BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Teman Sundry?


__ADS_3

" Bagaimana? Diterima? " lanjut ujarnya.


" Astaga... Yang benar saja... Aku keras sekali menanti ketibaanmu kembali tapi nyatanya apa? Malah mengobrol di tengah-tengah seseorang sedang menunggu?? Begitu ya... Wah, sulit Ku-percayai sekali kau ini Kira. " gerutu Lucky muncul mendabak.


" Oh! Pak Lucky, mohon maaf. Saya tidak bermaksud membuat bapak kecewa. " ungkap Kira sigap.


" Siapa memangnya dia ini? " tanyanya.


" O-oh... Nampaknya dia teman sekolah saya. " menjawab.


" Nampaknya? Terlihatnya?? Apakah benar bisa dikatakan teman? " ragu Lucky.


" Siswa dari kelas 12 JURDIL (Jujur dan Adil ) Beliau juga salah satu teman dekat Sundry, anak dari Pak Kepala Sekolah. " beber Kira.


" Oh begitukah? " memandang ke arah lelaki itu.


" yasudah, jadi pergi berkencan dulu? Ingin bermain bersamanya lebih dulu? " tanya Lucky.


Seketika Kira terbungkam diam, gelisah resah harus berkata apa.


" I-iya pak. Ingin sekali mengajak dia untuk jalan bersama dengan saya. " ujar Jio.


Keruan Kira sangat terperanjat mata spontan melihat ke arah laki-laki tersebut.



Lucky seketika menatap kedepan gadis itu dan berkata.


" Kira, apa benar dia temanmu? "

__ADS_1


Ia langsung menoleh ke arah Jio, mengkaku lidah harus menjawab apa. Lalu berpaling, menundukkan pandangan.



Meski begitu, Kira mengangguk perlahan, menandakan setuju dengan pernyataan Lucky.


" oh baiklah... Begitu ya. Kira, karena sekarang sudah berbeda lagi, aku serahkan tanggung jawabku yang sebelumnya kini kepada dia. " tutur Lucky.



" itu bagus. Nampaknya dia juga lelaki baik-baik. Keberadaan-Ku disini juga sudah selesai. Saya pergi ya. " pamit Lucky beranjak jalan.




" Jangan meninggalkan! Aku bahkan tidak mengenali sungguh laki-laki ini. Bagaimana? Apa yang bakal dia lakukan!? Apa yang bakal dia lakukan?! " cemas Kira.


" Pak Lucky! Pak Lucky! " suara hati Kira menyeru keras.


Jantung gadis itu terus berdetak kencang akan kerisauan-Nya yang mengguncang.


Setelah kepergian Guru tersebut, sontak memang benar saja lelaki itu mengajak Kira.


" Mau ke tempat mana dulu? Suka makanan apa Kira? " semburnya.


" A-aa... Aku baru saja selesai makan. Hehe. " ujar Kira tergagap buncah.


" Oh... Begitu ya. Um... Sayang sekali, aku sangat berharap sekali bisa mencoba menikmatinya bersamamu. Tapi tak apa. Lalu, apa rencanamu sekarang? Biasanya setelah berakhir makan, apa yang selalu kamu lakukan pada waktu selanjutnya? " tanyanya lagi.

__ADS_1


Kira terdiam.


" A-aa... I-itu... " gagunya.


Sebab perasaan tragedi waktu bersama Sundry masih sangat terasa di benak Kira, tentu hal itu benar-benar membuatnya gentar untuk membelot. Alhasil pun, nampak ia sangat berhati-hati saat berbicara dengan lelaki teman Sundry tersebut.


Jio yang demikian juga merasa ganjil akan sikapnya Kira, jelas membuatnya bertanya-tanya. Serta batin yang tidak nyaman terganggu untuk dilihat oleh mata hatinya.


" Kenapa? Ada apa denganmu Kira? "


" A-aa... T-tidak! Um... " tergagap-gagap.


" Kamu berpikir, untuk selanjutnya sekarang ini ingin kemana? " tanya Jio kembali.


" Aku tadi sempat merencanakan untuk pergi berpulang. " ucap Kira kelisah sembari menunduk.


Tak ada sahutan darinya. Keheningan tiba-tiba datang. Kemudian tentu merasa ganjil pun Kira mendongak untuk melihat.



Wajah penuh kesuraman juga dingin sangat memenuhi auranya.


" t-tapi aku belum mengunjungi toko roti. Biasanya aku juga terkadang bisa menikmati makanan penutup lebih dulu sebelum pergi pulang. " lanjut Kira panik.


" Ada apa denganmu? Aku bahkan sama sekali tidak mengerti karena perkataan riuh-Mu yang membelat-belit memutar seperti ular. Jarang? Atau memang sudah pada biasanya begitu? " aneh Jio wajah datar.


" tidak masalah bagiku. Ingin aku temani? Perut aku benar-benar lapar. " ucap Jio lagi.


" A-aa... Um. " mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2