BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
School Test Time Part 3


__ADS_3

" aku juga, terima kasih sudah membantu-Ku hari lalu, sangat menikmatinya. " ujar Kira.


" Benarkah? Hehe... Bahagia sekali mendengar. " girang hatinya.


" um... Bagaimana? Apakah sekarang sudah merasa lebih mudah lebih tenang untuk menghadapinya saat kini? " tanya Keno.


Sontak saja Kira terdiam serta dengan raut wajah mengkerut, seperti sedang serius memerhatikan sesuatu ke arah wajah Keno.


" Keno, apakah ini darah? " ganjilnya seraya meraih menyentuh wajah laki-laki tersebut secara perlahan.


Setelah meraba, nyata memang benar seperti dugaanya. Mata Kira agak terbelalak juga khawatir mendabak. Entah karena apa, Keno malah langsung menghalangi wajahnya sendiri menggunakan tangan.


" Apakah benar masih bisa dilihat? " panik Keno menjamah wajahnya.


Ucapan jelas saja membuat Kira semakin bertanya-tanya.


" A-apa? Masih bisa terlihat? Keno, memang apa yang telah terjadi menimpamu? Apakah kamu dipukuli seseorang di sekolah ini? Para siswa? Siswi? "


" A-aaa... " gagu Keno.


Tiba-tiba saja, terdengar tawaan ramai orang menuju berjalan ke arah mereka berdua berada.


" Haha... Haha... " gelakaknya bergemuruh memenuhi lorong sekolah.


Sekonyong-konyong saja datang sekelompok siswa. Salah satu dari mereka merangkul Keno seraya tertawa-tawa. Lalu berkata,


" Hey hey bertemu lagi rupanya, sedang apa disini? " tanyanya mengolok-olok.


Serentak mereka semua baru tersadar ternyata ada kehadirannya Kira disana. Entah karena apa, seketika saja sikap mereka sedikit kaku.


" o-oh... K-kira? Sedang apa? " langsung melepas rangkulan dari pundak Keno.


" Oh... Tidak ada. " pungkas Kira menyahut sembari meraih tangan Keno dan dibawa pergi melewati mereka semua.

__ADS_1


Keruan para siswa disana terkejut-kejut menyaksikan apa yang baru saja terjadi di depan matanya.


" Apa itu tadi? " membelalak.


" Mustahil!? " syok yang lainnya.


Berjalan bersama-sama. Sudah lumayan cukup jauh dari tempat sebelumnya, Kira pun lekas lanjut bertanya lagi.


" Mereka yang sudah mengusikmu? 'kan? "


Nampak Keno hanya menatap sungguh juga terdiam kepada Kira. Melihat tingkahnya yang begitu sontak membuat Kira bertambah kebingungan.


" Keno? Keno? " panggilnya mengkerut.


" A-aa? I-iya? Kenapa itu? " linglungnya menjawab.


" Mereka bukan yang sudah bertindak kasar kepa-- " ujar Kira terhenti.


" Kira! " lantang seseorang dari arah belakang memanggil sambil berlari mengarah.


" Anika? " ucap Kira.


" Kira, kamu sekarang. " sampainya.


" O-oh! Apa maksudmu nomor giliran aku sudah dipanggil? B-bagaimana bisa? Bukankah urutan absenan-Ku di bagian sedikit lebih jauh? " bingungnya.


" Mana aku tahu, mengapa banyak bertanya? Cepat hampiri! Mereka juga sama sedang menunggu, bagaimana jika kau membuat suasana malah bertambah panas lagi setelah apa yang terjadi sebelumnya, 'kan? " desaknya.


" O-oh... Baiklah, terima kasih sudah memberitahukan. " ungkap Kira sigap pun berlari.


Sampainya di depan ruangan, mata mereka melihat tajam ke arah Kira nampak seperti seseorang tengah dalam keadaan kesal.


" Jangan hidup jika hanya membuat orang disekitarmu tidak nyaman dengan kelakuanmu. " sindirnya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja,


" Pak! " mendorong.


" Akh! " kejutnya terjatuh ke pangkuan teman-temannya.


" Berlaku untukmu juga. " sosor Vanya datang dari belakang.


" argh... Aneh sekali, pantaskah memangnya kau berkata begitu? Sebelum itu, lihat mulut siapa dulu yang sedang angkat bicara, 'kan? Sangat menjijikkan kau tahu jika didengarnya? " serang Vanya lagi.


Terlihat mereka hanya terpaku mendiam serta dengan ekspresi wajah kesal terhadapnya.


" ahh... Sudahlah lupakan. Itu bukanlah contoh yang baik untuk ditontonkan untuk kalian, sangat celaka jika diikuti. Kira cepat masuk saja. " pungkas Vanya memerintah.


" O-oh baiklah. " jawab Kira langsung membuka pintu secara perlahan.


" Kreeek... " pintu terbuka.


" Permisi, mohon maaf mengganggu. " ucap Kira masuk.


" Oh akhirnya tiba juga. Ayo mari. " suruh Lucky.


Kira masuk lalu menutup pintu. Berjalan menghampiri dan duduk.


Lucky pun langsung saja mulai mewawancarai.


" nama, Akira Noieshii? Ayah, Juno Noieshii? Ibu, Kanaya? " tanya Lucky.


Kira mengangguk-angguk setiap dari pernyataan Guru tersebut.


" baiklah, kamu mempunyai berapa saudara kandung? Punya kerabat tiri? " berlanjut.


" Tidak. " sahut Kira wajah datar.

__ADS_1


" Hah? " kejut Lucky.


__ADS_2