
Lucky menarik baju bagian atas Kira,
bertambah keresahan ia melawan meronta-ronta melepaskan diri dengan sekuat tenaga, terus berucap merengek.
" Apa yang kau lakukan hah? Tidak bisa! Mohon maaf! " risihnya dengan tegas.
dan pada akhirnya pun Kira bisa lepas kembali dari pelukan Lucky. Mereka saling terpaku diam serta menatap satu sama lain bentuk dari ekspresi wajah keterkejutan-Nya.
" Apa kamu benar-benar marah kepada-Ku? Tidak bisa menerima permintaan maaf yang dikeluarkan tadi? " seringai Lucky kecewa.
" Tunggu pak, hiks... sungguh jangan salah tanggap dulu. A...a..aku benar-benar tidak mengerti maksudmu. " isaknya panik.
" Oke, baiklah... " ucap Lucky dengan menarik napas.
__ADS_1
Ia berjalan untuk mengambil kursi dan membawanya, diletakkan dekat Kira seraya bericau.
" aku mengerti sekarang. Ini nyata, aku yang bersalah, terlihat sekali wajahmu menunjukkan kegelisahan amat hebat, seharusnya aku lebih pelan-pelan untuk mengajakmu berhubungan baik, yah itu benar. Tapi, perlu kau tahu juga, bahwa aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya, ini menggejolak sekali didalam hasratku melihatmu terus-menerus begini. Baiklah, mari kita mulai dari awal berkenalan dulu. Ayo silahkan duduk. " membenahi 2 kursi.
Kira berusaha untuk tetap tenang dan mendengarkan mengikuti terlebih dahulu apa yang ingin laki-laki itu dicurahkan, ia duduk perlahan.
" tidak perlu takut tidak perlu takut, ya aku berusaha mulai mengerti sekarang. " imbuh-Nya juga duduk.
Mereka saling berhadapan, Lucky daritadi memang terus menatap liar kepada muridnya tersebut, beda lain Kira, terus memalingkan pandangan mata agar tidak dilihat oleh guru itu.
Lucky menyodorkan sebuah kartu undangan Bar sembari melanjutkan ucapan-Nya.
" berkenan kah kamu menghabiskan waktu bersama denganku malam ini? "
Kira termangu langsung, bukan hanya itu yang membuat-Nya terkejut, setelah mendengar perkenalan dari guru itulah yang amat mencengangkan dirinya. Kira diam, Lucky menyadarkan
__ADS_1
" ambil ini. " ujar lagi.
Kira berpikir terlebih dahulu, kalimat apa yang pas untuk bisa menjawabnya, ia sungguh takut jika salah bertingkah itu akan membuatnya marah atau salah menanggapi. Cukup lama menimbang-nimbang, akhirnya pun Kira menyahut dengan agak panik, gemetar, tersendat-sendat saat mengungkapkan. Mengalihkan pandangan berusaha untuk memerhatikan laki-laki itu, agar merasa nyaman baginya juga tidak ada salah beranggapan.
" Euu... Pak Lucky, benar-benar mohon maaf sekali, setelah melihat kemampuan saya terhadap pelajaran yang bapak berikan tadi, menurut saya... hal ini tidak sepantasnya bagi saya untuk menerima. Malam nanti, saya akan berusaha lebih keras agar bisa juga bergaul dengan pelajaran bapak. Sungguh, saya merasa buruk sekali saat merasakan-Nya. "
Lucky terdiam sejenang, Kira yang melihat respons-Nya pun nyata makin kebingungan. Lucky berbicara
" Tunggu, setelah mendengar penjelasan darimu... bukankah itu sebuah kalimat penyindiran untuk saya? Benar begitu? " semburnya.
Kira terbelalak matanya sebab kejut mendengar simpulan dari guru tersebut.
" Hah? T..tidak! Tentu bukan, aku hanya merasa buruk dengan diriku setelah me..melihat berapa kali tadi tertinggal. Itu menunjukkan bahwa aku harus lebih giat lagi belajar. " sigap menjawab dengan panik.
" bapak juga tahu bukan? " imbuh Kira.
__ADS_1
Lucky menghela napas seperti terlihat untuk menghilangkan rasa gusarnya.