
Kira terbelalak melihat bentuk rasa syoknya. Tak lama kemudian ia mengambil dengan perlahan.
" T-terima kasih. " ucap Kira menerima.
Siswi itu pun beranjak pergi meski rasa kaku juga menghalangi gerak-Nya. Namun,
" Oh iya, Vanya dimana dia? " tanya Xie.
Seketika ia langsung berbalik badan kembali.
" O-oh... Dia pergi bersama Pak Lucky. Kemungkinan ada perlu rapat juga dengan Guru yang lainnya. " sahutnya.
" Pak Lucky? " ucap pelan Xie.
" omong kosong! Pertemuan macam apa maksudmu itu? Dia hanya seorang Ketua Kelas, bukan Kepala Sekolah. Ada urusan apa mereka terus berhubungan dengan-Nya? " celetuk Xie agak marah.
Kira hanya terpaku mendiam tak menanggapi hardikan dari Xie.
......................
 Setelah mereka semua berpulang, kini hanya tersisa beberapa Guru yang hadir disana yang demikian juga bersiap untuk pergi.
" Usaha yang bagus untuk hari ini ya Pak Lucky. Terima kasih banyak bantuannya. Beruntung kami masih memiliki anda. Akan sangat merepotkan jika tidak ada yang mengatasi di kelasnya Bu Mey. " ungkapnya sembari berjalan bersama.
" Tidak masalah. " sahut Lucky.
" Um... Senang sekali rasanya semua berjalan dengan lancar. "
" oh iya pak. Berbicara tiba-tiba mengarah ke Bu Mey, bagaimana ya kondisinya saat ini? Benar-benar mengkhawatirkan... " imbuh Guru wanita itu.
__ADS_1
" Kita tunggu bersama kabar terbarunya. " tanggap Lucky tersengih.
Mendadak,
" Una! " panggil seseorang dari belakang.
Mereka spontan menoleh.
" Oh Juno! Sudah sampai ya? " sedikit terperanjat juga senang hati.
" Ya... Begitulah. Jadi, bagaimana? Kamu sudah punya tempat yang bagus untuk melanjutkan suasana kita saat ini Una? " tanyanya sembari berdiri.
" Ya tentu aku sangat menyukai sikapmu itu Juno. Tapi setidaknya, sekali-kali saja tunjukkan rasa kasih juga cintamu itu di hadapan publik. " kritiknya.
" Ayolah kita berangkat sekarang. " gesa Juno.
" Tidak masalah. Silahkan. " sahutnya.
Saat mereka beranjak meninggalkan Lucky, tanpa di sangka kekasih dari Una tiba-tiba saja membisik di telinga Lucky sembari berjalan melintasinya.
" Berhati-hatilah, banyak orang di sekitarmu yang masih mengenyam darah di mulut mereka. Entah sampai kapan itu akan berujung, hingga pada akhirnya mereka bisa saja meludahkannya. " menyeringai.
Setelah kepergian mereka, Lucky berjalan seorang diri di lorong sekolah bertujuan mengarah ke ruangannya lagi.
" Tuk, tuk, tuk... " suara ketukan sepatu menginjak lantai.
Tiba-tiba,
__ADS_1
" Dorrr! Dorrr! " terdengar jelas suara ledakan menembak beruntun 2 kali.
Dengan perlahan-lahan ia menoleh membalikkan badan kembali.
" Kira? " sedikit terperanjat Lucky serta kebingungan.
" belum pulang ke rumah? Atau... Ada sesuatu barang yang tertinggal disini? " lanjut bertanya.
" Pak Lucky... " panggilnya suara agak rendah.
" Hah? " bingung Lucky.
......................
" jadi itu kenapa Kira? "
Meski rasa khawatir gelisah resah terus menghantam batin Kira, ia bersikeras untuk tetap mengungkapkannya kepada Lucky juga.
" A-apa yang membuat pihak sekolah memutuskan untuk tidak meluluskan saya? " gagap Kira.
" Hah? Jadi, itu berarti...! " wajah Lucky nampak syok.
" Saya keberatan menerima " ujar Kira, mata mulai berkaca-kaca dan sedikit tersedu-sedu.
__ADS_1
" Um... Sulit Ku-percayai juga Kira. Apa kamu berpikir aku yang memutuskan? Kamu sendirilah yang menentukan bukan Kira? " sangakal Lucky.
" dan lagi... Salah orang jika kamu benar membuat keluhan kepada saya. Siapa wali kelas kamu? Mey, 'kan? Aku hadir di tengah-tengah pembagiannya kertas kelulusan itu hanya ikut sukarelawan membantu meringankan beban yang sedang di hadapi sekolah ini. Hanya membagikan bukan memutuskan! Perlu kau ingat itu Kira! " hardik Lucky agak sebal.