
" Plak! " suara tamparan menangkis.
" Aw! " rintihnya.
Mereka pun sigap menoleh ke samping.
" Vanya? " kejut temannya.
" apa yang kau lakukan Vanya, mengapa memukul tangan Ashina? " lanjut bertanya kebingungan.
" Tunggu, bukankah aku yang seharusnya berkata begitu? Gila sekali ini jika kau yang malah bertanya? " sinis Vanya menyahut.
Keruan mereka terkejut-kejut akan ujarannya.
" kalian! Bisa saja ujian ini tertunda lagi sebab ulah kau kau kau dan kau! Dan termasuk kalian semua si brengsek yang hanya berdiam saja seperti orang bodoh, pengecut! " kesal Vanya.
" Ah... Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun sampai 2 minggu ke depan. Takut usahaku selama ini akan sia-sia hanya karena si gadis babi itu. " kecamnya menatap tajam ke arah Kira.
Pergilah mereka melewati Vanya. Salah satu darinya berbisik di dekat.
" Aku dengar-dengar... Xie, bukankah dia juga terpikat oleh perempuan itu? " semburnya.
Lalu mereka kembali duduk tak jauh dari ruangan Lucky, sama halnya juga menunggu ketibaan pemanggilan.
__ADS_1
" Sial! " dongkol Vanya.
Berbalik badan dan berhadapan dengan Kira.
" Terima ka-- " ucap Kira di potong.
" Kira...! Ada apa denganmu? Aku tidak menyangka kau bisa membuat Kak Mey murka, tahu? " sebal Vanya memonyongkan bibir.
" A-aa... Memang? Maksudnya, apa yang telah aku lakukan hingga Kak Mey marah terhadap-Ku? Bahkan... Aku tidak mengerti sejujurnya. " bingung Kira.
" Astaga! Yang benar saja kau ini, hey sudah lupa ya rupanya? Bukankah aku sudah mengatakan kemarin hari? Kak Mey menantimu di rumah malam kemarin, sudah lama di tunggu nyata kau tidak kunjung-kunjung datang juga. Argh... Membualkan kami berdua, tahu? " kesal Vanya lagi.
" Ah... Benar, aku betul-betul melupakannya, maaf sekali aku sungguh tidak sengaja meninggalkan perjanjian itu Vanya. " sadar Kira menyesal diri.
" Benar-benar menyesal. Um... Lalu, apa yang dikatakan Kak Mey seterusnya setelah tahu pada akhirnya aku tidak datang. " gelisah Kira bertanya.
" Sebab sepertinya Kak Mey juga sibuk akhir-akhir ini, mungkin ia akan meminta kembali di ujung 2 minggu nanti. " tanggapnya.
" Um... Sangat-sangat menyesal. Minta maaf sekali. " ungkap Kira sedih hati.
" Ya te-- " sahut Vanya terhenti.
" Anya! Giliranmu dipanggil masuk. " seru seseorang di dekat lawang pintu.
__ADS_1
" Oh! Baik! " jawabnya juga sigap pergi berlari menuju ke dalam ruangan.
Kira memandang kepergian Vanya. Melirik-lirik keadaan di sekelilingnya, keruan rasa tidak nyaman hati pun hadir di dalam dirinya. Sebab, melihat sorotan-sorotan para murid disana bagaimana memandang Kira, ditambah dengan kejadian sebelumnya itu datang berlalu.
" Vanya baru dipanggil, itu berarti masih di nomor urutan awal. Aku pergi dulu. " gumam Kira tersinggung.
Pergilah dirinya menjauh dari tempat sana. Nampak Kira berjalan seorang diri di keheningan lorong sekolah seraya membawa buku di tangan untuk melanjutkan belajarnya tadi yang terganggu. Mendabak,
" Uh! " kejut Kira.
" Keno? "
" Kira? " syoknya juga.
Mereka hampir saja bertubrukan sebab arah jalan yang terhalang oleh sebuah tembok.
Seketika Kira menatap sungguh ke arah lelaki tersebut lantaran teringat saat waktu ia bersamanya di rumah. Terutama hal yang mencolok di kepalanya, ialah tak lain karena menemukan sebuah kontrasepsi di tumpukan tempat yang sempat di tiduri Keno. Kira tersadar dan merasa malu canggung sendiri, sigap memalingkan muka.
" O-oh... Hai, bagaimana keadaan kamu sekarang? Sudah lebih baik? " gugupnya.
" I-iya, sangat bagus. T-terutama, kamulah yang menjadi perawatnya. " goda Keno agak kaku.
" terima kasih ya K-kira sudah berkenan ada di dekatku. " lanjut ungkapnya.
__ADS_1
" Um... I-iya. " jawab Kira.