BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Episode #82


__ADS_3

Tangan Keno terhenti bergerak pas sekali di depan wajah Kira. Tak di sangka, secara perlahan-lahan kelima jari milik Keno hendak mendekati menyentuh sisi muka Kira. Mendekat dan menghampiri tiba-tiba,


" Tririiing! " suara keras jam alarm di atas meja.


Alhasil pun Keno terhenti bertindak dan lekas bangun berlari cepat keluar pintu. Nampak kenyaringan bunyi beker tersebut masih terdengar sangat jelas menggelegar membuat kebisingan di ruangan kamar. Tak berlama-lama, Kira akhirnya tersadar perlahan membuka kedua matanya. Mengumpulkan jiwa mendiam sejenak di kursi seraya menguap. Kemudian ia spontan melihat sekeliling. Merasa ada hal yang tidak pas di hatinya ia kembali berpikir. Tersadar, ingat dengan kejadian semalam.


" Keno? Oh benar, dimana dia? Aku merasa waktu malam itu dia tertidur di sebelah-Ku, 'kan? " tepekurnya.


Kira berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar kamar bertujuan mencari keberadaan temannya tersebut. Membuka pintu dari berbagai ruangan di dalam rumah, nampak ia tak menemukan Keno sama sekali.


" apa dia sudah pulang? " ucap Kira berpikir.


Sebab baskara juga sudah muncul di hari minggu, akhir pun Kira berupaya untuk memulai membersihkan rumahnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengumpulkan semua pakaian kotor dan memasukkannya ke mesin pencuci, lalu kemudian memulailah menyapu. Menggosok-gosok dan menggosok, langkahan-Nya berhenti. Kira membungkuk untuk membereskan tempat tidur yang sempat di baringin Keno sebelumnya. Di tengah-tengah berbenah, tiba-tiba


" pluk. " sesuatu berjatuhan.

__ADS_1


Kira terpaku bergerak, meletakkan kasur lantai itu kembali. Merasa ingin tahu, ia mengambil barang yang jatuh tersebut. Melihat-lihat dengan cermat Kira pun tersadar sambil memegang benda itu. Mata membelalak serta mengkerut bentuk rasa kejutnya.



...****************...


Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, Kira pergi keluar untuk berbelanja serta berniat jalan-jalan. Di sela-sela perjalanan Kira berkata,


" Aku tidak tahu apa yang sebetulnya akan terjadi nanti kedepannya, juga... Tidak bisa hanya terus bergantung kepada June Sin, pelan atau cepat aku harus mampu berjalan sendiri di jalan yang sangat licin. Celaka jika aku terus-menerus menyantap hidangan siap saji, bukan itu yang aku khawatirkan, ternyata harga makanan minuman di kota ini lumayan tinggi untuk bersinggah. Si ****** itu memberikan bekal juga cuma-cuma, akan sangat mengerikan jika berhubungan kembali dengannya. Setahun tinggal di kota ini menurutku itu sudah cukup, tapi sebuah takdir tentu bukanlah aku yang menentukan, siapa yang menduga nanti jika keinginan itu berkelainan arah dari yang aku sangka. Persiapan memang seperlunya jadi di awal rencana untuk menghindari kecelakaan. " geruru Kira.


Sampainya di tempat, ia memilih banyak bahan makanan untuk di beli.


" Wah... Meriah sekali rupanya, kedatangan tamu dari keluarga mana saja itu Kira? "


Spontan ia pun menoleh.

__ADS_1


" P-pak Lucky? " kejutnya.


Siapa yang menyangka ternyata Lucky juga ada di tempat seperti itu, berdiri di hadapannya sembari membawa seikat bunga.



" Hei, apa kabar? Bagaimana akhir pekanmu hari ini? " sapa Lucky tersenyum manis.


" A-aa... Itu, cukup baik. Terima kasih pak. Bagaimana kabar pak Lucky juga? " sahutnya.


" Um... Ya, seperti yang kau lihat. Ya lumayan bagus. A-aa soal itu, ternyata kamu sudah cukup jauh juga ya dalam mengelola masakan, sulit Ku-percayai. Berapa jumlah orang yang saat ini tengah menunggu masakanmu itu? " tanya Lucky.


" A-aa... T-tidak, bukan untuk itu. " jawab Kira gagap.


" Begitu?? " bingung Lucky.

__ADS_1


Kira tertegun mendiam.


" jadi??? " ingin tahu Lucky.


__ADS_2