BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Melawan


__ADS_3

Lucky yang demikian berlanjut duduk, sontak merasa bingung lantaran Kira yang baru tiba bukannya mengikuti saja, melainkan malah berdiri menatap tajam ke arah Lucky.


" apa yang sebetulnya terjadi denganmu? Duduklah, tidak malu memang? " tegurnya.


" Pak Lucky! Saya yang seharusnya bertanya begitu kepada bapak. Tindakan andalah yang benar-benar memalukan! " bantah Kira.


Lucky menghela napas lagi seraya menunduk kepala.


" Huhs... " hembusnya.


" duduklah. " pungkas Lucky.


" Tidak! Saya akan pergi kembali dan bergerak cepat untuk menyelamatkan mereka. " tekad Kira melawan.


" Brak!! " suara menghantam.


Sekonyong-konyong saja tanpa di sangka Lucky menggebrak meja dengan sangat keras.


Kira yang demikian tak menduga, keruan terkejut-kejut seketika jantung berdetak kencang.



Tiba-tiba Lucky langsung mendorong mencekik bagian leher Kira hingga ke tembok.


" Uh! " kejut Kira panik gelisah.


" k-kenapa Pak Lucky? " sesak napas Kira berusaha membela diri dari cengkeraman.

__ADS_1


" Apa yang salah denganmu sebenarnya akhir-akhir ini hah! Menjengkelkan sekali! Bisa hidup dengan tenang saja?! " murka Lucky mencekik.


“ tunggu, bukankah kau sendiri yang memimpikan ingin-Nya sebuah kedamaian?! Jika kau saja yang mana malah terus-menerus memainkan abu kayu bakar nan sudah mati, itu bisa saja mengembalikan kobaran api untuk menyala lagi! “


“ maka tidaklah heran mengapa sebagian manusia mengkhawatirkan keras untuk mereka memastikan bekas api unggun yang telah dipakai agar di siram dengan bersungguh-sungguh. Tapi kau malah bertindak sebaliknya. Benar-benar mengundang ya?! “ lanjut hardik Lucky.


Kira tertegun mendiam. Wajah penuh kesyokkan serta sedih. Jantung berdetak kencang saking gentarnya perlakuan Lucky tersebut.



Akan tetapi, beruntung para karyawan yang hadir tak sengaja menyaksikan percekcokan Kira dan Lucky serentak bersigap lari mengarah. Berusaha untuk melerai meredakan celetukan si Guru pria.


" M-mohon maaf. A-ada apa ini tuan? Tolong untuk tenang, tidak nyaman sekali rasanya meli-- " nasihat pelayan itu di potong.


" Tidak ada. Kami hanya bercanda. " senyum Lucky seraya melepaskan langsung cekikan-Nya.



" mari silahkan. " ujar Lucky.


" oh iya, tolong bawakan kami 1 botol moet. Maaf mengganggu, permisi terima kasih. " tutur Lucky.


Si pegawai yang nampak masih linglung sontak malah diam berdiri memandang Lucky.


" apa yang salah? " bingung Guru tersebut.


" A-aa t-tidak! M-mohon maaf, apa yang sudah tuan tadi sampaikan? Mohon maaf sekali, sangat menyesal. " ucap pelayan sembari menundukkan kepala.

__ADS_1


" Moet 1 botol. " eja Lucky menjawab.


Seketika ia pun bergegas beranjak pergi. Tapi sebelum itu dia bertanya.


" Kamu tidak apa-apa? " menghadap Kira.


" O-oh... Iya tentu. Tak ada masalah apapun. " sahut Kira.


" Syukurlah. "


" Mari duduklah. " perintah lembut Lucky kepada Kira.


Setelah kepergian pelayan tersebut, ia pun duduk.


" lalu... Apa yang ingin kamu makan hari ini? " lanjut tanyanya melihat menu.


Mengamati sikap Lucky yang baru saja terjadi, tentu membuat Kira merasa takut untuk membelot.


" A-aa... S-saya hanya ingin makan. Apapun itu untuk menambahkan stamina juga tenaga kembali. " gagap Kira menyahut.


" Baiklah. Pesanan akan dibuat. " ujar Lucky.


Kemudian di panggil kembali pegawai yang lainnya untuk melayani. Di tengah-tengah menunggu, terlihat Guru itu sibuk dengan memainkan ponselnya sendiri. Tidak lama juga, sekonyong-konyong saja diluar dugaan ia malah,


" eh Kira kau tahu tidak berita soal anak dari kepala sekolah itu? Um... Sundry? Sudah dengar? " semangat Lucky.


Nampak yang sebelumnya wajah dari Guru lelaki itu sangat rasisme, seketika saja kini malah mengatakan hal yang diluar isi kepala Kira.

__ADS_1


__ADS_2