BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Kumpulan #2


__ADS_3

Singkat waktu, Lucky dengan yang lainnya kembali.


Kira yang daritadi menggelisah karena kehadirannya mereka berdua sontak tidak bisa bertingkah bebas, nampak juga masih mengenakan masker pelindungnya.


" Bagaimana jika Pak Lucky memanggil namaku? Apa yang harus aku lakukan?! Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui aku ini gagal atau tidaknya. Tapi entah kenapa rasanya benar-benar membuatku cemas, entah itu karena Xie atau hal lainnya. " gumam Kira kelisah resah berkeringat dingin.


" Kalian berdua boleh pergi sekarang. " ujar Lucky tiba-tiba.


" Hah? " linglung Vanya.


Kira serta-merta mendongak setelah mendengar ucapan Lucky.


" Terima kasih ya sudah membantu mengangkut buku-buku ini. Semoga terbalaskan di kemudian saat. " lanjut kata Lucky.


" O-oh... I-iya pak tidak masalah. Um... " gugu Vanya menyahut.


Mereka berdua pun beranjak pergi.


" Tolong untuk ditutup juga ya pintunya. " peringat Lucky.


" Kreeek... " menutup.


" Baiklah, saya akan memulai memanggil kembali seperti pada biasanya. Sudah tahu, 'kan? " tutur Guru itu.

__ADS_1


" Iya pak! " serentak menjawab.


" Berdiri saja ya di ruangan aula ini. Berlatih tanpa adanya penopang, meski harus bertahan dalam jangka waktu tidak tentu. " imbuh Lucky.


Mendadak ada satu orang siswa yang mengacungkan telunjuknya.


" oh... Ada pertanyaan ya?? Padahal sepertinya saya tadi tidak terlalu banyak berbicara. Wah... Cukup pintar bisa merangkum sebuah pertanyaan dalam penjelasan tidak banyak. Baiklah apa itu? " ujar Lucky.


" Terima kasih atas perhatiannya pak. Saya ingin menanyakan suatu hal, dikarenakan kami tidak lulus di bulan yang seharusnya, lalu selama masa menunggu hingga ujian ulang itu datang kembali apakah kita berada di posisi pelajar khusus? " papar siswa.


" Bukan ujian ulang, kamu salah mengartikan. Jika dikatakan ujian ulang, maka para siswa-siswi yang lulus itu berarti juga akan ikut menjadi peserta kembali. Tapi... Bagaimana cara mengatakannya ya jika dalam situasi seperti sekarang ini? Um... " sangkal Lucky.


" gold test... Mungkin itu saja yang bisa kita sebut. Untuk jawaban pertanyaan tadi, kalian masih tetap menjadi seorang pelajar di sekolah Suciko. Bagaimana seperti hari biasanya. " lanjut Lucky.


" apa? " tanggap Lucky wajah tampak lesu.


" Pak! Apakah buku-buku yang akan anda berikan itu bisa dikatakan pelajaran tambahan untuk kita nanti? Jika memang benar, menurut saya itu kurang adil! Mereka yang lainnya?? " protes si siswa.


" Apa yang kamu khawatirkan sejujurnya hah? Memang seperti itulah seharusnya terjadi, 'kan?? " sindir Lucky agak mengecam.


" bukan hanya kau yang satu-satunya bersarang disini, terutama kau adalah orang baru. Bagaimana bisa orang sepertimu mengatakan itu didepan-Ku? " hardik Lucky menatap tajam.


Seketika pun ia menundukkan kepala terdiam.

__ADS_1


" sudahlah, aku tidak ingin berbicara banyak lagi. Sudah tersampaikan semuanya, 'kan? Aku juga berharap kalian menyerap penjelasan tadi dengan sangat baik. " pungkas Lucky.


Singkat waktu, acara nampak sudah berakhir. Mereka berhamburan keluar kelas bertujuan pulang.


Terdengar jelas sekali suara ramai orang-orang disana disini.



Kira yang demikian hanya fokus saja berjalan lurus, hingga-hingga.


" Buk! " tertabrak.


Saking cukup banyaknya para siswa-siswi yang hadir disana, sampai beberapa orang nampak tidak sengaja menubruk Kira. Masker miliknya setengah terbuka. Akan tetapi ia sigap juga menarik kembali memakai. Fokus dengan masalahnya sendiri, Kira mulai berjalan lagi. Namun siapa yang menduga,



Seorang perempuan tengah berdiri tepat berada di arah depan jalan Kira.



Gadis tersebut yang menyadari ada yang mengawasinya, keruan terkejut-kejut panik gelisah.


" Vanya??!! " syoknya memalingkan wajah seketika.

__ADS_1



__ADS_2