BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Episode 8


__ADS_3

Seseorang turun dari dalam mobil. Kemudian, Vanya juga Mey menghampiri-Nya.



"  Bagaimana? Sudah bertemu dengan teman-Mu untuk terakhir kali? " tanya Mey.


" Dia sudah mati, tidak selayaknya dikatakan aku sudah bertemu dengannya. " ucap Xie dingin.


Mey mengangguk. Vanya yang daritadi hanya menatap mata Xie dengan penuh cinta sekonyong-konyong hendak memegang tangannya Xie.


" Siapa yang baru saja kalian temui? " imbuh Xie sembari mengangkat tangannya menunjuk.


Mey yang menyaksikan perilaku adiknya tersebut sontak terkejut juga sedikit malu akan tingkah kasar Xie terhadap Vanya. Mey tidak menyahut dan melihat ke wajah Vanya.


" Euu... Dia Kira. " sahut Vanya.


" Oh. Baiklah. " jawab-Nya kembali.


Ia mencairkan suasana agar tidak tegang.


" Tapi Xie tahu? Dia kemari bukan sebab kunjungan atau bertamu. " lanjut kata Vanya.


" Oh lalu? Kalian mengundang-Nya? " tanya Xie kembali.


" Kami bertemu dengan Kira tanpa di sengaja, ia terbaring lemah di sisi jalan. Juga... Ada banyak luka sehingga membuat dia terlihat sangat mengenaskan tadi. Benar kan kak? " ucap lagi.


Mey tidak menyahut pertanyaan dari-Nya, dan malah berkata.


" Vanya ingin pulang sekarang? Xie akan mengantar hingga sampai rumah. "


Seketika Xie langsung melirik mata Kaka-Nya tersebut dengan sorotan tajam. Tak lama kemudian, Xie pun meninggalkan mereka berdua dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan meninggalkan kata,


" Dia menginap saja, nanti beberapa jam lagi kita juga akan keluar bersama-sama untuk pergi ke sekolah. " seraya jalan.

__ADS_1


" Euu... Haha tentu saja itu benar kak. Ini juga sudah pagi. Siapa yang berminat pulang di jam segini. Kak tidak apa-apa kah jika aku ikut menginap di sini? " ujar Vanya tergagap-gagap sedih hati.


" Oh tentu saja tidak mengapa, jika itu membuatmu nyaman. Tidak apa-apa? " sahut Mey.


Vanya mengangguk-anggukan kepala serta tersenyum, lalu ia pun berjalan ikut masuk ke dalam rumah.


" Mereka benar-benar sedang menjalin hubungan bukan? " gumam Mey menghela napas.


Ia juga ikut masuk.


" Brak!! " suara pintu di buka dengan keras.


" Hei!! " lantang seseorang terkejut panik.


" cici!! Apa ini? Ketok pintu!!!Sembarangan masuk! Bagaimana jika aku sudah melepas semua pakaian ini?! " berang Xie seraya menutupi kembali tubuh bagian atasnya dengan baju.


Mey berjalan ke dalam kamar dan duduk di atas ranjang.


" Banyak mulut. Duduk kemari. " suruhnya melambaikan tangan.


" perlukah aku yang menghampiri-Mu kesana? " ujar Mey kembali.


Xie tersadar dan perlahan berjalan menghadapi kakak-Nya tersebut dengan tidak senang hati.


" duduk! Mendengar atau tidak kau ini?! " gusar sembari mendudukkan Xie di ranjang dengan sedikit tekanan.


Terlihat Xie masih menutupi tubuh-Nya menggunakan baju tadi. Ia mulai merasa sedikit agak jengkel akan tingkah Xie.


" bisakah kau melepas bajumu itu? Kakak ini! Apa masalahnya? Lagi pula aku sudah sering melihatmu bertelanjang, jadi tentu aku tahu bagaimana postur tubuhmu itu seperti apa. Menyebalkan kau ini. "


Xie spontan menjawab


" Ba..ba..bagaimana seperti apa? Maksudku... Kapan aku pernah menunjukkan... " kikuk menggagap juga memalingkan pandangan.

__ADS_1


" Aku kakak-Mu. He dengarkan aku, lihat kemari. " tegasnya bicara perlahan.


Xie merasa agak canggung untuk melihat, tapi ia pun tetap berusaha menuruti apa yang dikatakan Mey tersebut.


" Kalian resmi berpacaran bukan? " sosor Mey.


Xie tidak menjawab dan perlahan mengalihkan penglihatan. Karena rasa marah terus mengepul dalam diri Mey ia berusaha berdesah, dan berkata kembali dengan lembut juga perlahan seraya memegang bahu Xie agar melihat dirinya.


" apa Xie sungguh sedang menjalin hubungan cinta kasih dengannya? Vanya?  " ucap Mey menatap tajam mata Xie.


" berhenti bersikap seperti itu! Katakan yang sebenarnya! " Mey meneriaki, membentak.


Xie melepaskan genggaman dan berdiri.


" Keluar ci. " sahut Xie tidak ramah.


Mey mengangkat kedua tangan untuk memegang bahunya kembali, dan membalikkan pandangan Xie. Mereka saling berhadapan.


" Jika memang menyukai seseorang, maka lakukan apa yang ia sukai, jika tidak menyukai maka jangan lakukan apa yang ia sukai. Xie jika tidak suka Vanya jangan terus bertingkah seperti sepasang kekasih, itu bisa menyakiti-Nya. Tanggapan yang Xie berikan tadi, menunjukkan bahwa kamu tidak suka. Bisakah berhenti melakukan itu? " imbuhnya.


Sekonyong-konyong saja Vanya tiba masuk ke dalam kamar sembari bericau gagu tak karuan


" Anu... Itu... Kak, aku mempunyai sedikit masalah. Euu... Bisakah kak Mey ikut denganku sebentar? " kelisah.


Jelas sekali itu membuat mereka tercengang bengang, Mey mengangguk perlahan dan berjalan mengikuti yang di arahkan Vanya. Kemudian,


" Oh... Seperti-Nya masalah ini ada di dalam, kita memerlukan orang yang benar-benar mengerti perihal ini. Aku kira lampu-Nya sudah tiba untuk di ganti tapi ternyata bukan di situ letak masalahnya. Vanya tidur di kamar tamu lain saja ya... Tidak apa-apa? " tanya Mey.


Ia mengangguk.


" kamu bereskan barang yang seperlunya untuk di bawa malam ini, dan kakak akan membenahkan kamar yang akan ditinggali kamu nanti. Tunggu sebentar ya " gagas-Nya.


Saat ia hendak pergi, tiba-tiba Vanya memegang lengan Mey untuk menahan. Saat ia berbalik, lalu Vanya berkata dengan perlahan.

__ADS_1


" Bisakah Kakak tidak mengatakan hal itu kepada Xie? " tersenyum serta muka susah hati.


__ADS_2