BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
The Final Time #4


__ADS_3

" Kira ayo. " ajak Vanya.


" Oh! Iya. " tersadar.


" Anya! " panggil seseorang terengah-engah berlari menuju ke mereka berdua.


Spontan menoleh ke belakang.


Mendadak saja ada satu orang siswi datang menghampiri mereka.


" Haahh... Hussh... " engahannya.


" Vanya, di cari teman-teman itu... Mereka daritadi juga menunggu. Tugas belum bisa dimulai sedangkan kau saja tidak muncul-muncul. " bebernya.


" Tunggu, mengapa jadi aku? Hey kau dari kelas mana? " syok Vanya bingung.


" Kelas 12 EKSPLORASI. " jawabnya.


" Tai banget. Nama, arti, singkatan sangat bagus ketika di dengar, tapi sikapnya pedih mata sekali ya untuk bisa dilihat?! Buta atau bagaimana? Menurutmu aku ini memang siapa? " hardik Vanya.


" Ketua kelas kami mati... Kau, 'kan juga tahu? " lawannya nampak wajah agak cemas sedih hati.


" Lalu apa urusannya denganku? " elak Vanya.


" Selama ujian bukankah wali kelas itu sudah mempercayakan semuanya padamu. " jawabnya siswi lagi.


" UAS selesai. Tidak ada hubungannya lagi kelas kalian terus-menerus begitu berkoneksi denganku. Lagi pula aku juga mempunyai tugas sendiri. Disetiap kelas, 'kan memang sudah di sediakan pengamannya masing-masing, mengapa terus menghubungi aku? " kesal Vanya.


" Kami tidak memiliki ketua kelas setelah ia pindah waktu lalu. Untuk memilih juga ga boleh sembarangan menunjuk. Dan... Kau satu-satunya yang bisa dipercayai. Waktu sangat sempit. Ayolah bantu kami sebelum para Guru berdatangan. " desaknya.

__ADS_1


" lagi pula, kau juga sedang tidak melakukan apapun, 'kan? Tugas di kelas-Mu sudah terselesaikan sejak kemarin hari, 'kan? Maka dari itu kami membutuhkan arahan darimu Vanya. " lanjut merengek.


Kira yang tengah berdiri mengamati percekcokan dari mereka, nyata sama sekali tidak mengerti ricauannya itu mengarah kemana. Tak lama kemudian, si siswi nampak sudah tidak memiliki pilihan lain lagi. Ia menarik tangan Vanya, dan akhirnya pun dibawa pergi dari sana.


Kira melanjutkan niatnya, pergi ke penjual bunga.


Melihat-lihat kesana kemari, nyata ia cukup lumayan sukar memilih sebab saking banyaknya bunga berhamparan kini di depan matanya.



" Wah... Ini pertama kalinya terjadi dalam hidupku membeli bunga untuk dibawa ke sekolah. Jenis apa yang cocok ya? Dengan situasi sekarang ini? " bertepekur.


Berdiam Kira disana, ternyata ada yang mengawasinya dari kejauhan.




" Masih memilih ya? " celetuknya pas di belakang Kira.


Spontan ia pun menoleh.



" P-pak Lucky? " cukup syok Kira.


Guru itu yang menyapa sembari menggigit segulungan tembakau di mulutnya, mendadak saja berujar.


__ADS_1


" Ingin sarapan bersama? "


Keruan Kira terperanjat serta panik bingung harus bersikap bagaimana.


Tertegun mendalam. Kemudian ia pun menyahut,


" M-mohon maaf sekali pak, sungguh saya tidak bermaksud apapun itu. Um... Tapi, sampai detik ini saya masih belum menemukan benda tujuan saya untuk dipilih... Tapi, s-saya juga merasa keberatan menolak ajakan dari Pak Lucky. " tergagap-gagap.


" Yasudah, maaf mengganggu ya. Aku pergi lebih dulu. Semoga tercapai apapun itu keinginanmu. " ucap Lucky beranjak pergi.


Kira yang nampak masih memerhatikan Lucky meski dari belakang, tiba-tiba laki-laki itu berbalik badan dan berjalan mengarah kepada Kira lagi.


" a-aa... Benar ingin tetap diam di tempat ini? Wah sepertinya memang betul bersungguh-sungguh mencari ya. " olok-olok Lucky.


Kira yang mengindahkan ucapannya sontak bodoh tak paham maksud cakapan Guru itu.


" saking asik memutuskan sampai-sampai tidak mengawasi keadaan sekitar. Teman-temanmu? " lanjut kata Lucky seraya menoleh ke samping kanan kiri.


Kira ikut menengok. Seketika juga ia langsung terkejut-kejut syok serta panik lantaran melihat orang-orang di sekelilingnya sudah tak riuh lagi di luar sekolah. Keadaan nampak sekarang sunyi.


" A-apa sudah masuk? Saya sama sekali tidak mendengar bel sekolah berbunyi? " aneh rasa Kira gelisah.


Lucky meraba-raba ke dalam jasnya. Kemudian keluarlah satu buah bunga berwarna biru, lalu menyodorkan di hadapan Kira.


" Aku tadinya ingin memberikan ini kepada Mey, tapi tak masalah... Mungkin takdir menandakan bahwa si Mey tampak bosan menerima benda seperti ini terus. " tuturnya.


" pertama kali juga aku memberikannya padamu. Lupakan saja... Lihatlah saat ini keadaan mendesakmu, jadi cepat pergi masuk. " imbuhnya menyorongkan bunga tersebut.


__ADS_1


__ADS_2