BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Episode 48


__ADS_3

 Vanya seketika diam. Kemudian


" Bincangan apa saja yang sudah ia lontarkan kepadamu Xie? "


Xie tak menyahut langsung pertanyaan dari Vanya.


" Sebelumnya dia bertingkah seolah-olah bodoh dengan perbuatan juga omongan-Ku. Apa yang sebetulnya terjadi? Aku bersungguh-sungguh! Sangat tidak memahami anggapan yang ia berikan padaku. Namun, untuk terakhir kalinya akhir pun dia berkata sejurus atau menyambung dengan ucapan-Ku selama ini, itu menandakan bahwa dirinya memang benar seperti yang aku duga, meski pada nyatanya ia meminta untuk aku berhenti bertingkah di depannya. " bebernya.


" Apakah benar begitu? Sulit untuk Ku-pahami juga, sangat aneh. " kata Vanya agak kaget.


" mungkinkah dia sebenarnya sudah mempunyai kawalan seseorang? Jika dia tidak menerima pegangan darimu tentu saja itu terjadi 'kan? Bagiku mustahil untuk bisa hidup di kota ini dengan keinginan yang sama seperti-Ku bertahan tanpa adanya nasihat dari seseorang. " pikir Vanya.


Setelah mendengar kesimpulan dari Vanya, sontak Xie pun tertegun serta bermenung-menung akan ucapannya tersebut. 


" apakah kamu tidak berpikir sampai kesana Xie? Tentu saja itu masuk akal. " imbuh-Nya.


" Apakah mungkin? Tapi aku belum pernah melihat Kira memperlakukan khusus kepada siapapun itu, tidak ada. " ujar Xie.


" Um... aku tidak tahu apa alasan dia menyembunyikan orang itu, tapi tentu ucapan-Ku tadi sangat jelas benarnya, dia tidak mungkin mau hidup disini jika tidak ada yang menjaganya, bahkan dia menolak bantuan darimu. " kata Vanya meyakinkan lagi.


" Apakah itu benar terjadi. " gumam Xie.


" menurut-Mu begitu? " tanya-Nya.

__ADS_1


Vanya mengangguk seraya lanjut makan.


" siapa dia? " ucap Xie lagi.


" Aku berpikir sepertinya dia berada di sekitar kita bahkan bisa jadi karib. Dan yang lebih jelas di sekolah kita juga pasti dia ada. " sahutnya.


Xie terdiam, lalu laki-laki itu malah beranjak pergi meninggalkan Vanya namun sempat berujar sambil berjalan cepat.


" Aku harus sesegera-Nya sampai di perpustakaan. Terima kasih untuk makanannya. "


" Eh kenapa?? Kita bisa berangkat bersama Xie? Hey! " tahannya.


Xie tak mengacuhkan ricauan darinya dan menutup pintu serta bergegas pergi.


" Sudah jam 7 lewat, mustahil jika dia belum datang. " kejutnya.


" apa dia akan absen hari ini? Tidak mungkin, dia juga pasti mengetahui jika melakukan perkara itu akan memperburuk keadaannya sebagai siswa di sekolah ini. " pikir Xie di dalam kepala.


" apakah telah terjadi sesuatu dengannya? " lanjut ucap Xie di dalam hati.


Kemudian ia pun melanjutkan pejalanannya.


Langkahan kaki seseorang menginjak lantai terdengar jelas sebab berjalan di tempat yang cukup sunyi.

__ADS_1


" Tuk tuk tuk " suara sepatu berjalan menaiki di atas tangga.


" Betulkah itu? Bisa saja terjadi bisa juga tidak. " gumam Xie keresahan hati.


" jika pun itu memang benar, aku perlu mengetahui siapa dia? Aku perlu meyakinkan ia sungguh boleh dipercaya menjaga Kira dengan baik atau tidak, mengkhawatirkan jika dia adalah seorang pecundang. " ucap Xie lagi di dalam hati.


" jika benar begitu, hal apa yang membuat Kira sangat mempercayai orang itu dibandingkan aku yang selalu memperhatikan-Nya cukup lama ini, bahkan dari awal dirinya pindah kesini akulah yang selalu berada di sekitarnya meski kita tak begitu berdekatan pun, tentu seharusnya ia memilih lebih pintar menggenggam tangan seseorang. Aku benar-benar berharap bisa mengetahui siapa sebetulnya orang paya... " gerutuan Xie di dalam hatinya terpotong.


" Buk! " bertubrukan.


" Eh!! " kejut seseorang.


" Gedebuk! Gedebum! " tergelincir dan jatuh hingga ke ujung bawah tangga.


Seketika semua sunyi di dalam angan-angan Xie tak ada respons darinya setelah menabrak orang itu, ia malah menampakkan dingin mendiam melamun sambil berdiri tetap di tempat. Tak lama kemudian terdengar suara seperti seseorang memanggil dengan perlahan perlahan mengeras bunyinya.


" Xie!! Xie!! Pang Xie Chu!! Pang Xie!! " teriaknya.


Sontak Xie pun tersadar dan langsung melihat ke arah sumber suara itu, terkejutlah dirinya lekas bergerak cepat turun ke bawah.


" June Sin? June Sin kamu tidak apa-apa? Bertahanlah... " panik sangat Vanya.


" Aahh... aaahhh... " rintihnya menahan kesakitan.

__ADS_1


Sigap Xie pun membantunya dan membawa June Sin ke ruang UKS.


__ADS_2