BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Episode 53


__ADS_3

Lucky mengajak Kira masuk lagi ke dalam, lalu menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu.


" Duduklah sambil menunggu. "


" U-um... Pak saya harus cepat kembali, ini sama sekali tidak diperlukan, sungguh! Jika saya mau saya juga akan membelinya lagi nanti, tapi untuk saat ini saya harus benar-benar bergegas pergi. " keluhnya.


" Oh begitu. Tidak usah merasa cemas, saya tidak berbuat apapun, kamu hanya perlu menunggu makanannya nanti tiba. Menurut-Mu bagaimana tadi saat menunggu pesanan datang? Apakah membutuhkan waktu panjang? " sosor-Nya.


Kira seketika terdiam. Lucky pun menanyakan makanan yang di pesan Kira sebelumnya, meski rasa gelisah takut hadir, hasil pun Kira tetap berusaha bertahan. Lucky berdiri dari kursi dan berjalan menuju tempat pemesanan, lalu kembali duduk seraya membawa 2 larutan di tangan kemudian meletakkan satu gelas wine tersebut di atas meja hadapan Kira.


" ini, nikmatilah. " tutur Lucky tersenyum.


" Iya terima kasih. " kata Kira.


Lucky meneguk suguhan-Nya. Mereka berdua berdiam asik menyenangkan diri masing-masing. Tetapi hal itu jelas membuat Kira terkejut-kejut, ia tak menduga bahwa Lucky malah bertingkah senang sendiri tak mengacuhkan sama sekali diri Kira.


" ada apa dengan pak Lucky yang sekarang? Mengapa suhu sikapnya berubah radikal cepat sekali? Aku bahkan sampai melupakan di kota mana aku tinggal kini. Sebetulnya... perilaku pak Lucky dari siang memang terlihat berbeda, benarkah ini hanyalah luapan amarah-Nya saja? Ataukah hal lain? Jebakan? " ucap Kira dalam hati sembari menatap ke arahnya.


Lucky menoleh, merasa ganjil aneh terhadap Kira pun langsung bertanya.


" Ada apa? Apakah ada yang salah? "


Seketika Kira tersadar dan tergagap-gagap mengelak.


" O-oh! T-tidak! Bukan begitu, tidak ada. " sahutnya.


" Baiklah. " ujar Lucky sambil menenggak minumannya lagi serta mengisap gulungan tembakau di bibirnya.


" Ini cukup aneh setelah melewati banyak kejadian dengan pria ini. Tapi apapun itu aku harus tetap waspada terhadap-Nya, bisa saja ini penarik mangsa hingga aku keliru dan bisa jatuh keperangkap-Nya. " ricau Kira dalam hati.


Berdiam kembali, Kira mengoceh tidak bersuara lagi sebab rasa resah-Nya terhadap Lucky.


" dia... benar! Aku baru menyadari pak Lucky berucap tadi siang bahwa aku melakukan kerja sama dengan June Sin, apakah dia sudah mengetahui hubungan kami? Bukankah hal itu akan menjadi ancaman bagi-Ku juga June Sin jika ada salah satu seorang saja yang tahu tentang ikatan diantara kami? Bagaimana dengan pak Lucky sebenarnya? Aku merasa kesulitan membaca gerak-gerik juga pemikirannya, apa tujuan dia yang sesungguhnya? " berpikir keras.


" He he! " Lucky memanggil.


Kira langsung menoleh dan menanggapi.


" he minumlah ini cepat, ada apa denganmu sebenarnya hah? Ayo ayo minum, mari kita nikmati bersama. " ujarnya.


" aku tahu anak seusia-Mu di masa sekarang lagi sungguh-sungguhnya berbuat nekat nakal, meski aturan melarang mereka minum pun pasti tidak berpengaruh dan akan tetap saja membangkang. Tenanglah, aku bukan tipe pria yang tidak bisa mengerti perasaan anak muda jadi mari bersenang-senanglah bersama. " lanjut kata Lucky.


" I-iya pak terima kasih. Saya sedang tidak ingin minum. " jawab Kira.


" Oh benarkah? Baiklah. " pungkas Lucky.

__ADS_1


Pria itu fokus lagi dengan dirinya sendiri memainkan handphone. Sunyi kembali datang diantara mereka berdua. Lucky menoleh sejenak ke arah Kira, ia melihat rasa kejemuan memenuhi wajah Kira, merasa tidak nyaman pun Lucky meletakkan terlebih dahulu ponselnya melanjutkan perilaku dengan menikmati minumannya.



Tak lama kemudian Lucky lanjut membuka obrolan.


" ah benar! Kira, aku baru ingat ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, untung kita bertemu lagi meski sepertinya tidak tepat. "


" O-oh? Apa memangnya yang ingin pak Lucky bicarakan dengan saya? " sahut Kira.


Lalu Lucky menjelaskan dengan perlahan-lahan.


" Begini, waktu hari itu saya memeriksa nilai anak-anak di sekolah, dan... semuanya tampak tidak terlalu mengkhawatirkan meski rasa ragu masih tetap ada dalam hati saya. Kira, diantara yang lainnya nilai kamu paling rendah, melihat memampuan-Mu di waktu pelajaran saya yang biasa juga itu sangat buruk. " paparnya.


" itu akan memicu untuk di masa mendatang nanti. Kedua mata pelajaran itu sangat demikian penting untuk masuk perguruan tinggi, peluang kecil sekali kamu bisa terselamatkan juga. " lanjut bebernya.


Seketika Kira keruan saja langsung khawatir dan tertegun setelah mendengar tuturan dari Lucky.


" saya menyarankan sebaiknya kamu pindah saja dari sana. Itu yang terbaik menurut saya. " ucap Lucky.


Nampak Kira masih diam serta wajah ikut mengkerut sebab rasa bingung juga gelisah terhadap dirinya sendiri.


" bukan apa-apa, saya sama sekali tidak bermaksud apapun... merasa khawatir, saran ini dari saya berikan secara langsung. "


" bagaimana? Jika benar keputusan lebih memilih untuk pindah, saya akan secepatnya mengurusi. " ujar Lucky lagi.


" Tapi... situasinya nanti akan berbeda, bukankah jika mendapatkan nilai tinggi di sekolah itu akan mendapatkan pengajaran khusus? juga... mereka tidak akan menuntut anggaran dari seorang pelajar sama sekali selama masa belajar berlangsung? "


" Hanya untuk siswa terpilih yang bisa berada di posisi yang kau maksud, bukanlah hal yang mudah bisa langsung menggapainya, terlebih lagi mereka semua disana sedang bertarung bertaruh bahkan ada yang lama bertahan dari yang kamu duga. " sahut Lucky.


Kira termenung tak bersuara. Tiba-tiba datang seorang pelayan menghampiri mereka berdua dan berkata.


" Mohon maaf pak, pesanan sudah jadi siap dibawa pulang, ingin diantar kesini segera? "


" Oh! Baiklah, tidak-tidak saya akan mengambil sendiri sekali jalan untuk membayar transaksi-Nya. " jawab Lucky.


" Baik pak, mohon permisi. " pamitnya.


Lucky pun langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menuju tempat kasir. 


Kira berenung-renung termangu di tempat.


" Bagaimana... bagaimana ini...? Apakah aku akan menunggu lagi di kota ini selama 1 tahun? Jika itu memang seperlunya terjadi, aku sungguh tidak apa, hanya saja... sangat di ragukan jika masih bisa bertahan dengan kondisi rohani juga jasmani-Ku saat ini, mampukah aku mempertahankan kegadisan diri kini sampai waktu nanti tiba? " menung-Nya.


Perhatian Kira teralihkan lantaran

__ADS_1


sekonyong-konyong tanpa disangka datang sekelompokan taruna masuk sembari tertawa tergelak-gelak berjalan ke dalam resto yang di tempati Kira saat ini.


" Ha ha ha... " gelakak mereka.


Ia melihat sebagian dari kawanan mereka melangkahkan kaki bergerak maju terhuyung-huyung seperti orang yang sudah mabuk berat, mereka semua pun duduk di kursi.


" Lihat sini bodoh, kau sudah cukup dewasa untuk bisa meneguk minuman ini, terlihat bagus bukan hidangan disini? " celoteh salah satunya.


" Ya sangat indah bukan? "


Ricauan mereka mampu mengganggu telinganya Kira. Terdengar lagi obrolan dari gerombolan pemuda tersebut hingga masuk mengusik pikiran Kira.


" Tidak perlu cemas hey! Ayolah jangan terlalu bersikap religus begitu... kita harus mengutamakan kesenangan diri masing-masing bukan. "


" Itu benar. Kita harus benar-benar hidup! Ha ha... "


Siapa duga tingkahan konyol mereka mampu menarik perhatian Kira untuk terus mengamati. Mendabak pandangan-Nya teralihkan ke salah satu orang disana yang terlihat familier diingatan Kira.


" Rein? Apakah itu berarti June Sin juga sudah pulang? " pikirnya.


Pengawasan Kira mulai disadari oleh salah seorang dari kelompokan tersebut. Sontak Kira kaget dan langsung memalingkan pandangan menundukkan kepala.


Tak lama waktu berselang, mendabak Kira mendengar sesuatu bunyi yang entah apa itu berasal dekat di belakangnya.


" Pak! Syuut! " suara menggaplok lengan langsung memutar-Nya ke belakang tubuh orang tersebut.


" Akh!! " rintih kesakitan.


" Buk! " mendorong orang itu dengan menggunakan kaki hingga terjatuh menabrak barang-barang yang ada di arah depan.


" Brak! Prang! " suara meja bertubrukan serta benda berjatuhan ikut pecah.


Sontak Kira pun lekas melihat ke belakang, terkejut-kejutlah ia melihat Lucky yang tidak tahu dengan sebab apa dia telah menghantam seseorang.


Kira tertegun mata ikut terbelalak saking rasa kejut membelit-Nya.


" Aaaaaah!!! Sakit!! " erang orang tersebut berteriak.


Semua kawannya pun spontan saja langsung berdatangan menghampiri dan gesit membantu-Nya.


" He he! Kau tidak apa-apa? " tanya teman-Nya.


" Orang gila ini! Hey lihat dia! Akh... Ini menyakitkan sungguh! " mengeluh.


" He! Diamlah! Dia bang Lucky. " tegurnya.

__ADS_1


" Aaahh... memangnya mengapa? Siapa akh... dia siapa? Kau kenal? " tanya orang itu merintih menahan sakit.


__ADS_2