
" Bahkan tidak ada yang menyuruh siapapun untuk menunggu. Mustahil juga, lagi pula siapa memangnya orang yang anda maksud itu? " lawan Lucky.
" Orang ini benar-benar! Jika saja ada setidaknya satu orang yang mempunyai ilmu setara dengannya di kota ini di bidang biologi, sudah lama pasti aku menendangnya pergi jauh dari sini. " kesal kepala sekolah dalam hati.
" Lucky brengsek! " lanjutnya.
" Hari sudah senja, mustahil mereka semua terutama anda hanya berdiam saja di sekolah tanpa berbuat apa-apa. Waktu termakan banyak sekali, betulkah UAS itu tidak jadi dilaksanakan? " tanya Lucky agak sinis.
Nampak Kepala Sekolah berdesah untuk menghilangkan kekesalan.
" Sulit untuk dipercaya juga olehku. Kami sudah memberikan perlembar kertas ujian untuk setiap siswa. Kau tahu, apa yang terjadi seterusnya? " ujar kepala sekolah.
" siapa menduga ternyata mereka semua sepakat sama sekali tidak mengerjakan sekata pun di kertas itu. Argh... Seperti yang kau bilang, sangat membuang-buang waktu. "
Sontak Kira terperanjat yang daritadi memerhatikan obrolan diantara mereka berdua.
" Otak pemikiran siapa memangnya yang merancangnya? " tanya Lucky lagi.
" Aku tidak tahu. Rupanya orang itu bisa juga berpengaruh besar kepada mereka. Apa yang sebetulnya terjadi menimpa kalian? Bagaimana bisa terjebak bersama di ruangan itu? " tuturnya.
" O-oh... Itu. Kebetulan, saya juga ingin sekali jalan mengatakan bahwa ada sesuatu tragedi yang lumayan cukup mengerikan menjatuhi siswi ini. Batalnya kegiatan UAS ini terjadi di sekolah ini tentu jelas, bukanlah salah kami, justru Bapaklah yang sepenuhnya bersalah dalam peristiwa ini. " sosor Lucky.
__ADS_1
Keruan saja ia terkejut-kejut setelah mendengar ujaran yang dilontarkan Guru tersebut.
" Apa?! Tunggu, apa maksudmu! " agak murka.
" Pak Kepala, seharusnya hal seperti ini wajib diketahui oleh anda. Siapa yang mengurus semua murid ini sebenarnya? Kami para guru kecil hanya bisa melakukan mengikuti apa yang sudah tertulis di peraturan dasar sekolah di kota ini, dan menurutku itu juga sama sekali kurang penting untuk diterapkan. " sembur Lucky memojokkan.
" Pak Lucky! " bentak Kepala Sekolah itu langsung berdiri seraya menghentakkan kedua tangan ke atas meja.
Nampak tubuh Kira berkedut seketika sebab terkejut yang datang mendabak dari amarahnya tersebut.
Lucky juga ikut menyosor dengan suara tinggi terhadap Kepala Sekolah.
" Pak Lucky! " seru seseorang dari arah belakang.
Serentak mereka bertiga pun menoleh.
" Mey? " Lucky agak bingung.
" Permisi Pak Kepala. Mohon maaf sekali, bukan maksud saya berikut campur serta lancang masuk begitu saja, tapi saya meminta izin ingin berbicara dengan pak Lucky. Perihal ini sangat genting, benar-benar mohon maaf tolong. " tutur Mey berdiri menundukkan kepala di hadapan mereka.
Kepala Sekolah itu tak menyahut langsung, tapi pada akhirnya,
__ADS_1
" Tidak ada gunanya juga saya berinteraksi dengannya. Saya sama sekali tidak mempedulikannya. " rasa sebal tinggi kepala sekolah sembari berdiri dari kursi, lalu pergi keluar.
......................
" Apa ini pak Lucky, mengapa kau bertingkah begitu kepadanya? Akan menjadi bencana jika aku tadi tidak menyelangmu kau tahu? " geram Mey.
" Tidak akan ada terjadi apapun jika aku melanjutkannya pun. " sangkal Lucky.
" Berhentilah bersikap bodoh, pulang dan pikirkan baik-baik. Jika perlu, obati cara otakmu itu bekerja. Argh... Kau benar-benar menjengkelkan Lucky. " sebalnya.
" Apa sekarang? Sudah usai? Yang lainnya juga? " tanya Lucky.
" Tidak tahu sepertinya memang begitu. Kita tenangkan pikiran kita masing-masing, tunggulah untuk informasi selanjutnya yang akan datang. " pungkas Mey, kemudian pergi.
Lucky nampak tertegun di tempat seraya menatap terus terhadap Mey yang tengah berjalan menjauh membelakanginya.
" Pak Lucky. " panggil seseorang di balik tubuh lelaki itu.
Spontan ia pun menengok.
" Silence? " kejut Lucky.
__ADS_1