
Suara bel sekolah berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba.
Lucky membawa Silence terlebih dahulu untuk diajak berbincang dengannya disebuah ruangan kosong.
" Huuh! " seseorang menghela napas terdengar keras.
" aku baru saja masuk kembali di Sekolah ini, tapi sepertinya mereka yang berada disekitar-Ku... benar-benar menyangkal keras sekali sebab karena kehadiran-Ku saat ini. " keluh Lucky menyindir.
Ia berbalik dan melihat wajah Silence tengah tersenyum, yang ternyata daritadi hanya suka melihat Lucky dengan penuh kesenangan.
" kau masih tetap disana kan? " tanya Lucky merasa aneh.
" Apa kabar? " ucap pelan Silence senyum manis.
" Arrgghh anak ini! " jengkel Lucky menaikkan tangannya dipinggang serta berbalik badan.
Tak lama kemudian juga,
" Puk... " memeluk.
Tanpa diduga ia malah memeluk Lucky dengan lembut erat.
" Pak Lucky? " panggil Silence.
" Kau benar-benar menyusahkan-Ku. " merajuk.
Tiba-tiba
" akh tidak lagi, ini basah! " imbuh Lucky kesal.
" Hiks... Hiks... " Silence menangis terisak-isak.
Mereka berdiam dengan posisi tersebut. Lalu,
__ADS_1
" Mari bicara nanti. " ringkas Lucky dingin menampakkan wajah risih tidak suka hati.
Kemudian dia melepaskan pelukan dan berjalan keluar ruangan tersebut, meninggalkan Silence seorang diri. Saat melewati lawang pintu yang daritadi terbuka, alangkah terkejutnya Lucky melihat berdiri seorang siswi yang baru saja ditemuinya tadi sebelum terjadi insiden Silence, yang tak lain itu adalah Kira. Mereka saling menatap. Lalu,
" sedang apa kau disini? " tanya Lucky kejut.
" Oh! Euu... Itu. Ingin mengambil alat bersih-bersih yang tertinggal di ruangan ini. " sahut Kira tergagap-gagap sigap masuk ke dalam untuk melakukan tujuannya.
" oh pantas saja ruangan ini terlihat bersih dari biasanya aku melihat. " gumam Lucky tercengang.
Tidak lama juga kira berdiam disitu dan kembali keluar. Lucky hanya menatap sangat kepergiannya.
" Aku tidak ingin berurusan hal serius dengan Sekolah ini, lakukan untuk-Ku. Silence, aku harap kau sudah cukup dewasa dan mengerti maksud dari ucapan-Ku baru saja, untuk kau hadapi masalah ini sekarang... " langsung berjalan keluar.
Silence tersenyum kembali serta menghapus air mata.
" He Kau! " serunya memanggil.
Betapa terkejutnya ia melihat Lucky yang tengah melambai-lambaikan tangan bentuk seperti ingin menyuruh.
Ia lumayan takut khawatir untuk menghampiri tapi nyata-Pun, Kira berjalan untuk menghadapinya.
" ikut denganku cepat! " suruh-Nya langsung bergerak pergi.
Kira spontan menuruti perintah-Nya, karena terlihat dari sikap Lucky seperti serius juga tergesa-gesa.
Ditengah perlahan melangkah terus kaki, Lucky yang berada didepan jalan Kira pun angkat bicara maksud dari perilaku-Nya itu terhadap Kira, sembari berjalan.
" bersihkan ruang olahraga nanti yah, aku membutuhkan kemampuan-Mu. Takjub sekali aku melihat ruangan kosong itu bersih sekali, ya... pada biasanya anak-anak selalu melewati mungkin karena kotor-Nya tidak biasa. 3 ruangan yang harus perlu kau bersihkan, anggap itu juga sebagai ganjar dari perbuatan-Mu tadi. " ketusnya menuntut.
Kira mengangguk. Lama mereka melangkah tiba-tiba,
" Bruk... " menabrak.
__ADS_1
" Ouch! " kejut Kira.
Mereka bertabrakan, lantaran Lucky mendadak berhenti bergerak. Keruan sekali Kira merasa heran akan tingkahnya. Terdiam sejenang, kemudian
" Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? " lirih Lucky membelakangi Kira.
" Ha?! " panik.
Terpaku dengan posisi masing-masing. Ia tak menyahut bincangan dari Lucky, malah menampakkan terpaku.
Lucky berbalik badan dan berhadapan. Kira membalikkan pandangan.
" Aku tidak suka ujaran seseorang dijawab dengan diaman! " ketus sindir Lucky.
Sontak perkataan-Nya membuat Kira sedikit takut panik tak keruan, kemudian menjawab dengan seada ala kadarnya.
" Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab-Nya, mungkin aku... aku... pernah melihat bapak, atau entah ini hanya perasaan hati saja. Bapak juga berpikir begitu? " gugup Kira menjelaskan.
Lucky pun melakukan hal yang sama diwaktu pertama kali mereka bertemu. Ia memegang rahang Kira untuk mengangkat dan melihat mukanya.
" Ingat? " ucap Lucky.
Menatap satu sama lain.
Sebab merasa terganggu Kira melepaskan genggaman.
" Mohon maaf. " ungkap tidak enak hati juga takut.
" Ingat?! " desaknya.
Kira mengangguk perlahan.
__ADS_1