
" Apa maksudmu? "
" Dia sama sepertimu. " ujar Xie lagi.
Vanya terdiam seketika. Berdiam kembali kemudian Xie berkata
" dan... aku sungguh-sungguh meminta pengertian-Nya darimu, dia benar-benar tengah menderita. Bayangkan saja dia adalah dirimu sendiri yang sedang berada di posisi-Mu pada waktu itu. " cakapnya.
Tak ada sahutan dari Vanya malah menatap lurus tak berkedip.
" aku benar-benar berharap kamu mempunyai toleransi yang tinggi, dan bisa meng... " ucap Xie terputus.
" Tidak! Bukan itu maksud-Ku Xie, aku sangat terkejut mendengar beberan darimu, tentu sulit untuk Ku-percayai pernyataan darimu, tidak! meski memang benar begitu... lalu bagaimana bisa kamu mengetahui bahwa ia mengalami posisi yang sama seperti diriku dulu? " selang Vanya.
" Dia orang pindahan. " sahut Xie.
" Oh benarkah? " Vanya terperanjat.
" lantas... bagaimana kondisinya sekarang? Ah jujur saja ini benar-benar menggemparkan bagi diriku sendiri, tidak Ku-sangka ternyata Kira... dia... " ucapnya nampak wajah agak gelisah.
" Euuu... Aku tidak tahu sebenarnya selama ini dia baik-baik saja atau malah sebaliknya. " jawab Xie.
__ADS_1
Vanya terpaku sebentar, kemudian melanjutkan obrolan.
" Tentu Xie memang seharusnya membantu dia, jelas sungguh-sungguh mengkhawatirkan. Waktu lepas... apakah sebetulnya dia juga telah mengalami hal yang buruk pada malam itu? " duganya.
" apakah sekarang ini dia memang benar-benar membutuhkanmu? Tunggu dulu Xie, sebelum itu... bagaimana kamu bisa tahu dia berada di posisi yang sama seperti-Ku, dan... dari mana kamu tahu dia orang pindahan? " tanya Vanya lagi.
Xie lanjut makan.
" Lalu bagaimana kamu bisa berkenalan dengannya pada awal pertemuan pertama? Apa pendapatmu? Dia memang orang baru bukan di daerah ini? " celetuknya.
" Sebenarnya itu tidak terlalu berkesan di benak-Ku. Aku tak mengetahui dia orang baru atau tidak disini sebab untuk apa perlu mengetahui tentang hal itu, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku bisa mengenalnya karena ia adalah orang kenalan-Nya kak Mey. Di sekolah juga cukup sulit untuk bisa berjumpa dengannya lantaran dia jarang menampakkan diri ataupun berkeliaran di luar kelas, sangat terkejut ternyata kita satu atap sekolah. " ungkapnya.
Xie menyelang bincangan dengan makan, ia meyahut juga.
" Oh begitu. " paham Vanya.
" Sebenarnya dia menolak untuk dibantu oleh-Ku. " ujar Xie.
" Apa?? " kejut Vanya.
" Itu yang menjadikan-Ku bingung. Bagaimana pendapat-Mu tentang hal ini? " lanjut kata Xie.
__ADS_1
" Tapi menurutku itu mustahil untuk dilakukan, bagaimana bisa? Atau... apakah kamu telah berbuat sesuatu yang buruk sehingga ia beranggapan seperti itu? " sangka Vanya.
" Apa? Menurutku tidak ada. " jawab ringkas Xie.
Sontak Vanya langsung tepekur.
" Jika benar begitu... tentu mungkin dia sudah terbiasa dengan lingkungan kota ini? Benar? " kesimpulan Vanya.
" Tidak mungkin. " celetuk Xie.
" Mengapa? " ujar balik Vanya.
" kalo dia memang benar sudah terbiasa dengan kondisi-Nya sekarang ini, pasti saja dia tidak akan menolak ataupun terus menghindari laki-laki yang berada di sekitarnya. " jawab Xie.
" Apa yang membuatmu berpikir bahwa dia menghindar dari mereka itu? " tanya lagi Vanya.
" Aku tidak akan pernah tertarik untuk membuka awal hubungan dengannya. " ucap Xie juga.
Mereka saling terdiam, lalu Vanya berujar kembali.
" Tapi menurutku... 4 bulan tinggal disini sangat sulit dipercaya masih bisa bertahan menjadi seorang gadis. " cetus Vanya.
__ADS_1
" Dia masih sama sepertimu (perawan) " ujar langsung Xie.
Vanya seketika diam. Kemudian,