BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri

BLUE FLOWER : Pertahankan Keperawanan-Diri
Episode 44


__ADS_3

Seseorang terperanjat sangat berdiri dari duduknya.


" Sreet! " suara kursi bergesekan dengan lantai.


Xie berlari langsung dari dalam kamar menuju pintu untuk keluar rumah, tapi geraknya tertahan lantaran seseorang mendabak saja memanggilnya.


" Pang Xie Chu! " lantangnya dari arah belakang Xie.


Ia pun spontan menoleh ke belakang dan melihat orang tersebut ternyata ialah Kaka-Nya yang tak lain Mey.


" ada apa? Matamu buta? Xie lihat jam berapa sekarang? " tegur Mey.


" Aku ada urusan penting " ringkasnya langsung memegang gagang pintu serta membuka.


" Tidak boleh! Kembali! " selang Mey.


" Apa masalahmu Ci! Biarkan aku pergi! " hardiknya.


" Esok hari tidak bisa? " ujar Mey.


" Arrgghh!! " gusar Xie seraya menendang pintu dan pergi dengan perasaan sangat berapi-api terhadap Mey.


Melihat sikap yang di keluarkan adiknya itu, sontak membuat si kakak perempuan tertegun bentuk kaget. Tak lama kemudian Mey pun memutuskan untuk pergi menghampiri-Nya.


" Kreeek... " pintu dibuka.


Mey tak melihat Xie berada di tempatnya, ia menoleh ke arah lain dan ternyata laki-laki itu ada tampak tengah lesu suram duduk di lantai serta menyenderkan kepala ke tembok.

__ADS_1



Kakaknya pun langsung berjalan mendekati, lalu berdiam di samping-Nya.


Sekonyong-konyong Xie berkata langsung


" Pergilah! Aku sedang malas berdebat denganmu. " pinta Xie.


Mey tak menghiraukan omongan Xie, lalu mulai menggodanya.


" Aku tidak mengira kau akan semarah ini hanya karena aku melarangmu keluar. " tersenyum.


" Kau terlalu mencampuri urusan-Ku! " ketusnya.


" Xie, aku juga mengetahui kapan harus berhenti bagaimana normalnya tindakan seorang kakak, aku tahu dimana letak batas pemberhentian-Nya menggauli seorang adik. " jelasnya.


" Aku tidak merasa begitu. " lawan Xie dingin.


" Meski kau seorang laki-laki pun itu sama sekali tidak memengaruhi untuk orang tak bisa berbuat buruk kepadamu. Akhir-akhir ini aku mendengar gerombolan remaja pengacau sedang buas di luar sana. Aku juga melihatnya sendiri dan ternyata itu memang benar, bahkan teman kencan-Ku sendiri yang hampir menjadi korban kegilaan mereka. " beber Mey.


Terlihat Xie tak mengacuhkan obrolannya dan terlihat masih tetap berada di posisi yang sama tak berkutik sedikit pun.


" Xie! Kamu mengindahkan nasihat-Ku 'kan? " ujar Mey.


Tak lama merenung lalu Xie angkat bicara.


" Apakah... mereka semua benar-benar menakuti hal itu? " tanya Xie.

__ADS_1


" Mmm... mungkin saja, 89% penduduk di kota ini takut dengan kematian. " jawabnya.


" tapi mungkin tentang perihal itu sudah lazim aktif disini, karena para anak remaja sekarang tidak lama lagi akan menghadapi ujian akhir, lantaran merasa sengsara... mereka sebelum masuk memulai ulangan akan melakukan hal apapun untuk menyenangkan hati mereka masing-masing, biasanya berlangsung tiga hari 2 malam berkeliaran tidak jelas begitu. Sepertinya malam ini mereka baru memulainya. Jadi cici minta kepada Xie untuk berdiam di rumah saja pada waktu malam hari, hanya sementara. " nasihat-Nya.


Tak ada sahutan dari Xie.


" kamu memerhatikan apa yang aku anjurkan daritadi 'kan? " tegur Mey.


" Aku tidak terlalu mementingkan tentang hal itu. " ringkasnya menjawab.


Sontak saja ujarnya membuat Mey kesal dan marah, spontan memukul bahu Xie dengan kekuatan cukup kencang sembari berkata.


" Kau benar-benar! "


" Akh! " rintih Xie seketika.


" Tidak memedulikan dirimu sendiri aku yang menderita! Bagaimana prinsip hidupmu sebenarnya, kenapa tidak langsung membunuh-Ku saja hah!? Suka sekali membuat orang sukar. " dongkol Mey mengomel.


" Pang Xie Chu! " teriaknya seraya mengganggu Xie dengan cara menarik kepalanya serta langsung menggeblakkan hingga jatuh berpelukan menutupi wajah Xie.


" tidak bisa ubah cara hidupmu ini hah!? Hah!? " olok-oloknya.


" Argh! Argh berhenti! " pinta Xie agak sebal.


" Ingin berhenti? Lalu mengapa kau tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri hah? Egois sekali... " kata Mey.


Xie berusaha keras melepaskan diri dari cengkraman kakak-Nya hingga alhasil.

__ADS_1


" Gedebuk! Brak! " Xie menabrak vas bunga yang berada di belakangnya sampai pecah.


Sontak mereka terhenti bergerak secara bersamaan. Tanpa diduga tiba-tiba seseorang datang dari lawang pintu, cepat menghampiri Mey juga Xie yang tak lain itu adalah Vanya tiba disana dengan ekspresi wajah terkejut-kejut.


__ADS_2