
" Tentu tidak apa-apa Ki-- " sahut Vanya diselang.
" Bangunlah sebelum matahari terbit. " celetuk Xie seraya beranjak mulai berjalan.
Mereka pun sontak ikut bergerak juga.
" U-um... Benar-benar minta maaf. Aku bangun awal, hanya letak masalahnya bukan disana. " bela Kira.
Tak ada tanggapan sama sekali dari Xie. Merasa tak ingin membuat Kira merasa bermasalah, ia mencoba untuk mengalihkan perbincangan.
" Kira. " panggil Vanya.
Menoleh.
" Iya? " jawabnya.
" H-hey, apakah kamu benar tinggal sendiri? " tanyanya.
" Um... Iya, sepertinya begitu sekarang. " sahut kembali.
" Wah tidak takut ya? Apalagi, di ujung daerah ini hanya rumah kamu juga Kak Mey yang hanya tertinggal berdiam disana, 'kan? " alih bincangnya.
" Um... Memang sedikit takut tapi mau bagaimana lagi, katanya hanya daerah ini yang tersisa untuk bisa di tinggali pada waktu hari itu aku pindah. " jawabnya.
" Hah? di saat kapan memang kamu pindah hari itu? " tanya lagi wajah mulai serius.
__ADS_1
" Um... Bulan januari mungkin. "
" A-aa... Benar pantas saja. " duga Vanya.
" Pantas? M-memang mengapa itu? " tanya Kira.
" Sudah biasa di bulan tertentu memang kota ini akan banyak dipenuhi orang-orang, mau tuan tanah atau bukan sekalipun. Bulan januari salah satunya. " jelasnya.
" Oh... Begitu ya... " paham Kira.
" Tapi bukankah mereka juga tidak lama bertinggal disini, mungkin sudah 2 bulan lalu keadaan kota ini sudah cukup longgar, 'kan? Lalu mengapa tidak pindah saja? " tutur Vanya kembali.
" Um... Sebetulnya lumayan merepotkan ya, tapi menurut-Ku mungkin tinggal disini juga cukup dekat menuju ke sekolah. Lagi pula aku juga sudah lebih mengerti bagaimana lingkungan hidup disini dibanding yang lainnya, pasti perlu membuka lembaran baru lagi untuk mengenal. Dan ya... Agak mulai terasa nyaman untuk bertinggal. Itu mungkin sebagai beberapa alasannya. " Kira tersegeh.
" Oh... Apakah begitu. " paham Vanya.
" Oh iya, kalo kamu? " balik tanya Kira.
" Hah? "
" A-aa... Dimana tempat tinggal sebetulnya? " mengulang.
" Oh... Jika bertanya tentang tempat tinggal sebenarnya, itu di... Um... Jalan hanaya barat 2, terperinci begitu kurang lebih. Tapi, sekarang aku tinggal di daerah suciko. " jawabnya.
" Suciko? Persis dengan nama sekolah kita? " ujar Kira bingung.
__ADS_1
" Lebih jelasnya tempat kediamanku yang kini jarak lebih dekat ke sekolah dibandingkan tempatmu Kira. " lanjut bebernya.
" A-aa pantas saja... " memahami.
Tak lama Kira merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.
" lebih dekat ke sekolah? Lalu mengapa malah datang jauh-jauh kemari? " ucap Kira terbingung-bingung.
" Um... Tidak tahu. " pikir Vanya tersengih.
Kira yang menatap serius, seketika pandangan teralihkan kepada Xie.
Ada sesuatu hal yang sebetulnya sangat mencolok perhatian Kira daritadi dan ingin sekali dipertanyakan.
" Kamu bawa bunga untuk apa? "
" Oh ini? "
" biasa, adat dilakukan. Pada umumnya setelah ujian akhir selesai, masing-masing orang di sekolah memang akan membawa sebuah bunga untuk diberikan kepada orang lain lagi, siapapun itu. Um... Bentuk unjuk rasa ambisi yang masih membakar dalam diri kita. Namun, itu sesuka orang-orang ingin bagaimana menggambarkannya juga Kira. Tapi pada umum memang mereka mengungkapkan rasa, seperti yang aku katakan tadi. Dan juga... Mereka menikmati selama mengikuti menjadi peserta ujian di sekolah itu. " jelas Vanya lagi.
" Oh... Kenapa tidak bilang dari awal... Lalu aku? Bagaimana? " buncah Kira seketika.
" Tidak perlu khawatir, lihat nanti saja ketika kita sudah sampai di sekolah. " tanggap Vanya.
__ADS_1
Kira yang merasa tak mengerti pun tentu hatinya tidak berhenti juga berdegup kencang akan rasa risau yang datang secara tiba-tiba begitu.