
Karena hal itu juga membuat Kira terjatuh saking keras Lucky menampar. Ia berbalik dan melihat kondisinya.
" Berdiri cepat " ucap Lucky pelan.
Kira beranjak bangkit dari jatuhnya dengan perlahan, memegang meja guru sebagai pegangan agar tidak jatuh. Lucky terus berdesah untuk menghilangkan rasa marah yang terus mengepul dalam dirinya.
" perlukah aku memanggil orang tuamu? " gusar bertanya.
Kira mencoba sedikit merapikan rambut yang menghalangi wajahnya, sebab pukulan dari Lucky tadi yang mampu membuat dirinya agak berantakan sembari berkata
" Saya benar-benar minta maaf. " ungkap Kira perlahan sambil memegang pipinya karena rasa sakit yang masih membekas.
" Eh!?? " kejut Lucky terbelalak matanya.
Mereka berhadapan dengan tatapan saling terkejut-kejut. Sekonyong-konyong datang seseorang menarik gesit tangan Kira dan membawanya lari pergi ke luar kelas.
" he! he! he! mau kemana kalian?! " teriaknya.
Alhasil Lucky pun mengejarnya. Kira dibawa lari dan bersembunyi dibalik tembok. Seseorang itu merapatkan tubuhnya melekat sangat dibadan Kira.
" Ada apa ini?? Apa yang kau lakukan?! S...siapa? Siapa kau? Pergi! T...tolong! " risih Kira meronta-ronta.
Kira benar-benar amat terganggu lantaran perlakuannya, dan ia pun mencoba untuk melihat wajah seseorang tersebut seraya berusaha melepaskan diri. Mereka saling berhadapan.
" Xie!!? Ada apa denganmu?? Lepas! Ini mengganggu-Ku! " keluhnya.
Xie malah semakin memeluk erat Kira dan berkata dekat ditelinga.
" Diam, dia datang. " membisik dengan suara berat lembut.
" Apa maksudmu? " risih-Nya kembali.
Benar perkataan Xie, seseorang tiba yang tak lain itu adalah Lucky, berdiri pas disamping mereka, menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaannya Xie juga Kira.
" Kemana? Mengapa cepat sekali menghilang? " ujar Lucky terengah-engah.
__ADS_1
Kira masih tetap berada dalam keresahan akan perbuatan juga posisinya saat ini.
" T...tapi... tapi ini terlalu dekat, ini tidak bisa. Bagian pi...pinggul-Mu tolong untuk menjauh dari-Ku " rengek Kira meringis.
Xie tak mengacuhkan kesukaran darinya. Terlihat Lucky pun berlari kembali menuju luar pintu sekolah.
" sulit!! Tidak bisa terjadi! Milikmu berdiri tegak sekali!! " geramnya dengan mendorong kuat Xie hingga jatuh.
" Buk... " terjatuh ke lantai.
Xie terdiam sejenak dan bangkit secara perlahan lalu berdiri didepan Kira.
" Maaf " ucap Xie pelan.
" sebelumnya aku belum pernah bertindak seperti tadi, jadi cukul menegangkan bagiku. " imbuh Xie menjelaskan.
Kira masih terlihat tercengang-cengang ketakutan dengan apa yang telah terjadi barusan. Ia niat bergegas pergi tetapi ditahan kembali oleh Xie dengan memegang tangannya. Kira spontan melepas keras genggaman dan melirik mata Xie dengan tatapan bengis.
" tunggu sebentar. " kata Xie.
" kira " panggilnya.
Alhasil ia terhenti dan mencoba menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan mata, menghilangkan rasa dongkol. Lalu ia berbalik badan.
" tolong dengarkan dulu apa yang ingin aku katakan. " ujar Xie pelan lagi.
" laki-laki itu. Dia adalah rajanya. Kita benar-benar perlu bicara. Ini demi dirimu juga. Kau menyayangi-Nya bukan? " ungkap Xie.
Kira terlihat masih terpaku dalam posisinya sembari menatap lurus mata Xie. Kemudian ia pun berkata
" Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya kamu bicarakan. Omongan mana yang nyatanya kamu singkapan? Jika itu bukan berkenaan dengan masa depan-Ku, aku sungguh memohon sekali, untuk berhenti melakukan apa yang ada didalam kepalamu. Perlu diungkapkan, itu menakuti-Ku. " ujar Kira.
Seketika Xie benar-benar dihantam kebingungan yang hebat. Ia tak mengira perkataan begitu, keluar dari mulutnya. Tak lama berenung, kemudian Xie berjalan menghampiri-Nya, Kira sigap membantah.
" apa kenapa?! " waspada.
__ADS_1
Entah sebab apa, sekonyong-konyong saja Xie malah tersenyum manis, dan menyahut.
" Aku ingin berteman denganmu. " mengajaknya berjabat tangan.
Dan itu malah membuat Kira semakin terkejut-kejut melongo.
" menolak? " imbuh Xie mengolok-olok.
" Oh! " tersadar, bingungnya.
Ia menerima jabatan tangan darinya.
Lalu Xie menyodorkan tangan kanan yang berisi selembar kertas berukuran kecil. Kira kebingungan juga melihat.
" Kita tidak sungguh-sungguh menjadi teman jika belum melakukan ini. Terima ini. Kita cocok apa tidak menjadi seorang teman. " ucap Xie.
Kira hanya menatap kertas yang berada ditangan Xie tersebut.
" kira ambil. " imbuh-Nya.
" Iya. Euu... Terima kasih. " mengambil.
Hal ini juga sebenarnya yang ingin Xie tanyakan daritadi.
" Pipimu?? Mengapa merah muda sekali? Apakah itu riasan? " tanyanya.
Sigap Kira meraba-raba sebagian wajah bentuk rasa kaget.
" Diam disana kalian! " teriak seseorang dengan lantang.
Lamanya waktu Mereka berdiam disana saling berhadapan, alhasil pun Lucky datang kembali berlari cepat menghampiri. Tibanya ditempat dengan terengah-engah kelelahan, Lucky langsung menampar keras pipi Xie juga Kira.
" Plak Plak!! "
" Akh!! " rintih mereka.
__ADS_1