
Lama menghabiskan waktu disana, tak dapat disadari juga ternyata saat sudah menginjak pukul 3 lebih AM. Nampak dasar manusiawi dari dalam diri Kira sudah tak terbendung lagi. Meruyupkan mata dengan keadaan posisi duduk.
Lucky yang awalnya tak menyadari, kemudian secara tidak sahaja melirik ke arah Kira. Sontak terbangun melihat kondisi Kira yang sudah demikian begitu.
" Ya... Aku benar berharap besar dia mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkannya. " ujar Lucky.
Guru itu, nyata masih mampu melanjutkan pekerjaannya.
Waktu terus berjalan. Kira secara alamiah mulai terbuka melek. Awal pandangan kabur, nampak melihat wajah seseorang tepat di arah depan matanya. Tak lama, kemudian ia pun keruan sadar sigap bangkit dari pangkuan paha Lucky.
" Uh!! " syok Kira.
" Ada apa? Kenapa terkejut begitu? Mimpi buruk? " heran Lucky.
" O-oh... " gagunya.
" Ahh... Sungguh saja, akhir-akhir ini aku sedikit mengkhawatirkanmu. Saking terlalu menggilanya karena ujian ini, sampai kau tidak begitu memperhatikan dirimu sendiri. Padahal perlu diketahui juga, yang terpenting kunci utama untuk menggapai sesuatu ialah bagaimana cara bergerak berjalannya kita meraih mereka. Hal yang percuma jika tubuh dalam keadaan menderita, itu akan menjadi penghalang besar justru untuk kita nanti. " tuturnya.
__ADS_1
" Um... Iya pak, mohon maafkan saya. " ucap Kira seraya menunduk kepala.
" Mudah ditebak jawabannya akan bagaimana hehe. " ejek Lucky.
" kau mempunyai masalah dengan dirimu sendiri, tunjukkan jika memang benar-benar menyesal maka tanggulangilah, minta maaf juga padanya... Bukan kepadaku. " sangkal Lucky.
Kira terdiam.
" sudah pukul 4 lebih, sebaiknya kita bergegas pulang. Dan hari inilah... " ujar Lucky memandang ke arah Kira.
" Ujian dimulai. " jawab Kira mengangguk.
Lucky menatap terus ke arah gadis tersebut. Tak lama, lalu memalingkan muka sembari bangkit dari kursi.
" Baiklah! Ayo kita berangkat! " dorongannya.
Entah sebab apa, hati Kira tergugah saja merasa geli hati dan tentu ikut tertawa secara alamiah sesuai dengan yang ia rasakan melihat tingkah lakunya Guru itu.
Mereka berdua pun secepatnya pergi. Berjalan terus mengikuti dari belakang Lucky. Di tengah-tengah menuju keluar dari perpustakaan, serentak saja ada sebagian orang syok berantusiasme bersemangat lantaran melihat kehadiran Lucky disana.
" E-- eh?? Bukankah itu pak Lucky? Eh benar tidak? Atau aku salah? " kejut salah satu dari mereka.
__ADS_1
" Eh??! Iya betul itu pak Lucky! Aaaa... Keberuntungan, ini benar-benar keberuntungan kita hey!! Sulit Ku-percayai bisa bertemu dengannya disini? Ahh... Hatiku sudah tidak kuat lagi untuk melihatnya, akan meleyot akan meleyot. " eksesifnya terpanah.
Kira yang menyaksikan pun sontak merasa malu sendiri, sebab berada di samping tempat orang yang menjadi pusat perhatian banyak insan.
" Aaah... Terjaga semalaman disini sudah dibayar berlipat-lipat saja yah? " pesona yang lainnya juga.
Nampak Lucky sama sekali tidak melihat atau mengacuhkan ricauan dari mereka semua, ia terlihat malah seperti memerhatikan hal yang lain. Pandangannya, entah karena apa terus menengok ke arah sesuatu tempat yang tak pasti menurut Kira.
" Pak Lucky sedang mengamati apa? Sampai sebegitu-Nya memandang. " gumam Kira meneliti.
Tibanya di luar, ia lekas membukakan pintu mobil untuk Kira masuk. Kemudian pergi.
" Maaf ya jadi merepotkan. " ujar Lucky sambil menyetir.
" Eh? Maksudnya merepotkan bagaimana p-pak? " tanya Kira bingung.
" Ya... Pasti sangat melelahkan bukan kegiatan hari kemarin dan hari kini bagimu? " sahutnya.
" jika saja, aku mengetahuinya lebih awal atau bahkan pada waktu kita bertemu pertama kali itu kamu terbuka menerima sosial dariku, tentu dengan lapang dada saya menerima langsung kamu menjadi murid khusus. " imbuhnya menyindir.
Kira tak menanggapi ujaran Lucky secara kontan. Tepekur sejenang, lalu berkata.
__ADS_1
" Saya juga berpikir demikian. "
Seketika saja Lucky tersenyum puas juga ingin terhadap Kira.