


" Bagaimana jika mengisap kedua tetekmu dan meremasnya? Juga mencium bibirmu? Nanti disusul dengan jilatan... " ungkapnya terpotong.


" Kau ini meminta atau memang benar ingin membunuhku. Siapa yang memberikannya jabatan sebagai ketua kelas? Bodohnya terlalu luas. " cela Kira menyanggah.


" Yasudah, mengisap tetekmu lalu nanti mencium bibirmu, untuk saat ini aku hanya ingin benar-benar merasakan tubuhmu saja, bagaimana? " putusnya.


" T..tidak, masih keberatan! " canggung menjawab.


" Bagaimana jika... " ricaunya terselang lagi.


" Sudah sudah! Bi..biar a..ku yang memutuskan. "


Merasa tidak ingin menerima keputusan yang akan menjatuhkan, Kira yang menyimpulkan sendiri. Ia menarik napas untuk menghilangkan rasa yang mengganjal dalam dirinya dan berkata.


" aku hanya bisa menerima ciuman dibibir saja, itu pun aku batasi sampai 3 detik. " ringkasnya.


Keruan hal itu ditampik olehnya.


" Apa itu?! Kau benar-benar! Hey kau anggap aku ini apa hah?! Pengemis?! Kurang ajar " murka.


" Aku sudah memutuskannya, ingin apa tidak? " ancang-ancang Kira.


" Dia benar-benar merendahkan diriku! Brengsek! Dia menang banyak. " gerutunya didalam hati.


" Aku pergi. " ujar Kira seraya berjalan menuju luar ruangan.


" Baik. " jawab Sundry.


Kira menoleh dan membalikkan badan kembali, meski setelah mendengar sahutan-Nya sungguh-sungguh membuat Kira merasa khawatir, tapi ia berusaha untuk tetap terlihat tenang. Sundry berjalan menuju dekat dinding, lalu menyuruh Kira untuk diam ditempat tersebut.


" diam bersandarlah ditembok ini. " perintah-Nya.


" Mengapa harus aku lakukan? " bertanya.


" Aku sudah muak mendengar bantahan pendapatmu daritadi, cepat! " bentak marah.


Merasa takut pun Kira datang menghampiri dan mengikuti arahan yang diinginkannya.


" Hanya ciuman bibir saja, jangan lakukan yang lainnya. " pesannya merasa khawatir.


Sundry mengelus-elus memainkan rambut juga wajah Kira dengan hanya menggunakan satu tangan untuk menarik gairah dalam dirinya. Merasa terganggu pun Kira membantah.


" apa yang kamu lakukan sekarang? " seringai.


" Beri aku waktu untuk membangkitkan nafsuku untuk memulai. " jawab-Nya.


" Apa ini? Tidak bisa begitu, kamu menempatkan aku dititik yang berbahaya, sudah diingatkan sebelumnya bukan? "

__ADS_1


" Aku tahu itu! Diam saja! mengapa banyak mengoceh kau ini? Diam dan nikmati saja! " celetuknya membentak.


" Bu...bukan begitu, hanya merasa takut saja. Bagaimana jika nanti kebablasan? " gelisah resah.


" Ada apa? Kau mulai ketakutan sekarang? " olok-olok Sundry.


Tidak ada sahutan, Kira memalingkan pandangan matanya. Ia mulai mendekatkan wajah untuk melakukan penyentuhan bibir. Saat benar-benar hendak berciuman, Kira menghindari.


" t..tunggu! Tidak bisa terjadi, sungguh! Saat aku sedang datang bulan, semua tubuhku sangat sensitif untuk menerima. "


" Benarkah? Tidak masalah, aku akan membunuh rasa itu dan membuatmu merasa senang nanti, ikuti perkataanku. " jawabnya.


Kekhawatiran semakin menggumpal, ekspresi Kira tidak bisa menahan ketenangan lagi, suasana wajah mulai berubah.


" haha pemandangan yang bagus, indah sekali. " ujar Sundry.


Kira tersadar dan mendorong Sundry agar menjauh darinya lalu berkata.


" Waktumu habis, sangat bertele-tele menjadi seorang pria, lemah sekali. Mari lakukan dilain waktu saja. " ucapnya lekas beranjak berjalan pergi lagi.


Sudah menginjak lantai luar perpustakaan Sundry tertawa keras seketika, merasa ganjil pun Kira terhenti kembali.


" Haha pergi saja sana! Aku sama sekali tidak membutuhkanmu, ini malah sebaliknya, kaulah yang akan benar-benar memerlukan diriku. Si pengingkar janji. " gelak Sundry mengolok-olok.


" Apa maksudnya. " gumam Kira.


" Hey! Coba berbalik kesini sebentar, lalu berpikir 100 kali untuk kamu bisa melanggar perjanjian tadi. " ucapnya memanggil.


Kira menoleh lagi kebelakang.


" Ponselku! " kejutnya panik sangat.


" Sekarang bisa pergi, silahkan. " ejekannya.


" Berikan, tidak boleh menyimpan barang yang bukan milikmu. " sindir Kira.


Sundry langsung menarik keras tangan Kira dan menyenderkannya ditembok sembari mencium bibirnya serta memeluk erat tubuh Kira.


" Buk... " wadah bekal milik Kira terjatuh sebab saking tingginya dorongan tersebut.


Tidak bisa berkutip karena tertahan kencang oleh kekuatannya Sundry. Kira terus berusaha bersuara ditenggorakannya untuk menyangkal perlakuan laki-laki itu.


" emm!! emm!! emmm!!! " khawatir.


" apa yang kau lakukan hah? Tiga detik sudah berlalu! Lepaskan sekarang! " terdengar rengekan Kira dengan tidak jelas berucap karena berusaha menutup pintu jalan mulut.


" Ahhh stroberi, bibirmu lembut sekali. " nikmat Sundry.


" Akh! Ini menyakitkan, jangan menekannya terlalu keras! Akh sakit Sundry! " rintihnya.


Ia tidak bisa melawan karena kedua tangan serta kaki Kira ditahan kencang oleh Sundry, sehingga untuk bergerak juga tidak bisa.


Sundry malah semakin menjadi, tangannya bergerak cepat melepaskan kancing-kancing baju Kira.


" T...tunggu tunggu! Apa yang sedang kau coba lakukan hah? " terkejut panik.


Kancing kemeja seragam Kira terbuka menyeluruh, Sundry langsung bersemangat memegang buah dada milik Kira.


" tidak, hiks t...tidak boleh! Hiks berhenti bertindak! Tidak bisa begini! " rengeknya meminta.


" Ini luar biasa! Lembut halus sekali, ahhh sangat bahagia! Aku merasa hebat. " terengah-engah mengungkapkan.

__ADS_1


" Akh!! Sakit!! " erang Kira dengan lantang.


Sundry juga menindih erat dibadan Kira hingga letukan zakarnya terasa sekali di labia mayor milik Kira. Hal itu semua keruan membuatnya menangis histeris dan memohon kepada laki-laki itu untuk berhenti bertingkah. Tak lama kemudian sekonyong-konyong seseorang berdeham dilawang pintu.


" Ekhem! "


Tidak ada sahutan dari mereka berdua karena terhalang oleh rasa ambisi Sundry yang begitu besar kepada Kira. Sontak orang itu pun berlari cepat ke arah mereka dan melerai.


" Hey hey hey! Sudah gila? Lekat sekali laki-laki ini menempel. " ucapnya dengan kuat melepaskan Sundry dari tubuh Kira.


Sundry pun terjatuh, bangkit lagi dan mencoba untuk kembali melanjutkan apa yang sedang ia lakukan tadi, Kira terkejut menghindar. Tetapi untungnya orang itu ikut menahan.


" hey hey hey! Sudah sudah! " tegasnya.


Nampak sekali dari wajah Sundry sedang nafsu berat, napasnya juga sangat tidak teratur terengah-engah.


" tenanglah. " ujar orang itu lagi.


Ia angkat bicara.


" Apa ini pak! Tidak bisa mengerti situasinya sekarang hah? Bagaimana bisa kau menjadi seorang pengganggu hah? " kesal hati.


" Aku mencari-carimu, kepala besar hang memanggilmu cepat! Genting pesannya. " jawab-Nya.


" Ayah? " sebal Sundry bertanya.


" Benar cepat temui, akan menjadi masalah jika bertele-tele. " ucapnya.


Sundry terlihat masih menatap liar terhadap Kira, tak lama kemudian ia pun bergegas pergi berlari. orang itu berbalik. Siapa duga ternyata yang menolongnya itu adalah Lucky, sigap menundukkan kepala. Lucky berjalan menghampiri, rasa ketakutan menerjang kembali. Lalu guru tersebut memasangkan kancing-kancing baju Kira yang terlepas, tersadar sigap mundur dan menutupi badannya dengan lengan.


" Oh! Minta maaf sekali, a...aku bisa melakukannya sendiri, terima kasih banyak. " canggung.


Berbalik membelakangi Lucky untuk membenarkan bajunya. Saat sedang mencoba mengaitkan kancing satu persatu, siapa tahu ternyata Kira tidak mampu melakukannya sebab rasa sakit juga luka membekas bisa terasa sekali hingga ke lubuk hati Kira. Kebingungan pun ia bertanya.


" Berapa jumlah kancing baju yang terlepas sampai lama sekali memakan waktu? " tanyanya mengkelakar.


" Oh! I...iya! i...ini menuju sampai. " panik.


Lucky tersengih, lalu mengerjakan lagi berniat membantu. Berjalan menghadap Kira.


" tunggu! tidak tidak, ini masih... " ucap Kira diselang.


" Diam, jika berbicara sekali lagi aku berjanji akan melakukan hal yang sama sepertinya. " ancamnya tertawa kecil.


Merasa takut pun Kira terdiam, meski perasaan bercampur aduk ketika Lucky mengaitkan kancing miliknya.


" Aku... bisa menyelesaikannya sendiri " ungkap Kira pelan suara.


Terlihat Lucky sengaja memperlambat tindakannya. Meski begitu Kira juga masih berusaha menutupi bagian tubuhnya itu dengan perasaan risau juga malu, walau rasa sakit juga berdiam tetap didalam dirinya.


" mmm... Mohon maaf sekali tapi bisakah dipercepat? " pinta Kira.


" Jika terlalu terburu-buru ini akan menambah luka gores. " jawabnya.


" wah wah wah... dia benar-benar memberi tanda disini. Ingin diobati terlebih dahulu untuk menutupi luka-lukamu ini? " lanjut ucap Lucky.


" Tidak perlu. " sigap menyahut.


" Padahal ini benar-benar terlihat sekali. "


Setelah usai, lekas Kira mengucapkan rasa terima kasihnya kembali dan bergesa-gesa pergi keluar.

__ADS_1


" tidak bisa dibalas hanya dengan kalimat terima kasih, biarkan itu menjadi hutang, aku akan meminta kembali imbalan yang setimpal khusus hanya untukmu. " gumam Lucky tersenyum licik.


__ADS_2