BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Pusat Perhatian Kira


__ADS_3

Kira tidak menjawab dan malah menatap kepada Lucky yang berada di samping-Nya tersebut.


Begitu pun Guru itu juga memandang sungguh kepada Kira. Tak berlangsung lama, Lucky membuang muka lebih dulu.


" ya... mau bagaimana lagi, maaf mengganggu. " ujar Lucky seraya bangun dari kursi serta membuang kemasan bekas makanan yang santapnya tadi.


Kira tersadar.


" E-euu... tidak bukan begitu, sama sekali! " sahutnya sigap.


Lucky tengah berdiri sambil meminum kopi yang digenggam-Nya pun seketika tersedak setelah mendengar sahutan dari Kira.


" Uhuk, uhuk! Oh...! Akhirnya kamu menjawab juga. Ya... Syukurlah senang sekali rasanya, terima kasih Kira. " ujar Lucky tersenyum.


" bawa bekal dari rumah? " imbuh Lucky bertanya.


" Euu... betul. " sahut Kira.


" Begitu. " menatap liar ke bekal milik Kira, sembari meneguk minuman yang di pegangnya juga.



Gadis itu melanjutkan menikmati makan siang. Meski begitu pun, tetap rasa gelisah khawatir tak bisa hilang darinya.


Sepanjang berjalan waktu bergerak, nyata Lucky sama sekali tidak membuka obrolan kepada Kira. Kenyaman siswi itu terhenti.


Merasa tidak nyaman akan tatapannya pun Kira berkata,


" E-euu... ingin makan? " gugup Kira menawarkan.

__ADS_1


" Oh! Memang boleh? " cengang Lucky


" Euuu... " bingung.


" Baiklah terima kasih! " rusuh Lucky duduk kembali di sampingnya.


" tolong suapi aku dengan makanan yang kamu bawa itu. " goda Lucky mengolok-olok.


Kira keruan terkejut, rasa bertanya-tanya terhadap sikap Guru tersebut pun meledak-meledak.


Lucky yang melihat kediamannya sontak bermasalah.


" ini aneh, mengapa diam begitu? Sebelumnya aku tidak pernah melihat pemandangan seperti ini. " menyindir.


" O-oh? Apakah itu akan terlihat baik? " gagap Kira mengelak.


Seketika Lucky terperanjat akan kalimat yang baru saja dikatakan Kira tersebut.


" haha apa sebetulnya selama ini kamu mengkhawatirkan tentang hal itu? Haha tunggu, ini sangat menggelikan hati ahaha... sulit percaya. Tidak perlu memikirkannya. Hey dengar, tentu itu sopan untuk dilakukan bagiku menurutku haha. Jika mereka melakukannya tentu itu tidak masalah untuk boleh kau ikuti. Justru yang seharusnya perlu diawasi itu sikapmu yang terlihat membangkang dengan keinginan seorang Guru, jangan khawatir " ucap Lucky tertawa sedikit menyindir.


Kira diam menundukkan mata.


" jadi... bolehkah makananmu itu masuk ke dalam mulutku? " ujar Lucky.


" O-oh... " gagap Kira menyahut.


Ia pun menganggukkan kepala, lalu mengambil sesendok makanan untuk dibagikan kepada Guru tersebut. Kira beranjak menyuapinya, Lucky membuka mulut.


" Nyam, nyam-- uhuk... " kenyaman-Nya terhenti seketika, sebab merasakan aneh di dalam bekal yang diberikan Kira tersebut.

__ADS_1


" A-ada apa? " kejut Kira.


Nampak Lucky berhenti mengunyah seraya menutupi mulutnya dengan tangan


" Apa yang baru saja masuk ke dalam mulutku ini? Ah! Sungguh, t-terlalu membakar disini. Tidak ada rasa kecuali pedas yang membara! Lidahku yang malang. " gumam Lucky syok seketika tangannya juga ikut bergetar.


" w-wah... ini menakjubkan! Pertahankan prestasinya ya Akira noie! Aku harus pergi sekarang, terima kasih sudah membagi makanannya. " ujar Lucky beranjak pergi meninggalkan.


Kira menatap Guru tersebut yang sedang berjalan cepat membelakangi-Nya.


" Pak Lucky? " cengangnya memandang.


......................


" Sssss... " suara air mengalir dari dalam keran.


" Huh... hah huh... argh! Bibir panas panas! ah... mataku juga memerah sepertinya. " keluh Lucky kepedasan sambil menatap diri di cermin.


" apa ini jebakan? " tuduh Lucky.


Sekonyong-konyong Lucky mendengar seruan seseorang yang menggema ke dalam toiletnya berada.


" Sudah-Ku katakan jangan menggodanya! Binatang! " lantangnya.


" Plak! Bruk! " suara menampar lalu terjatuh.


" Ah! " rintihnya.


Sigap Guru pria itu keluar untuk mengetahui suara kegaduhan apa yang ia dengar.

__ADS_1


Terkejut-kejutlah Lucky melihat yang sedang berlangsung di depan matanya.


__ADS_2