BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Sharing of Opinion #5


__ADS_3

Sontak perhatian mereka teralihkan saking terperanjatnya bunyi itu menggema-gema. Meski hanya sekali ledakan, namun nyata cukup lumayan menggemparkan.


" Apa itu? " syoknya.


" Apa telah terjadi sesuatu di luar sana pak? Suaranya sangat tidak dibiasakan. " resah Kira.


" Entahlah, tapi menurut-Ku ya mungkin bisa jadi sudah terjadi sesuatu di luar, tak tahu itu bersifat positif ataupun negatif. " sahutnya.


Mata Kira terbelalak, nampak juga gelisah takut.


" L-lalu... Apa yang harus kita perbuat? " cemasnya rusuh hati.


" Memang upaya apa yang bisa kita buat saat ini? Betulkah ada? Mampu? Yang benar saja, rupanya masih bisa bodoh dengan keadaan kita sekarang? " sosor Lucky kembali.


Seketika Kira mulai terus merasa gentar terhadap Lucky akhir-akhir ini.


" A-aa... I-iya. " spontan ujar Kira.


" apa lagi yang salah sekarang dengan sikap pak Lucky? Mengapa ia sensitif sekali. Apakah memang benar, saat ini dia hanya tengah rentan akan kondisinya daritadi? Mungkinkah? " tepekur Kira terpukul.

__ADS_1


" sempat berujar juga sebelumnya bahwa kejadian seperti ini baru pertama kali teralami olehnya. Benarkah hanya karena itu? Atau ada alasan lain? Atau... Kekasihnya? " duga Kira bericau dalam hati.


" benar. Bisa saja pak Lucky memang sangat murka kecewa hati akan situasinya sekarang, daritadi ia terus menkeluh kesah tentang kondisi. Karena hal itu, memang betul akan menjadi kesan buruk untuk ditunjukkan kepada calon istrinya itu. Aku juga berpikir, terlebih sepertinya pak Lucky sedang bermenung-menung sangat sungguh, bahkan sampai bertanya kepadaku mengenai keputusan sebesar itu untuk diambil. Membutuhkan berbagai banyak pendapat rupanya. Jika semua itu benar, dia... Betul-betul dalam keadaan terpuruk. " lanjut oceh Kira.


" mohon maa-- " ungkap Kira terhenti.


" Diam ya... " selang Lucky.


" argh... Aku benar-benar akan selesai jika perkara itu sungguh terjadi. " imbuhnya kesal sedih hati.


" kau tahu, satu hal apa yang daritadi sebenarnya aku pikirkan sekeras itu? Pernahkah kau melihatku menggila sampai secemas ini? " tanya Lucky.


Nampak Kira tak menyahut, tapi ia tetap memerhatikan serius kepada Gurunya tersebut.


Hening sejenak disela obrolan.


" jika memang kita ditakdirkan untuk tidak bersatu, aku berharap keras setidaknya dia memberiku satu kenangan terakhir untuk disimpan. " harap Lucky.


Senyap kembali. Kemudian, waktunya Kira buka mulut.

__ADS_1


" Um... Apa yang pak Lucky inginkan untuk harapan terakhir jika... Mohon maaf. Tidak ditakdirkan dengannya? "


Sontak Lucky langsung melihat ke arahnya. Tak lama lalu memalingkan wajah kembali.


" Itu... Aku ingin melakukan... Untuk tinggal bersamanya hanya beberapa waktu. Tapi, jika saja dia keberatan menerima... Langkah lebih baik aku akan melakukan-- " ungkap Lucky terhenti.


Sekonyong-konyong saja,


" Bruk!! " suara bertubrukan dengan kencang.


Siapa yang menduga, akhirnya pintu ruangan itu bisa terbuka juga dengan cara di labrak oleh beberapa siswa dari luar.


" Uhuk uhuk, uhuk uhuk. " mereka terbatuk-batuk karena debu yang berasal dari reruntuhan pintu tersebut.


Seketika mereka semua saling terperanjat, terutama sebagian orang-orang yang berada di luar ruangan. Mata terbelalak serta mulut agak ternganga saking kejutnya mengguncang melihat Lucky juga Kira berada ditempat yang sama.


" Mustahil. " syok salah satunya.


" A-ada apa ini sebenarnya? " gelisah satu orang juga.

__ADS_1


Singkat cerita, mereka berdua sudah berada di ruangan kepala sekolah, duduk bersampingan.


" Jadi... Apa yang sebetulnya terjadi? Bisakah dijelaskan? Kami semua sampai harus menunda ujian akhir pentingnya bagi mereka hanya sebab ketidakhadiran-Nya dari beberapa orang yang sama sekali tidak berguna seperti kalian ini, apa yang salah? Mereka kerasukan apa sebenarnya hingga bisa seroyal itu terhadap kalian? " hardiknya murka.


__ADS_2