
2 minggu berlalu...
Detikan jam terdengar.
" Tik, tik, tik... "
Di jam pagi, Kira nyata sudah bangun.
" Slurupp! " menyeruput minuman secara lembut.
" Tok, tok, tok... " terdengar suara ketukan pintu dari luar pintu utama rumah.
Spontan ia menoleh ke belakang. Kemudian, Kira berjalan membuka pintu kamar dan melangkah cepat untuk membukakan pintu utama.
" Kreeek! " dibuka.
" X-xie? " gugu Kira syok.
" ngapain? "
" Hai Kira. " sapa seseorang yang baru datang dari belakangnya Xie.
" O-oh... Vanya juga. A-apa yang sedang kalian lakukan disini ya? " bingung Kira.
" Ah kami berniat mengajakmu untuk berangkat bersama ke sekolah. " jawab Vanya tersenyum.
" O-oh begitu... " gagap Kira.
Sontak saja ia teringat di waktu minggu lepas, Mey kakak dari Xie pernah berkata lewat chat pribadinya.
......................
__ADS_1
......................
" Kira? " panggil Vanya merasa aneh.
" A-aa... I-iya, mohon maaf tunggu sebentar ya aku ingin mengganti baju lebih dulu. Jadi, sekarang mari masuklah. " ajak Kira.
" O-oh sepertinya menunggu di lua-- " tolak Vanya dipotong.
" Maaf mengganggu. " semangat Xie wajah datar langsung masuk ke dalam.
Keruan hal itu membuat Vanya terkejut mengkerut muka. Alhasil ia pun ikut menyusul.
Kira masuk ke dalam kamar, sebelum itu ia sempat memberikan suguhan di atas meja untuk mereka berdua.
" Xie Xie! " panggil Vanya yang tengah duduk di kursi.
" tumben sekali menerima, biasanya langsung to the point? " ganjil bertanya.
Tak ada sahutan dari Xie, ia hanya menampakan wajah diam dingin. Di tengah-tengah menunggu, tiba-tiba
" Aku ingin ke toilet. " ucap Xie seraya berdiri dan pergi.
" Eh tapi memang kamu tahu dimana tempatnya? Tanya Kira dulu?? "
Xie sama sekali tak menghiraukan ocehan darinya.
" Kreeek... " pintu terbuka.
Laki-laki itu rupanya menyusup ke salah satu kamar di rumah Kira.
" Ternyata memang benar ya. " duga Xie menatap ke arah di dalam ruangan tersebut.
" Sedang apa? " mendabak seseorang datang berujar pas di belakang Xie.
Menolehlah dirinya.
__ADS_1
Nampak Kira berdiri di hadapannya sekarang dengan ekspresi wajah serius serta tengah memakai handuk yang membelit di lehernya.
" Ayo bersiap dan cepat menyusul. " pungkas Xie langsung berjalan melewati Kira begitu saja.
" Ada benda apa sebenarnya yang tertancap di otak Xie itu. " sebal Kira.
......................
" Ayo berdiri, kita duluan. " desak Xie berjalan cepat keluar.
" T-tunggu? T-tunggu apa?! Hey kenapa? " tahan Vanya yang tengah duduk. Seketika bangkit, lalu berlari menyusul laki-laki tersebut.
Ia menahan lengannya.
" hey dengar! Tunggu ada apa? " bingung Vanya agak khawatir.
" Dia akan menyusul juga nanti. Kita berangkat sekarang. " ringkas Xie.
" T-tapi mengapa tiba-tiba begitu? Bukankah tadi ia mengatakan untuk kita tetap menunggu? Bahkan sampai repot-repot menyiapkan hidangan bertujuan agar kita tidak suntuk karena menunggunya, ' kan? " ujar Vanya lagi.
" Kau ingin berangkat bersamanya? Yasudah tidak masalah, aku duluan. " singkatnya kembali seraya bergerak melangkah kaki.
" T-tapi... Xie? Xie? " Vanya terbingung-bingung.
Ia pun berkeputusan pergi dengan lelaki itu.
......................
" Dimana sekarang mereka ini? " lelah hati Kira berdiri di ruang tamu.
" Ceklek! " pintu dikunci.
Saat Kira berbalik, ia terdiam sejenak sebab melihat
" Hai Kira! Kami disini! " seru Vanya di dekat gerbang.
Seketika ia pun tersengih merasa geli hati. Kemudian berlari cepat mengarah ke mereka yang tengah menunggu sampai saat detik itu juga.
" Maaf menunggu lama ya? " ucap Kira tersengeh.
__ADS_1