
Kira melepas rompi seragamnya, serta membuka satu persatu kancing tersebut. Nampak ia masih termenung-menung setelah apa yang sudah terjadi menimpanya dengan Lucky hari ini.
" Banyak sekali ternyata keganjilan akhir-akhir ini melihat tingkah laku Pak Lucky yang sekarang. Namun, setiap meneliti lebih lagi mengenai tanggapan-tanggapan yang ia berikan, memang seperti ya begitulah kenyataannya terjadi. Aku jadi bertambah sukar untuk hidup. Bagaimana? Apa yang harus aku simpulkan sekarang dengan sikapnya yang kini? " ricaunya Kira dalam hati.
" lalu... Berpikir keras-keras perihal ini, kemana sebenarnya dia pergi? Mengapa ia secara tidak alamiah begitu menghilang? " cua-Nya merenung.
" June Sin. " ucap Kira pelan.
" Keno berkata bahwa ia sudah dipulangkan ke rumahnya, tempat tinggal mana yang ia kunjungi? " serius Kira berpikir.
" juga... Dia sempat berujar bahwa ada sebagian anggota yang ternyata berdiam di rumah itu. Teman dekat? Apakah dia pergi ke tempat teman kerjanya? Jika mungkin benar tapi ada apa? Mengapa ia malah pergi begitu saja tanpa mengabariku sama sekali? " rentan Kira lagi.
Seketika saja ingatannya kembali membawa Kira saat mengalami kejadian di waktu lalu bersama Anju yang mengakui dirinya adalah seorang suruhan June Sin.
" menyebalkan. Saking terlalu tertekan-Nya saat itu, sampai membuatku terlupa untuk menanyakan tentang June Sin kepadanya. " geramnya sesal sendiri.
...----------------...
__ADS_1
Suara kebisingan di Sekolah terdengar jelas dimana-mana. Sebelum ujian di mulai, ternyata mereka para murid di perintahkan untuk mengambil satu persatu kartu peserta di ruangan Lucky. Mereka menunggu diluar dan dipanggil secara berurutan.
Nampak Kira juga tengah duduk sendiri di atas kursi. Sambil menunggu tibanya pemanggilan, rupanya Kira masih terlihat gigih sekali mempelajari ilmu-ilmu untuk bekal ujian yang akan di hadapinya nanti maupun sekarang. Di tengah-tengah sedang belajar, pandangan Kira tak sengaja melirik selintas ke arah sekawanan siswi. Yang ternyata salah satu dari mereka juga tengah mengamati Kira daritadi. Sontak terhenti dan ikut menatapnya, seketika ia langsung memalingkan wajah dari Kira.
" Apa sebenarnya mereka juga berpikiran sama dengan perempuan yang pada waktu itu merundung-Ku? " renung Kira menduga.
" jika memang betul pun, aku benar-benar tidak menyangka hanya karena hal ini bisa juga membuat mereka menggila. Dan bahkan, aku sama sekali tidak tahu permasalahannya yang mengganggu mereka itu seperti apa bagaimana. " heran Kira bergumam.
Tiba-tiba,
" Akh! " erang Kira sedang duduk.
Siapa yang menduga ternyata, sekonyong-konyong saja ada beberapa siswi yang datang lagi menghampiri Kira seraya menyerang kaki bagian Kirinya, hingga hasil pun ia terjatuh ke bawah sembari merintih kesakitan. Kira menoleh.
" Ada apa denganmu? " bingungnya agak kesal.
" Oh tidak! Rupanya ada seseorang yang sedang duduk disini ya? Kau juga yang salah, mengapa membiarkan kakimu itu menginjak lantai? " olok-oloknya.
__ADS_1
Mendabak saja, salah satu dari mereka malah menjambak rambut Kira.
" Ihh... Aku geram sekali melihat wajahnya! Mengapa orang sepertimu dibiarkan hidup sih di dunia ini! " sosornya.
" Aw! Ahh...Ah... Lepaskan! Ah... Apa yang kau lakukan lepaskan! " erang Kira menahan sakit.
Mengejutkan, mereka semua yang hadir menyaksikan perilaku yang dikeluarkan siswi si perundung itu, nyata sama sekali tak ada tanggapan untuk memihak Kira. Sebaliknya, mereka malah tampak senang juga menikmati tindasan yang dilakukan siswi tersebut. Tapi ada sebagian orang dari sana merasa tidak nyaman akan situasinya sekarang kini, namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa hanya terdiam memalingkan pandangan.
" Hey hey hey, mana benda itu? Cepat berikan padaku. " perintah temannya.
" Oh ingin ditempelkan sekarang? " sahutnya.
" Iya... Sebelum sesuatu penghalang datang kesini. " ujarnya lagi.
" Oh oke. "
Mengeluarkan sebuah fentanil lalu dengan langsung berniat menerapkannya di bahu Kira. Sayang sekali,
__ADS_1